Pasar Rumah Mulai Pulih, Hunian Siap Huni Makin Dicari

JAKARTA – Pasar properti residensial Indonesia mulai menunjukkan perbaikan pada 2026, tetapi pemulihan tersebut berlangsung tidak seragam. Penjualan rumah baru membaik pada kuartal II, sementara pasar rumah bekas justru menunjukkan aktivitas yang lebih selektif dengan meningkatnya minat terhadap hunian yang siap ditempati.

Berdasarkan Survei Harga Properti Residensial (SHPR) Bank Indonesia (BI), penjualan rumah primer pada kuartal I-2026 masih terkontraksi 25,67 persen secara tahunan. Memasuki kuartal II-2026, kontraksi menyempit menjadi 2,36 persen secara tahunan.

Pengamat properti dari Colliers, Aleviery Akbar, mengatakan perbaikan tersebut menunjukkan pasar rumah baru mulai bergerak menuju pemulihan, meski belum sepenuhnya kembali ke kondisi yang lebih kuat.

“Rumah baru dari developer di Indonesia pada 2026, data terbaru Bank Indonesia sampai Triwulan II 2026 menunjukkan pasarnya membaik cukup signifikan dibanding awal tahun, tetapi belum sepenuhnya pulih. Q1 2026 penjualan rumah primary turun 25,67% yoy, sedangkan Q2 2026 kontraksinya mengecil menjadi hanya 2,36% yoy,” kata Aleviery sebagaimana diberitakan Cnbc Indonesia, Senin, (28/09/2026).

Perbaikan tersebut juga berbeda berdasarkan tipe hunian. Rumah tipe kecil dan tipe besar menjadi segmen yang menopang perbaikan penjualan, sedangkan rumah tipe menengah masih menghadapi keterbatasan permintaan.

“Perbaikan terutama berasal dari rumah tipe kecil dan tipe besar, sedangkan tipe menengah masih terbatas. Jadi volume penjualan mulai pulih, tetapi harga masih relatif flat,” ujarnya.

Pergerakan harga memperlihatkan bahwa pemulihan volume transaksi belum diikuti kenaikan harga yang signifikan. Indeks Harga Properti Residensial (IHPR) BI hanya tumbuh 0,62 persen secara tahunan pada kuartal I-2026, kemudian meningkat tipis menjadi 0,69 persen pada kuartal II-2026.

Pola tersebut menunjukkan konsumen mulai kembali melakukan pembelian, tetapi pasar belum berada dalam kondisi yang mendorong kenaikan harga secara agresif. Pemulihan lebih terlihat dari sisi volume penjualan dibandingkan apresiasi harga.

Dalam tiga tahun terakhir, pasar rumah primer juga bergerak fluktuatif. Penjualan pada kuartal IV-2024 masih terkontraksi 15,09 persen secara tahunan. Kondisi kemudian berbalik dengan pertumbuhan 0,73 persen pada kuartal I-2025, sebelum kembali terkontraksi masing-masing 3,80 persen pada kuartal II dan 1,29 persen pada kuartal III-2025.

“Kalau melihat data tiga tahun terakhir, 2024-2026, tren penjualan rumah baru atau primary di Indonesia cukup jelas: 2024 melemah, 2025 mulai pulih, dan 2026 masih volatil tetapi Q2 menunjukkan pemulihan kuat,” kata Aleviery.

Berbeda dengan rumah baru, pasar rumah sekunder atau rumah bekas memperlihatkan aktivitas yang relatif lebih selektif. Data Rumah123 menunjukkan harga rumah bekas secara nasional masih tumbuh, meski terbatas, sekitar 0,8 persen secara tahunan pada April 2026 dan sekitar 1,1 persen pada Juni 2026.

Perubahan juga terlihat pada sisi persediaan. Data Pinhome menunjukkan inventori rumah sekunder secara nasional meningkat 2,6 persen pada semester I-2026. Di Jakarta, kenaikannya mencapai sekitar 3,6 persen.

Meningkatnya persediaan tersebut berjalan bersamaan dengan perubahan preferensi pencari hunian yang lebih banyak mempertimbangkan rumah siap huni. Kondisi ini membuat transaksi rumah bekas tidak semata-mata didorong oleh harapan kenaikan harga, tetapi juga kebutuhan konsumen terhadap hunian yang dapat segera digunakan.

“Untuk rumah secondary, kondisinya pada 2026 justru terlihat cukup aktif, tetapi sifatnya lebih selektif dibanding sekadar mengejar kenaikan harga. Permintaan terhadap rumah siap huni meningkat, sementara harga masih tumbuh relatif rendah,” ujar Aleviery.

Dengan demikian, dinamika pasar properti residensial pada 2026 menunjukkan pemulihan yang berjalan melalui pola berbeda antara rumah baru dan rumah bekas. Rumah primer mulai mempersempit kontraksi penjualan, sedangkan rumah sekunder mendapat dorongan dari meningkatnya kebutuhan terhadap hunian siap huni, dengan pertumbuhan harga yang masih relatif terbatas. []

Redaksi01

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *