Rupiah Tertekan di Kisaran Rp16.120, BI Tetap Optimistis

JAKARTA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) berada dalam tekanan pada awal perdagangan Minggu (19/04/2026), dipicu arus keluar modal global dan penguatan indeks dolar, meski otoritas moneter tetap optimistis stabilitas kurs dapat terjaga sepanjang tahun ini.

Berdasarkan data pasar pukul 09.00 WIB, rupiah bergerak di kisaran Rp15.890 hingga Rp16.120 per dolar AS. Pergerakan ini menunjukkan pelemahan dibandingkan posisi penutupan pekan sebelumnya, seiring meningkatnya tekanan eksternal terhadap mata uang negara berkembang.

Bank Indonesia (BI) mencatat dinamika global, termasuk perpindahan dana investor internasional yang mencapai lebih dari 16 miliar dolar AS per bulan, menjadi faktor utama yang menekan rupiah. Kondisi tersebut diperparah oleh penguatan dolar AS yang dipicu kebijakan suku bunga di negara tersebut.

Meski demikian, BI tetap menyampaikan optimisme terhadap prospek nilai tukar. “BI optimistis nilai tukar rupiah akan bergerak stabil dan cenderung menguat ke level Rp16.400 per dolar AS secara rata-rata di tahun 2026,” sebagaimana dilansir Kompas, Minggu, (19/04/2026).

Di sisi lain, data kurs transaksi BI menunjukkan sejumlah mata uang global masih berada pada level tinggi. Dinar Kuwait (Kuwaiti Dinar/KWD) tercatat sebagai mata uang dengan nilai jual tertinggi sebesar Rp56.272,12 per unit, diikuti Poundsterling Inggris (Great Britain Pound/GBP) Rp23.360,77 dan Franc Swiss (Swiss Franc/CHF) Rp22.030,32.

Perhatian pasar juga tertuju pada mata uang Asia seperti Yen Jepang (Japanese Yen/JPY) yang diperdagangkan sebesar Rp10.844,59 per 100 unit. Fluktuasi ini menjadi indikator penting bagi pelaku usaha dan masyarakat yang memiliki kebutuhan transaksi internasional.

Tekanan terhadap rupiah membawa dampak beragam. Kenaikan nilai dolar AS berpotensi meningkatkan biaya impor dan memicu tekanan inflasi domestik. Namun, di sisi lain, kondisi ini memberikan keuntungan bagi pekerja migran Indonesia melalui peningkatan nilai remitansi yang dikirim ke dalam negeri.

BI menegaskan akan terus melakukan langkah stabilisasi, termasuk intervensi di pasar valuta asing (valas), guna menjaga volatilitas tetap terkendali dan mendukung aktivitas ekonomi nasional.

Selain faktor jangka pendek, fundamental ekonomi domestik dinilai masih cukup kuat dengan cadangan devisa yang memadai. Hal ini menjadi bantalan penting dalam menghadapi gejolak pasar keuangan global.

Ke depan, pelaku pasar menantikan rilis data ekonomi terbaru dari AS yang diperkirakan akan memengaruhi arah pergerakan dolar dan mata uang global lainnya dalam waktu dekat.[]

Penulis: Aditya Saputra | Penyunting: Redaksi01

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *