RDMP Balikpapan Beroperasi Penuh, Pertamina Setop Impor Solar

0
Screenshot 2026-10-06 173917

JAKARTA – Beroperasinya penuh proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan pada 2026 diproyeksikan mengubah posisi Indonesia dalam pemenuhan kebutuhan solar. PT Pertamina (Persero) menyatakan kilang tersebut memungkinkan perusahaan menghentikan impor solar sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional.

Direktur Transformasi dan Keberlanjutan Bisnis PT Pertamina (Persero) Agung Wicaksono mengatakan RDMP Balikpapan memiliki kapasitas pengolahan hingga 360 ribu barel minyak per hari. Kapasitas tersebut setara sekitar 22-25 persen atau seperempat dari kebutuhan minyak nasional.

“Setelah RDMP Balikpapan beroperasi secara penuh, Pertamina tidak akan mengimpor solar lagi,” ucap Agung dalam acara Indonesia International Sustainability Forum di Jakarta, Selasa (06/10/2026), sebagaimana diberitakan Antara, Selasa, (06/10/2026).

Proyek RDMP Balikpapan dibangun dengan total investasi setara Rp123 triliun. Modernisasi kilang tersebut ditujukan untuk meningkatkan kapasitas pengolahan minyak, menghasilkan bahan bakar minyak (BBM) berkualitas tinggi dan lebih ramah lingkungan, serta mendukung hilirisasi industri petrokimia.

Dari sisi ekonomi, pengoperasian RDMP Balikpapan diperkirakan memberikan dampak besar terhadap pengurangan ketergantungan Indonesia pada impor BBM. Proyek tersebut diproyeksikan menghasilkan penghematan impor BBM hingga Rp68 triliun per tahun dan memberikan kontribusi terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional mencapai Rp514 triliun.

Selain RDMP, Pertamina juga mencatat perkembangan penggunaan biodiesel B50 sebagai bagian dari upaya mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar berbasis hidrokarbon. Program tersebut diluncurkan Presiden Prabowo Subianto pada Juli 2026.

Agung mengatakan lebih dari 95 persen stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) Pertamina telah menyediakan B50 setelah program tersebut berjalan.

“Tahun ini menjadi momentum bersejarah, yang sebelumnya 2008 dikenal sebagai B2,5, setelah 18 tahun, tahun ini telah mencapai B50,” ucap Agung.

Menurut Agung, komposisi B50 membuat separuh solar yang dikonsumsi berasal dari bahan bakar berbasis minyak kelapa sawit, sedangkan separuh lainnya berasal dari hidrokarbon.

“Artinya, solar yang dikonsumsi di sana hanya 50 persen yang berasal dari hidrokarbon, sementara 50 persen lainnya merupakan FAME atau minyak kelapa sawit,” kata Agung.

Penerapan B50 dan pengoperasian penuh RDMP Balikpapan menjadi dua perkembangan yang dinilai memperkuat agenda kemandirian energi Indonesia. RDMP meningkatkan kemampuan pengolahan minyak di dalam negeri, sementara pemanfaatan biodiesel memperbesar penggunaan bahan bakar berbasis sumber daya domestik.

Kombinasi kedua program tersebut diharapkan dapat menekan kebutuhan impor energi sekaligus memperkuat ketahanan pasokan bahan bakar nasional. Bagi Indonesia, peningkatan kapasitas kilang dan pemanfaatan biodiesel menjadi bagian penting dalam menghadapi kebutuhan energi yang terus meningkat. []

Redaksi01

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *