Rupiah Dibuka Rp17.638 per Dolar AS, Penguatan Masih Terbatas

JAKARTA – Rupiah belum mampu bergerak jauh dari level penutupan sebelumnya meski mengawali perdagangan Selasa (08/09/2026) dengan penguatan tipis. Mata uang Indonesia di pasar spot berada di level Rp17.638 per dolar Amerika Serikat (AS), hanya menguat 0,01 persen dari posisi akhir perdagangan sehari sebelumnya.

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah pada pembukaan perdagangan Selasa (08/09/2026) bergerak naik dari posisi Rp17.640 per dolar AS pada penutupan Senin (07/09/2026). Penguatan sebesar Rp2 tersebut menunjukkan ruang apresiasi rupiah masih relatif terbatas di tengah sejumlah sentimen eksternal yang menjadi perhatian pelaku pasar.

Salah satu faktor yang berpotensi membatasi penguatan rupiah adalah pergerakan indeks dolar AS. Selain itu, meningkatnya ketegangan geopolitik juga menjadi sentimen yang perlu diperhatikan karena dapat mendorong pelaku pasar mengambil posisi lebih defensif.

Direktur PT Traze Andalan Futures Ibrahim Assuaibi menilai kombinasi penguatan indeks dolar AS dan peningkatan ketegangan geopolitik masih memberikan tekanan terhadap pergerakan rupiah.

Di sisi lain, terdapat sentimen domestik yang dapat memberikan dukungan bagi rupiah. Analis Mata Uang Doo Financial Futures Lukman Leong sebelumnya memperkirakan rupiah berpeluang menguat tipis setelah data menunjukkan adanya peningkatan cadangan devisa Indonesia pada Agustus 2026.

Perbedaan pengaruh antara sentimen domestik dan eksternal membuat arah rupiah pada perdagangan Selasa menjadi perhatian. Kenaikan cadangan devisa dapat memberikan sentimen positif terhadap mata uang domestik, tetapi kekuatan dolar AS dan kondisi geopolitik global berpotensi membatasi ruang penguatan tersebut.

Selain faktor pasar global, investor juga mencermati sejumlah data ekonomi dari AS. Pasar menunggu publikasi indeks harga konsumen dan indeks harga produsen AS yang dinilai dapat memengaruhi ekspektasi terhadap arah kebijakan suku bunga bank sentral AS, The Federal Reserve.

Perubahan ekspektasi terhadap suku bunga AS menjadi salah satu faktor penting bagi pasar valuta asing. Kebijakan moneter AS dapat memengaruhi daya tarik aset berbasis dolar dan pada akhirnya turut menentukan arah pergerakan rupiah terhadap mata uang tersebut.

Untuk perdagangan Selasa (08/09/2026), Ibrahim memperkirakan rupiah cenderung melemah dalam rentang Rp17.640 hingga Rp17.680 per dolar AS. Proyeksi tersebut mencerminkan masih kuatnya sejumlah tekanan eksternal yang berpotensi membatasi penguatan rupiah sepanjang perdagangan.

Sementara itu, Lukman memperkirakan rupiah bergerak dalam rentang yang lebih lebar, yakni Rp17.600 hingga Rp17.700 per dolar AS. Dengan demikian, meskipun rupiah dibuka sedikit lebih kuat, pelaku pasar masih menghadapi ketidakpastian yang dapat membuat pergerakan mata uang domestik berfluktuasi sepanjang sesi perdagangan.

Posisi rupiah di level Rp17.638 per dolar AS pada awal perdagangan menjadi gambaran awal bahwa sentimen positif dari dalam negeri belum sepenuhnya mampu mengimbangi tekanan eksternal. Perkembangan dolar AS, kondisi geopolitik, serta data ekonomi AS akan menjadi sejumlah faktor yang dapat menentukan arah rupiah berikutnya, sebagaimana diberitakan Kontan, Selasa (08/09/2026). []

Redaksi01

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *