Kukar Tertimpa Bencana, Jalur Utama Putus Karena Longsor

Badan jalan yang longsor di Bakungan.
Badan jalan yang longsor di Bakungan.

KUTAI KARTANEGARA – Poros Jalan Gerbang Dayaku, yang menghubungkan Loa Janan ke Tenggarong, di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), Kalimantan Timur (Kaltim) terputus sejak Rabu (15/7/2015) sore, sekitar pukul 14.30 Wita. Putusnya jalur darat terdekat menuju Tenggarong dari Samarinda dan Balikpapan tersebut setelah salah satu titik badan jalan di poros jalan nasional itu longsor. Badan jalan berubah menjadi teluk.

Lokasi tepatnya badan jalan yang longsor tersebut di Dusun 4 RT 13, Desa Bakungan, Kecamatan Loa Janan, tak jauh dari konveyor perusahaan batu bara PT Anugerah Bara Kaltim (ABK) dan PT Rinjani Kartanegara. Sementara badan jalan yang longsor panjangnya sekitar 75 meter.

Menurut informasi Bintara Pembina Desa (Babinsa) Bangkungan, Delhadi, satu unit kendaraan bermotor turut terjerembab di badan jalan yang losor. Meski pengendaranya, Musani, tak mengalami cidera, namun korban sempat shock. Terlebih, motor yang ia kendarai, Yamaha Jupiter Z nomor polisi KT 2212 IW yang kebetulan melintas saat longsoran terjadi, sampai sekarang belum diketemukan, turut hilang bersama badan jalan di Sungai Mahakam. Menurut Delhadi, Musani sempat dibawa ke kantor polisi untuk dimintai keterangannya.

Putusnya jalur utama penghubung sejumlah kota di Kaltim tersebut tentu saja membuat lalu lintas menjadi padat nyaris tak terkendali. Kemacetan pun terjadi berjam-jam. Di lokasi tersebut, untung saja terdapat jalur alternatif sepanjang sekitar 2 kilo meter, sehingga mengurangi beban kemacetan. Sisanya, ada yang putar arah, menempuh jalur lain.

“Jalur alternatif itu lewat Pasar Bakungan, melalui jalur hauling PT ABK dan tembus di Ulaq Nanga. Motor dan mobil bisa lewat situ. Warga di sini (Bakungan, red) biasa menggunakannya. Kalau ada pengguna jalan ada yang mau lewat situ, warga di sini bersedia membantu menunjukkan jalannya,” kata Adi, warga Bakungan kepada Beritaborneo.com.

Mastukah saat memimpin rapat koordinasi darurat.
Mastukah saat memimpin rapat koordinasi darurat.

Seperti diketahui pengguna kendaraan bermotor, poros Jalan Gerbang Dayaku ini adalah jalur darat penghubung dari Loa Janan sejumlah daerah di Kukar dan Kutai Barat (Kubar), seperti Tenggarong, Kota Bangun di Kukar dan Resak, Barong Tongkok dan Melak di Kubar. Sehari-harinya, jalur provinsi ini menjadi akses utama bagi kendaraan-kendaraan bertonase besar yang mengakut. “Tapi kalau trailer atau dump truck akan kesulitan lewat jalan alternatif ini, karena sempit,” tambah Adi.

Atas kejadian itu, pihak kepolisian setempat tampak memberi garis polisi di sekitar lokasi longsoran. Dari arah Loa Janan, tepatnya di Simpang Tiga Patung Dayak, Loa Janan Ilir dan dari arah Tenggarong, tepatnya di Pal 5, dipasang barikade dan pemberitahuan bahwa poros Jalan Gerbang Dayaku putus.

Rudiansyah saat meninjau badan jalan yang longsor.
Rudiansyah saat meninjau badan jalan yang longsor.

Sementara sejumlah pejabat setempat yang sempat menginspeksi longsoran jalan adalah Camat Loa Janan, Mastukah dan Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kukar, Rudiansyah. Selain meninjau, mereka turut memikirkan jalan keluar atas runtuhnya jalur utama penghubung Tenggarong ini.

Mastukah bahkan sempat menggelar rapat koordinasi darurat di lokasi kejadian untuk mencari solusi. Rapat tersebut melibatkan Kepala Desa Bakungan, Kepolisian Sektor Loa Janan, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kukar dan pihak Perusahaan PT ABK membahas jalan alternatif.

Pada kesempatan itu, Mastukah menginstruksikan kepada pihak terkait untuk bekerja sama dalam mencari solusi yang terbaik. “Jalan alternatif yang akan dilalui kendaraan dari arah Loa Janan menuju Tenggarong adalah jalan poros Dusun Jahu tembus Pasar Baru Desa Bakungan,” papar Mastukah.

BUTUH DUIT DARURAT BENCANA

Karena kondisi jalan alternatif tersebut sempit, Mastukah meminta kepada PT ABK bekerja sama langsung melakukan pelebaran jalan tersebut untuk kelancaran arus lalu lintas. Mastukah juga meminta pihak Kepolisian langsung memasang rambu-rambu lalu lintas agar pengguna jalan bisa tahu arah Pasar Baru Desa Bakungan, terlebih lagi bagi pengguna jalan belum tahu sama sekali jalan alternatif tersebut.

Kamis (16/7) besok, direncanakan sejumlah pejabat terkait dari Provinsi Kaltim dan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kukar, dikabarkan bakal datang ke lokasi untuk meninjau sekaligus menggelar rapat bersama membahas bencana itu di Kantor Desa Bakungan.

“Sekitar jam 10, Kamis besok, Penjabat Bupati Kukar, Chairul Anwar dan Ketua DPRD Kukar, Salehudin, dijadwalkan meninjau lokasi,” ungkap Irwan, staf Bagian Humas dan Protokol, Sekretariat Kabupaten (Setkab) Kukar.

Sementara Kepala BPBD Kukar, Darmansyah mengatakan, untuk mengatasi bencana longsor di badan jalan vital ini, pihaknya akan mengusulkan dana darurat bencana ke Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kaltim. Dan sejak terjadinya longsor hingga tujuh hari ke depan, BPBD Kukar menetapkan status tanggap darurat.

Sementara ini, ia meminta warga untuk menggunakan jalur alternatif. “Kami menetapkan status tanggap darurat selama 7 hari atas kondisi jalan putus di Bakungan,” kata Darmansyah, Kepala BPBD Kukar kepada wartawan.

Secara terpisah, Kepala Seksi (Kasi) Peningkatan Jalan, Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air (DBMSDA) Kukar, Budi Harsono mengatakan, akses jalan yang putus tersebut merupakan jalan nasional, pembangunan dan pemeliharaannya dibiayai dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Pihaknya sudah berkoordinasi dengan Dinas Pekerjaan Umum (PU) Provinsi Kaltim terkait penanganan akses jalan yang putus tersebut. “Akses jalan putus masih jalan nasional. Jalan Loa Janan sampai ke Kota Bangun masih jalan nasional. Kami sudah melakukan koordinasi dengan pihak provinsi,” kata Budi kepada wartawan.

Dinas PU sudah mencarikan jalan alternatif bagi pengguna jalan dengan melewati Ulaq Nanga, Loa Janan ke Jahuq, Loa Duri yang tembus ke Bakungan. “Pihak Dishub akan mengatur arus kendaraan yang melewati jalan alternatif ini secara bergantian. Jalan alternatif ini sudah disemenisasi dan bisa dilewati mobil,” tuturnya.

RAWAN LONGSOR

Jalur di tepi Sungai Mahakam ini, menurut aktivis dari Lembaga Advokasi Lingkungan (Ladink), Saiful, memang merupakan jalur rawan longsor. “Jalur ini memang rawan longsor. Karena tak jauh dari longsoran badan jalan ini, tepatnya di konveyor PT ABK, itu dulunya juga longsor, badan jalannya amblas ke sungai,” kata Saiful.

Di lokasi lainnya, longsoran jalan juga pernah terjadi di titik Kuburan Muslimin Loa Janan Ulu, Gunung Loa Duri dan di tikungan Loa Kulu Kota. “Selain karena kontur tanah, longsoran terjadi karena bagian ground badan jalan yang mengeropos, terjadi abrasi,” kata dia, di Tenggarong, Rabu (15/7) petang.

Jalan Gerbang Dayaku, menurut dia, dari Loa Janan ke Tenggarong berada di tepi Sungai Mahakam. Karena itu, badan jalan mudah terkikis dan terjadi longsor. “Penyebabnya beragam, tetapi yang paling utama karena drainase yang tidak baik,” ungkap Saiful.

Dulunya, sebagian besar tepi Sungai Mahakam ini adalah rawa-rawa, daerah resapan air. Selain itu, habisnya resapan air di daratan akibat pembukaan lahan, di antaranya untuk tambang batu bara. “Resapan air tidak ada dan drainase yang tidak tertata baik menyebabkan air dari daratan mengalir di bawah badan jalan. Sehingga badan jalan jadi keropos,” katanya.

Diduga, saat ini badan jalan di poros Loa Janan-Tenggarong, banyak titik yang rawan longsor akibat drainase yang tidak dibuat. “Pemerintah hanya memikirkan peningkatan badan jalan, semenisasi, tetapi terkait pengairan dari darat menuju sungai, tidak dibuat,” kata Saiful.

Perusahaan tambang yang konveyor dan operasionalnya ada crossing dengan badan jalan umum, lanjut dia, semestinya turut memikirkan dan mengantisipasi sejak jauh hari. “Di antaranya dengan membuat kawasan-kawasan resapan air baru, pengganti kawasan hutan yang digunduli. Sehingga air dari darat menuju sungai tidak begitu deras dan mengikis tanah di bawah badan jalan,” saran Saiful.

JALUR KONVEYOR

Sementara Dinamisator Jaringan Tambang (Jatam) Kaltim, Merah Johansyah mengungkapkan, sepanjang jalan dari Loa Janan ke Tenggarong, terdapat 15 conveyor yang menyeberang badan jalan. Dan keberadaan sabuk pengangkut batubara dari tempat penampungan batu bara ke tongkang itu, adalah salah satu penyebab mengapa badan jalan Gerbang Raja rawan longsor.

“Posisi conveyor atau alat untuk memindahkan batu bara dari stock pile ke kapal tongkang sangat dekat dengan badan jalan tersebut. Selain itu, aktivitas sandar kapal tongkang tentunya mempengaruhi ketahanan tanah yang menjadi pendukung badan jalan. Apalagi berdasarkan pengamatan saya, sisi jalan di sungai tidak dibuat turap sehingga bisa saja mempengaruhi daya tahan badan jalan,” papar Merah.

Aktivis advokasi persoalan tambang ini mempertanyakan, apakah sudah menjadi salah satu pertimbangan kontraktor ketika membangun jalan tersebut? Keberadaan aktivitas tambang di sekitar fasilitas publik khususnya conceyor di dekat badan jalan, kata Merah, harus mendapat perhatian serius.

Pasalnya kata dia, sepanjang jalan dari Desa Bakungan hingga Tenggarong kata dia, ada sekitar 15 conveyor di posisi dekat badan jalan. “Makanya julukan Desa Bakungan itu Desa conveyor. Kantor Kepala Desa Bakungan saja di bawah conveyor itu,” katanya.

Keberadaan jalan ini kata dia, harus segera mendapatkan penanganan serius dari pemerintah. Keberadaan jalan ini, sangat vital karena selain menjadi salah satu sarana angkutan warga sehari- sehari, jalan ini juga menjadi piilihan terbaik warga jika ingin ke bandara Sultan Aji Muhammad Sulaiman di Balikpapan. “Kalau warga mau ke bandara harus lewat jalan itu. Warga nggak mau naik kapal feri,” katanya. [] Kim/DS/KBN/TBK

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *