Rumah Sutosari Lansia Asal Sindetlami Besuk Akhirnya Direhabilitasi Baznas Kabupaten Probolinggo

Ketua Komisioner Baznas Kabupaten Probolinggo, Drs. H. Ahmad Muzammil saat bertemu langsung dengan Sutosari di rumahnya Dusun Krajan RT. 10/RW. 03 Desa Sindetlami, Kecamatan Besuk, Kabupaten Probolinggo pada Rabu 30 September 2026. (Foto : Rachmat Effendi)

PROBOLINGGO – Upaya pengentasan kemiskinan oleh pihak Baznas Kabupaten Probolinggo terus tingkatkan, termasuk melalui program Bedah Rumah yang berfokus pada perbaikan hunian warga yang tergolong miskin ekstrim.

Kali ini yang disasar kediaman Sutosari (70 tahun)  dan anaknya Salehuddin (53 tahun) warga Dusun Krajan, RT. 10/RW. 03 Desa Sindetlami Kecamatan Besuk Kabupaten Probolinggo.

Baznas Kabupaten Probolinggo langsung memutuskan untuk merehabilitasi rumah yang dinilai tidak layak tersebut, setelah melakukan asesmen ke lokasi.

Keputusan itu diambil setelah Ketua Baznas Kabupaten Probolinggo Drs. H Ahmad Muzammil bersama tim melihat langsung kondisi rumah pada Rabu 30 September 2026, yang sebelumnya menjadi sorotan media lokal.

“Setelah melakukan kunjungan ke rumah ibu Sutosari di Sindetlami memang kondisinya tidak layak, sangat memprihatinkan. Sehingga Baznas Kabupaten Probolinggo akan menyikapi itu,” kata Drs. H. Ahmad Muzammil.

Menurut Drs. H. Ahmad Muzammil, bagi Baznas, asesmen lapangan menjadi dasar untuk memastikan kondisi penerima bantuan sekaligus melihat bentuk intervensi yang paling sesuai dengan kebutuhan.

Setelah asesmen, Baznas melakukan rapat pleno dan memutuskan rumah tersebut akan direhabilitasi. Pekerjaan perbaikan ditargetkan mulai difokuskan dalam waktu dekat.

“Akhirnya Baznas Kabupaten Probolinggo berkesimpulan rumah Ibu Sutosari akan direhab, Insya Allah dalam satu hari dua hari ini kita fokuskan,” ungkapnya.

Muzammil menjelaskan, di lokasi terdapat dua bangunan. Salah satu bangunan di bagian utara sudah tidak digunakan karena mengalami kerusakan pada bagian atas. Bangunan tersebut direncanakan dibongkar agar tidak mengganggu proses rehabilitasi rumah yang akan ditempati.

Sementara itu, tidak seluruh bagian rumah harus diganti. Baznas akan melihat kondisi material yang masih layak sehingga bagian yang masih kuat dapat tetap dimanfaatkan.

“Kalau kita lihat dari rumahnya itu, kondisinya masih bagus. Atasnya itu bagus, hanya di sisi bawah, depan, utara dan selatan itu yang perlu kita perbaiki. Kita lihat situasinya nanti,” jelasnya.

Rehabilitasi tersebut tidak hanya dilihat sebagai perbaikan bangunan. Baznas mengaitkannya dengan kondisi Suto sebagai penerima zakat atau mustahik.

Muzammil menyebut Sutosari masuk kategori fakir karena tidak mempunyai pekerjaan dan penghasilan yang memadai.

“Kalau kita lihat dari asnaf, dia itu fakir. Bukan miskin, tetapi fakir. Tidak punya mata pencaharian dan sebagainya,” terangnya.

Status tanah juga menjadi bagian dari asesmen sebelum bantuan diberikan. Berdasarkan informasi yang diterima Muzammil dari pemerintah desa, tanah yang ditempati Suto merupakan milik sendiri dan telah bersertifikat.

“Makanya saya kemarin asesmen itu katanya rumah dan tanahnya itu sudah punya sendiri. Jadi memang itu haknya dia untuk zakat untuk bangunan rumahnya,” tegasnya.

Kondisi tersebut menjadi salah satu dasar Baznas dalam menentukan bentuk bantuan. Perbaikan diarahkan pada bagian rumah yang memang membutuhkan penanganan, sementara material yang masih dapat digunakan tidak serta-merta dibuang.

Muzammil juga menyampaikan apresiasi kepada media yang telah mengangkat kondisi keluarga Sutosari. Menurutnya, pemberitaan dapat menjadi penghubung antara warga yang membutuhkan bantuan dengan lembaga yang memiliki kewenangan dan sumber daya untuk memberikan dukungan.

“Kami Baznas sangat mengapresiasi kepada semua media yang sudah menyampaikan ini, bagi kami media bisa menjadi penghubung dengan warga yang memmerlukan uluran tangan,” tambahnya.

Menurut Muzammil, dalam penyaluran zakat terdapat masyarakat yang secara langsung menyampaikan kebutuhan mereka. Namun, ada pula warga yang membutuhkan tetapi tidak pernah meminta bantuan.

Kondisi tersebut membuat asesmen dan informasi dari masyarakat maupun media menjadi penting untuk membantu menemukan warga yang mengalami keterbatasan akses.

Dalam kasus Suto dan Salehuddin, Baznas berharap rehabilitasi rumah tidak hanya memberikan tempat tinggal yang lebih layak, tetapi juga mendukung kondisi kehidupan keluarga tersebut.

“Harapannya, supaya Ibu Sutosari dengan anaknya yang bernama Salehuddin, dengan adanya rehab ini nantinya mungkin bisa melihat faktor-faktor apa saja yang mendukung dalam sektor kesehatan dan sebagainya. Karena dengan rumah yang baik ini kan juga menjadi faktor pendorong kesehatan,” pungkasnya.(rac)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *