Pengangguran Lulusan S1 Meningkat, Kadin Jatim Minta Industri Bertindak
SURABAYA – Tingkat pengangguran terbuka (TPT) lulusan sarjana di Jawa Timur mencapai 6,04 persen pada Februari 2026, meningkat dari 5,60 persen pada Februari 2025. Menanggapi kondisi tersebut, Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jawa Timur mendorong perusahaan memperluas program pemagangan agar lulusan perguruan tinggi memiliki pengalaman kerja dan keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan industri.
Ketua Umum (Ketum) Kadin Jawa Timur Adik Dwi Putranto menilai keterlibatan dunia usaha menjadi bagian penting dalam mengatasi kesenjangan antara kompetensi lulusan dan kualifikasi yang dibutuhkan perusahaan. Menurut dia, lulusan perguruan tinggi perlu mendapatkan kesempatan untuk mengenal lingkungan kerja secara langsung sebelum memasuki pasar tenaga kerja.
“Ini jadi PR (pekerjaan rumah) kita semua. Pengangguran terbesar sekarang lulusan S1 di Jawa Timur. Angkanya cukup tinggi,” kata Adik di Surabaya, Senin (12/10/2026), sebagaimana dilansir Antara, (12/10/2026).
Data Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Timur melalui Biro Organisasi Jatim menunjukkan bahwa TPT lulusan sarjana terus meningkat dalam tiga tahun terakhir. Pada Februari 2024, angkanya tercatat 4,07 persen, kemudian naik menjadi 5,60 persen pada Februari 2025 dan mencapai 6,04 persen pada Februari 2026.
Kondisi tersebut menjadi perhatian Kadin Jatim karena peningkatan jumlah lulusan perguruan tinggi belum sepenuhnya diikuti kesesuaian kompetensi dengan kebutuhan dunia usaha. Karena itu, perusahaan diharapkan tidak hanya berperan sebagai penyedia lapangan kerja, tetapi juga terlibat dalam menyiapkan calon tenaga kerja melalui pembelajaran langsung di tempat kerja.
Kadin Jatim mengajak Kadin kabupaten dan kota memperluas sosialisasi program pemagangan nasional kepada pelaku usaha. Langkah ini terutama menyasar kawasan industri Surabaya, Pasuruan, Gresik, Sidoarjo, dan Mojokerto yang memiliki aktivitas usaha dan kebutuhan tenaga kerja.
Adik menekankan bahwa program pemagangan perlu dilaksanakan secara terstruktur selama enam bulan dan didukung pendampingan mentor. Dengan pola tersebut, peserta diharapkan dapat memahami proses kerja, meningkatkan keterampilan teknis maupun profesional, serta memperoleh peluang untuk direkrut setelah program berakhir.
“Kami berharap setelah magang, teman-teman industri bisa mempekerjakan mereka,” ujarnya.
Selain membantu lulusan baru mendapatkan pengalaman kerja, pemagangan diharapkan menjadi sarana bagi perusahaan untuk menilai kemampuan calon pekerja sebelum mengambil keputusan perekrutan. Bagi industri, mekanisme ini juga dapat mendukung regenerasi tenaga kerja dan membantu memenuhi kebutuhan sumber daya manusia yang sesuai dengan bidang usaha masing-masing.
Kepala Balai Latihan Kerja (BLK) Sidoarjo Kementerian Ketenagakerjaan Muhammad Aiza Akbar mengatakan program pemagangan nasional terbuka bagi lulusan diploma dan sarjana yang menyelesaikan pendidikan paling lama satu tahun sebelumnya.
Pada 2026, program tersebut menargetkan 150.000 peserta secara nasional, meningkat dibandingkan target 100.000 peserta pada tahun sebelumnya. Peningkatan target ini diharapkan memperluas akses lulusan baru terhadap pengalaman kerja sekaligus memperkuat hubungan antara dunia pendidikan dan industri.
Selama mengikuti program, peserta memperoleh uang saku setara upah minimum kabupaten/kota (UMK) setempat yang dibayarkan melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Peserta juga mendapatkan perlindungan dari Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Ketenagakerjaan.
Perusahaan mitra diwajibkan menyediakan pendampingan agar kegiatan pemagangan memberikan pengalaman yang relevan dengan kebutuhan pekerjaan. Keterlibatan industri secara lebih luas diharapkan dapat membantu menekan pengangguran lulusan perguruan tinggi di Jawa Timur sekaligus meningkatkan kesiapan tenaga kerja dalam menghadapi persaingan di pasar kerja. []
Redaksi01
