KDMP di Gunung Masigit Disorot, Pengunjung Nilai Lokasinya Kurang Strategis
KABUPATEN BANDUNG BARAT – Lokasi pembangunan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) di Desa Gunung Masigit, Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat (KBB), menuai sorotan karena dinilai kurang strategis untuk melayani kebutuhan masyarakat. Bangunan koperasi berdiri di kawasan perbukitan Karst Citatah, berdekatan dengan objek wisata Stone Garden, sehingga memunculkan pertanyaan mengenai kemudahan akses, potensi pemanfaatan, hingga dampaknya terhadap kawasan wisata.
Berdasarkan pantauan di lokasi, Minggu (05/07/2026), bangunan KDMP berada di bawah Gunung Masigit dan berhadapan langsung dengan Stone Garden di Pasir Pawon. Posisinya cukup jauh dari permukiman warga sehingga dinilai menyulitkan masyarakat yang hendak memanfaatkan layanan koperasi.
Sejumlah pengunjung wisata menilai lokasi tersebut kurang tepat karena berada di jalur menuju kawasan wisata yang telah dipenuhi warung milik warga. Mereka khawatir keberadaan koperasi justru berpotensi memengaruhi aktivitas usaha mikro yang selama ini melayani kebutuhan pengunjung.
“Janggal,” kata Fahrul (30), pengunjung asal Kota Cimahi.
Ia mempertanyakan konsep pelayanan koperasi yang dibangun di kawasan perbukitan.
“Siapa yang mau beli naik ke atas,” ucapnya.
Menurut Fahrul, masyarakat kemungkinan lebih memilih berbelanja di minimarket yang berada di kawasan bawah dibandingkan harus menuju lokasi koperasi.
“Malah ngerugiin warung (kalau ada koperasi),” ujar Fahrul.
Selain persoalan lokasi, akses menuju koperasi juga menjadi perhatian karena menggunakan jalur yang sama dengan pintu masuk Stone Garden. Kondisi tersebut berpotensi membuat masyarakat yang hanya ingin berbelanja tetap harus melewati pos masuk kawasan wisata beserta biaya tiket dan parkir.
Pengunjung lain juga menilai keberadaan bangunan koperasi memengaruhi panorama alam Gunung Masigit yang selama ini menjadi daya tarik utama Stone Garden.
“Agak terganggu foto-foto,” ucap Fahrul.
Senada dengan itu, Hani (21), pengunjung asal Darangdan, Kabupaten Purwakarta, mempertanyakan alasan pemilihan lokasi pembangunan koperasi.
“Tempat enggak strategis, kenapa di sini,” tuturnya.
Rizal (17), pengunjung asal Lembang, KBB, juga mengaku heran melihat posisi bangunan koperasi yang berada di kawasan perbukitan.
“Saha nu meserna (Siapa yang mau beli di koperasi),” ucapnya.
Menurut Rizal, koperasi seharusnya dibangun di lokasi yang lebih terbuka dan mudah dijangkau masyarakat.
Upaya meminta tanggapan kepada Kepala Desa (Kades) Gunung Masigit, Tarkopa, belum membuahkan hasil. Saat didatangi, kantor desa dalam keadaan tutup, sedangkan Tarkopa disebut sedang mengikuti manasik. Konfirmasi kepada Sekretaris Desa (Sekdes) Gunung Masigit, Wira, juga belum berhasil karena yang bersangkutan sedang berada di luar daerah.
Sorotan terhadap pembangunan KDMP di KBB bukan kali pertama terjadi. Sebelumnya, pembangunan koperasi serupa di Desa Sukaresmi, Kecamatan Rongga, mendapat perhatian karena berdiri di atas lahan yang sebelumnya digunakan sebagai lapangan olahraga desa.
Guru Madrasah Ibtidaiyah (MI) Cibitung, Elya Karlianih, mengatakan lapangan tersebut sebelumnya dimanfaatkan siswa untuk berbagai aktivitas olahraga maupun kegiatan masyarakat.
“Ketika mau praktik di lapangan, materi di kelas,” kata Elya, sebagaimana diberitakan Pikiran Rakyat, Minggu (05/07/2026).
Menurut Elya, sebelum dialihfungsikan, lapangan tersebut digunakan untuk kegiatan lari, sepak bola, senam, upacara peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia, serta berbagai kegiatan olahraga tingkat desa. Ke depan, berbagai masukan dari masyarakat diharapkan menjadi bahan evaluasi agar pembangunan KDMP benar-benar mempertimbangkan aspek aksesibilitas, kebutuhan warga, serta keberlanjutan lingkungan dan aktivitas ekonomi lokal. []
Redaksi01
