Saham BBCA Turun Tajam di Tengah Tekanan Global
JAKARTA – Tekanan eksternal dan aksi jual investor asing mendorong saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menyentuh titik terendah dalam tiga tahun terakhir, meskipun kinerja keuangan perseroan masih mencatatkan pertumbuhan positif pada kuartal pertama 2026.
Pada sesi I perdagangan Jumat (24/04/2026), saham BBCA turun 1,56 persen ke level Rp6.325, bahkan sempat menyentuh Rp6.300. Data Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan sebanyak 34,48 juta saham diperdagangkan dengan nilai transaksi mencapai Rp220,31 miliar hingga pukul 09.08 WIB.
Aksi jual investor asing (net sell) tercatat sebesar Rp91,6 miliar pada sesi tersebut, melanjutkan tren pelepasan saham dalam beberapa hari terakhir. Tekanan ini sejalan dengan pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang berada di level 7.378,61.
Sentimen negatif pasar dipicu oleh pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang sempat menyentuh Rp17.300 per dolar AS. Kondisi tersebut diperburuk oleh dinamika global, termasuk gangguan jalur energi di Selat Hormuz yang memicu lonjakan harga minyak dunia.
Situasi tersebut meningkatkan kekhawatiran terhadap potensi inflasi dan tekanan pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), yang berimbas pada sektor perbankan, khususnya terkait risiko perlambatan penyaluran kredit.
Di tengah tekanan pasar, kinerja fundamental BBCA justru menunjukkan ketahanan. Berdasarkan laporan kinerja, laba bersih perseroan mencapai Rp14,7 triliun pada kuartal I 2026 atau tumbuh 4 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, ditopang oleh peningkatan pendapatan non-bunga sebesar 16 persen.
“Kenaikan beban provisi pada kuartal pertama 2026 merupakan langkah proaktif atas situasi makroekonomi terkini sekaligus meningkatnya risiko di segmen consumer, commercial, dan SME,” tulis Stockbit Sekuritas dalam laporannya, sebagaimana dilansir Investor, Jumat (24/04/2026).
Manajemen juga mengingatkan potensi risiko lanjutan apabila harga minyak dunia meningkat signifikan hingga kisaran 130–150 dolar AS per barel. Dalam kondisi tersebut, pertumbuhan kredit berpotensi melambat, sementara rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) diperkirakan naik ke level 3–3,2 persen.
Di sisi lain, sejumlah analis melihat peluang pemulihan harga saham BBCA seiring valuasi yang dinilai berada di bawah rata-rata historis. Dengan rasio harga terhadap laba atau price to earnings ratio (PER) yang relatif rendah, saham ini berpotensi kembali menguat dalam beberapa bulan mendatang.
Pergerakan saham BBCA mencerminkan kontras antara tekanan jangka pendek akibat faktor eksternal dan fundamental perusahaan yang masih solid, sehingga pelaku pasar diharapkan tetap mencermati perkembangan global dan indikator domestik sebelum mengambil keputusan investasi. []
Penulis: Donna Hettinger | Penyunting: Redaksi01
