Macron Nilai Serangan AS-Israel Tak Cukup Ganti Rezim Iran
JAKARTA – Presiden Emmanuel Macron menyatakan bahwa perubahan besar dalam sistem pemerintahan di Iran tidak dapat dicapai hanya melalui serangan militer yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan Israel. Ia menilai strategi bombardir semata tidak cukup untuk mengganti rezim atau membawa perubahan signifikan pada struktur politik suatu negara.
Pernyataan tersebut disampaikan Macron saat berada di atas kapal induk milik Prancis, Charles de Gaulle aircraft carrier, yang saat ini beroperasi di wilayah Laut Mediterania. Kapal tersebut dikerahkan setelah konflik di kawasan Timur Tengah meningkat menyusul serangan militer terhadap Iran pada akhir Februari lalu.
“Saya rasa Anda tidak dapat mencapai perubahan rezim yang besar atau perubahan dalam sistem politik hanya dengan bombardir,” kata Macron di atas kapal induk Charles de Gaulle milik Prancis yang saat ini berada di perairan Mediterania pada hari Senin (09/03/2026) waktu setempat.
Menurut Macron, konflik yang terjadi di Timur Tengah saat ini berpotensi berlangsung cukup lama. Ia memperkirakan fase intens dari perang yang dipicu oleh serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran dapat berlanjut dalam waktu beberapa hari hingga beberapa minggu.
Perang yang dipicu oleh serangan AS-Israel terhadap Iran, “dalam fase intens ini, dapat berlangsung “beberapa hari, mungkin beberapa minggu,” kata Macron.
Situasi keamanan di kawasan tersebut juga berdampak pada jalur perdagangan internasional, terutama di wilayah perairan Teluk. Salah satu titik strategis yang menjadi perhatian adalah Selat Hormuz, jalur pelayaran penting yang selama ini menjadi rute utama pengiriman minyak mentah dunia.
Macron mengungkapkan bahwa pemerintah Prancis bersama sejumlah negara sekutu tengah mempersiapkan misi pertahanan untuk memastikan keamanan jalur pelayaran di kawasan tersebut. Misi itu bertujuan mengawal kapal-kapal komersial agar aktivitas pelayaran dapat kembali berjalan normal.
Sebelumnya, Macron juga menyampaikan bahwa misi tersebut difokuskan untuk mengawal kapal kontainer dan tanker yang melintasi Selat Hormuz. Upaya ini diharapkan dapat membuka kembali jalur perdagangan yang sempat terganggu akibat meningkatnya ketegangan militer di kawasan.
“Ini penting untuk perdagangan internasional, tetapi juga untuk aliran gas dan minyak, yang harus dapat meninggalkan wilayah ini kembali,” kata Macron saat melakukan kunjungan ke Siprus untuk membahas situasi keamanan regional.
Dalam kunjungan tersebut, Macron bertemu dengan Presiden Siprus Nikos Christodoulides serta Perdana Menteri Yunani Kyriakos Mitsotakis. Pertemuan tersebut membahas upaya menjaga stabilitas keamanan serta perlindungan terhadap jalur perdagangan internasional.
Macron menegaskan bahwa misi yang direncanakan bersifat defensif dan difokuskan pada perlindungan aktivitas pelayaran. Ia juga menyebut bahwa operasi tersebut akan melibatkan negara-negara dari kawasan Eropa maupun mitra internasional lainnya.
“misi yang murni defensif, murni dukungan” akan dibentuk oleh negara-negara Eropa dan non-Eropa.
Di sisi lain, Uni Eropa menyatakan kesiapan untuk meningkatkan operasi maritimnya guna menjaga keamanan lalu lintas pelayaran di Timur Tengah. Organisasi tersebut tengah mempertimbangkan penguatan misi angkatan lautnya di kawasan Laut Merah.
Sejak konflik pecah pada 28 Februari lalu, aktivitas pelayaran di Selat Hormuz dilaporkan hampir terhenti. Padahal, jalur laut tersebut merupakan salah satu rute paling vital bagi distribusi energi global karena dilalui sekitar seperlima pasokan minyak mentah dunia.
Situasi ini memicu kekhawatiran berbagai negara karena gangguan pada jalur tersebut berpotensi memengaruhi stabilitas pasokan energi serta perdagangan internasional secara luas. []
Siti Sholehah.
