Kim Jong Un Pecat Wakil PM Saat Sidak Pabrik
JAKARTA – Langkah tegas kembali ditunjukkan Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un dalam mengawasi jalannya kebijakan ekonomi negaranya. Saat melakukan inspeksi langsung ke sebuah kompleks mesin industri, Kim secara terbuka menyampaikan kemarahannya terhadap kinerja pejabat ekonomi yang dinilai gagal mendorong kemajuan sektor industri strategis. Insiden tersebut berujung pada pemecatan langsung seorang pejabat tinggi kabinet.
Peristiwa itu terjadi ketika Kim Jong Un menghadiri peresmian Kompleks Mesin Ryongsong, salah satu fasilitas industri penting yang diharapkan menjadi tulang punggung modernisasi sektor manufaktur Korea Utara. Namun, alih-alih memuji capaian proyek, Kim justru menilai bahwa perkembangan pabrik tersebut tidak sesuai dengan target yang telah ditetapkan pemerintah.
“Karena para pejabat pengarah ekonomi yang tidak bertanggung jawab, kasar, dan tidak kompeten, proyek modernisasi tahap pertama Kompleks Mesin Ryongsong mengalami kesulitan,” kata Kim.
Dalam laporan media pemerintah KCNA yang dikutip AFP pada Selasa (20/01/2026), Kim menyebut kegagalan tersebut sebagai cerminan lemahnya kepemimpinan dan buruknya manajemen kebijakan ekonomi. Ia menilai sejumlah pejabat terlalu lama terjebak dalam pola kerja lama yang tidak lagi relevan dengan tuntutan pembangunan industri modern.
Dia juga mengecam para anggota yang “terlalu lama terbiasa dengan sikap pesimis, tidak bertanggung jawab, dan pasif”.
Kemarahan Kim tidak berhenti pada kritik verbal. Di hadapan para pejabat yang hadir, ia secara langsung mencopot Wakil Perdana Menteri Kabinet Yang Sung Ho dari jabatannya. Keputusan itu disebut sebagai bentuk tanggung jawab politik atas stagnasi proyek industri yang dianggap krusial bagi perekonomian nasional.
Kim menyebut Yang Sung Ho “tidak layak dipercayakan dengan tugas-tugas berat,” kata Kim.
Dalam pernyataannya, Kim menggunakan perumpamaan tajam untuk menggambarkan kesalahan dalam penunjukan pejabat. Ia menilai bahwa penempatan Yang Sung Ho dalam posisi strategis merupakan kekeliruan serius dalam sistem kaderisasi partai.
“Sederhananya, itu seperti memasangkan gerobak pada kambing — kesalahan yang tidak disengaja dalam proses penunjukan kader kita,” jelas pemimpin Korea Utara itu.
“Lagipula, yang menarik gerobak adalah lembu, bukan kambing,” lanjutnya.
Kim juga mengingatkan bahwa para perancang kebijakan ekonomi saat ini dinilai belum memiliki kapasitas memadai untuk memimpin restrukturisasi industri nasional secara menyeluruh. Ia menyebut mereka “hampir tidak mampu membimbing upaya penyesuaian kembali industri negara secara keseluruhan dan peningkatan teknologinya”.
Inspeksi ini berlangsung di tengah persiapan Korea Utara menjelang kongres pertama partai penguasa dalam lima tahun terakhir. Sejumlah analis menilai, kongres tersebut akan menjadi momentum penting bagi Kim Jong Un untuk menegaskan kembali disiplin internal dan arah kebijakan ekonomi negara.
Sebelumnya, pada pertemuan besar para petinggi Pyongyang bulan lalu, Kim juga menyampaikan komitmennya untuk memberantas berbagai bentuk “kejahatan” di kalangan pejabat negara. Istilah tersebut kerap digunakan media pemerintah sebagai rujukan atas pelanggaran disiplin dan praktik korupsi. Meski tanpa rincian spesifik, partai penguasa disebut telah menemukan berbagai “penyimpangan” baru-baru ini.
Langkah keras Kim Jong Un ini kembali menegaskan gaya kepemimpinannya yang menuntut loyalitas, disiplin, dan hasil nyata, terutama dalam sektor ekonomi yang menjadi kunci ketahanan negara di tengah tekanan internasional. []
Siti Sholehah.
