Perbankan Lambat Turunkan Bunga Kredit, Ini Penyebabnya
Karyawan menghitung mata uang rupiah di gerai penukaran mata uang asing Ayu Masagung, Kwitang, Jakarta Pusat, Senin (28/1/2019). Nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Senin pagi menguat 60 poin menjadi Rp14.033 per dolar Amerika. Bank Indonesia menyatakan penguatan tersebut imbas dari meningkatnya kepercayaan investor asing terhadap Indonesia yang ditandai dengan derasnya aliran masuk modal asing. ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan./aww.
JAKARTA – Penurunan suku bunga kredit perbankan di Indonesia berjalan lebih lambat dibandingkan pemangkasan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI), sehingga efektivitas transmisi kebijakan moneter ke sektor riil dinilai masih belum optimal. Kondisi ini berdampak pada lambatnya penyesuaian biaya pinjaman di sektor usaha, khususnya bagi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) serta kredit konsumsi.
Bank Indonesia (BI) mencatat rata-rata suku bunga kredit per Maret 2025 berada di level 8,76 persen, turun tipis dari 8,80 persen pada Februari 2025. Namun secara kumulatif sejak awal 2025, penurunan baru mencapai 44 basis poin (bps), jauh lebih kecil dibandingkan pemangkasan BI-Rate sebesar 1,25 persen dalam periode Januari hingga September 2025.
Ekonom Universitas Airlangga Rahma Gafmi menjelaskan bahwa perlambatan penurunan bunga kredit merupakan pola yang umum terjadi dalam sistem perbankan. Ia menyebut terdapat jeda waktu dalam transmisi kebijakan akibat faktor risiko dan struktur biaya bank. “Jika risiko gagal bayar dinilai masih tinggi, bank cenderung mempertahankan premi risiko pada level tinggi,” ujarnya, sebagaimana dilansir Sumber Berita, Kamis (23/04/2026).
Menurutnya, selain risiko kredit, tingginya biaya dana dan biaya operasional juga menjadi faktor utama yang menahan penurunan suku bunga kredit. Kondisi ini membuat perbankan tetap menjaga margin keuntungan sehingga penyesuaian dilakukan secara bertahap.
Dampaknya, sektor dengan risiko lebih tinggi seperti UMKM dan kredit konsumsi menjadi kelompok yang paling lambat merasakan penurunan bunga pinjaman. Situasi ini turut menahan minat ekspansi usaha di sektor korporasi yang cenderung lebih berhati-hati dalam mengambil pembiayaan baru.
EVP Corporate Communication PT Bank Central Asia Tbk (BCA) Hera F. Haryn menegaskan bahwa penentuan suku bunga kredit tidak hanya bergantung pada BI-Rate, tetapi juga mempertimbangkan kondisi makroekonomi, likuiditas, serta dinamika permintaan dan penawaran kredit. “Bank senantiasa mendorong penyaluran kredit dengan prinsip kehati-hatian dan manajemen risiko yang disiplin,” jelasnya.
BCA mencatat suku bunga dasar kredit (SBDK) pada Maret 2026 berada di kisaran 6,85 persen hingga 8,89 persen, menurun dibandingkan periode tahun sebelumnya. Namun, pertumbuhan kredit bank tersebut masih terbatas di angka 5,6 persen.
Kondisi serupa terjadi pada KB Bank. Presiden Direktur Kunardy Darma Lie menyebut penurunan suku bunga kredit masih tertahan oleh tingginya biaya dana, terutama dari deposan besar yang menggunakan skema special rate. SBDK KB Bank per April 2026 tercatat di kisaran 9,17 persen hingga 9,72 persen, sedikit turun dari sebelumnya 9,5 persen hingga 10 persen.
Sementara itu, Allo Bank juga telah melakukan penyesuaian harga kredit secara bertahap sejak tahun sebelumnya, namun ruang penurunan masih terbatas akibat dominasi dana mahal serta profil risiko portofolio kredit ritel digital yang relatif tinggi. Digital Strategy Head Allo Bank Destya D. Pradityo menegaskan bahwa faktor risk premium masih menjadi komponen penting dalam penentuan suku bunga.
Dengan berbagai tekanan tersebut, penurunan suku bunga kredit diperkirakan masih akan berlangsung secara bertahap. Tanpa perbaikan signifikan pada struktur biaya dana dan risiko kredit, transmisi pelonggaran kebijakan moneter ke sektor riil diproyeksikan tetap berjalan lambat dalam waktu dekat. []
Penulis: Lydia Tesaloni| Penyunting: Redaksi01
