Wilayah Udara Tertutup, Rusia Evakuasi Ribuan Turis dari Timur Tengah
MOSKOW – Krisis yang terjadi di kawasan Timur Tengah memicu gangguan besar pada lalu lintas penerbangan internasional yang melibatkan Rusia. Penutupan wilayah udara oleh sejumlah negara menyebabkan ratusan penerbangan yang berkaitan dengan Rusia terancam batal dan ribuan warga negara Rusia mengalami kesulitan untuk kembali ke tanah air.
Situasi tersebut dilaporkan dalam pembaruan berita Rusia yang dirilis media vesti.ru pada Senin (09/03/2026). Ketegangan geopolitik di Timur Tengah membuat sejumlah negara mengambil langkah pengamanan dengan menutup wilayah udara mereka bagi penerbangan tertentu. Dampaknya langsung terasa pada sektor transportasi udara internasional, terutama bagi maskapai yang melayani rute menuju atau dari Rusia.
Menteri Pembangunan Ekonomi Rusia, Maksim Reshetnikov, menyebutkan bahwa kebijakan penutupan wilayah udara oleh beberapa negara telah memengaruhi ratusan penerbangan dan ribuan penumpang.
“Pada 28 Februari 2026, sedikitnya sepuluh negara menutup wilayah udaranya, sehingga lebih dari 250 penerbangan yang terkait dengan Rusia terdampak,” ujarnya dalam pernyataan resmi pemerintah rusia.
Penutupan wilayah udara tersebut terutama berdampak pada jalur transit penerbangan yang biasanya melewati sejumlah bandara di Asia dan Afrika. Akibat pembatalan penerbangan internasional itu, sekitar 6.000 hingga 8.000 warga Rusia dilaporkan tidak dapat melanjutkan perjalanan pulang.
Kementerian Perhubungan Rusia mencatat bahwa pemerintah telah melakukan upaya besar untuk memulangkan warganya. Dalam periode 2 hingga 8 Maret 2026, lebih dari 45.000 orang berhasil dipulangkan melalui berbagai operasi penerbangan khusus. Namun, proses evakuasi masih terus berlangsung untuk membantu ribuan warga lainnya yang masih tertahan di luar negeri.
Sebagian besar turis Rusia diketahui berada di Uni Emirat Arab (UEA) saat krisis mulai terjadi. Dari sekitar 23.000 turis terorganisir, lebih dari 90 persen berada di negara tersebut. Karena itu, UEA kini menjadi pusat utama operasi pemulangan warga Rusia.
Pemerintah Rusia menjadwalkan 33 penerbangan evakuasi dari UEA, sementara dua penerbangan lainnya direncanakan berangkat dari Qatar dan Oman.
Untuk mengatasi hambatan perjalanan udara tersebut, otoritas penerbangan Rusia Rosaviatsia terus melakukan koordinasi dengan otoritas penerbangan di sejumlah negara Timur Tengah guna membuka rute alternatif bagi maskapai Rusia.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia, Maria Zakharova, juga memberikan gambaran mengenai jumlah warga Rusia yang berada di kawasan Timur Tengah saat krisis terjadi.
“diperkirakan sekitar 50 ribu warga Rusia berada di negara-negara Timur Tengah. Dari jumlah ini, sekitar 6–8 ribu orang mengalami kesulitan kembali ke tanah air akibat penghentian sementara penerbangan transit di Asia dan Afrika,” ujarnya Senin (09/03/2026).
Pemerintah Rusia menyatakan bahwa operasi pemulangan warga negara akan terus dilanjutkan hingga pertengahan Maret 2026. Langkah ini dilakukan untuk memastikan seluruh warga Rusia yang terdampak penutupan wilayah udara dapat kembali ke negaranya dengan aman.
Krisis tersebut juga menjadi contoh nyata bagaimana konflik geopolitik di suatu kawasan dapat memberikan dampak luas terhadap sektor transportasi global, khususnya penerbangan internasional. []
Penulis: Amy Maulana | Penyunting: Aulia Setyaningrum
