Okupansi Hotel Magelang Hari Kerja Baru 40 Persen

MAGELANG – Tingkat hunian hotel di Kota Magelang, Jawa Tengah, masih menghadapi kesenjangan antara hari kerja dan akhir pekan meski aktivitas perhotelan mulai bergerak setelah pandemi Covid-19. Okupansi pada Senin hingga Kamis rata-rata baru sekitar 40 persen, sedangkan pada Jumat hingga Minggu dapat mencapai 60-70 persen.

Ketua Badan Pimpinan Cabang (BPC) Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kota Magelang, Edi Hamdani, mengatakan perbedaan tingkat hunian tersebut menunjukkan pemulihan industri perhotelan belum berlangsung merata.

“Kalau mpasca Covid-19 dikatakan membaik, ya belum. Tetapi pelan-pelan mulai bangkit,” kata Edi saat ditemui di kantornya, Jumat (25/09/2026), sebagaimana diberitakan Magelangbisnis, Jumat (25/09/2026).

Menurut Edi, tingkat okupansi yang lebih tinggi pada akhir pekan berkaitan dengan mulai pulihnya mobilitas masyarakat dan aktivitas wisata. Namun, kondisi tersebut belum cukup untuk membawa bisnis perhotelan kembali ke tingkat sebelum pandemi.

“Untuk kembali seperti sebelum Covid-19 itu berat sekali,” ujarnya.

Edi menilai sejumlah karakteristik Kota Magelang dapat menjadi modal untuk memperkuat sektor hospitality. Biaya hidup yang relatif terjangkau, udara sejuk, serta kedekatan dengan Yogyakarta menjadi beberapa faktor yang dapat menarik wisatawan untuk memilih Magelang sebagai lokasi menginap.

Kepadatan dan kemacetan di Yogyakarta juga dinilai membuka peluang bagi hotel di Magelang. Sebagian wisatawan dapat menjadikan kota tersebut sebagai alternatif tempat bermalam ketika melakukan perjalanan ke kawasan Yogyakarta dan sekitarnya.

Di sisi lain, daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih masih menjadi tantangan bagi industri perhotelan. Kondisi lapangan pekerjaan yang dinilai belum kembali seperti sebelum pandemi turut memengaruhi aktivitas ekonomi dan permintaan terhadap layanan akomodasi.

Edi yang merupakan pemilik Hotel Wisata memperkirakan industri perhotelan membutuhkan waktu sekitar tiga hingga empat tahun untuk mendekati kondisi sebelum pandemi. Meski demikian, munculnya investasi baru dan penambahan kamar di sejumlah hotel menjadi indikasi masih adanya kepercayaan terhadap prospek bisnis di Magelang.

“Tidak mungkin investor menanamkan modal tanpa perhitungan. Berarti mereka melihat Kota Magelang punya potensi,” katanya.

Selain wisata, kegiatan institusi dan berbagai acara menjadi salah satu sumber permintaan kamar hotel. Aktivitas Akademi Militer (Akmil), SMA Taruna Nusantara, kegiatan olahraga, wisuda jurit, pelantikan, hingga penerimaan prajurit karier disebut mampu meningkatkan okupansi hingga sekitar 70 persen.

Potensi tersebut dinilai dapat semakin berkembang apabila konsep sport tourism yang didorong Pemerintah Kota (Pemkot) Magelang berjalan lebih luas. Kawasan olahraga seperti GOR Sanden diharapkan tidak hanya menjadi lokasi kegiatan olahraga, tetapi juga terhubung dengan sektor kuliner dan pariwisata.

General Manager (GM) Grand Artos Hotel & Convention Magelang, Sugeng Sugiantoro, yang juga merupakan anggota PHRI Kota Magelang, turut melihat adanya peningkatan aktivitas perhotelan setelah pandemi. Namun, pertumbuhan tersebut belum mencapai tingkat yang diharapkan.

“Artinya, geliat hospitality Magelang sudah terlihat, tetapi pemulihan industri ini masih membutuhkan waktu,” ungkap Sugeng di sela acara Media Gathering di Maple Padel, Selasa, 22 September 2026 lalu.

Dengan kondisi tersebut, penguatan agenda wisata, olahraga, dan berbagai kegiatan berskala daerah maupun nasional dinilai dapat menjadi salah satu sumber permintaan bagi hotel di Magelang. Upaya tersebut diharapkan membantu mengurangi kesenjangan okupansi antara hari kerja dan akhir pekan sekaligus mempercepat pemulihan industri perhotelan. []

Redaksi01

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *