Serangan di Timur Tengah Meningkat, Harga Minyak Dunia Kembali Menguat

0
1005318569

JAKARTA – Ancaman terhadap jalur pelayaran minyak di Selat Hormuz kembali menekan pasar energi global. Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) naik 0,81 persen menjadi US$94,90 per barel pada Rabu (14/10/2026) pukul 07.34 WIB, seiring meningkatnya serangan di Timur Tengah yang memperbesar ketidakpastian pemulihan pasokan dari kawasan Teluk Persia.

Harga WTI untuk pengiriman November 2026 di New York Mercantile Exchange (NYMEX) meningkat dari US$94,14 per barel pada perdagangan sehari sebelumnya. Sementara itu, minyak mentah Brent kembali menembus US$106 per barel setelah terkoreksi 0,9 persen pada sesi sebelumnya.

Tekanan terhadap harga minyak terutama berkaitan dengan eskalasi serangan Iran terhadap kapal tanker di Selat Hormuz. Situasi tersebut mengancam kelancaran pemulihan distribusi minyak dari kawasan Teluk ke tingkat sebelum perang, meskipun Amerika Serikat (AS) menyatakan telah membantu pengiriman lebih dari 19 juta barel minyak mentah melalui jalur pelayaran tersebut.

Risiko pasokan juga meningkat setelah Arab Saudi mencegat tambahan rudal dan pesawat nirawak yang diluncurkan kelompok Houthi. Serangan baru turut menyasar markas perusahaan minyak Saudi Aramco, menambah kekhawatiran terhadap keamanan infrastruktur energi di kawasan tersebut.

Kenaikan harga minyak mencerminkan besarnya dampak konflik terhadap pasar energi. Harga Brent dilaporkan telah melonjak lebih dari 70 persen sepanjang 2026 di tengah perang AS-Iran yang mengganggu pasar minyak global.

Analis Morgan Stanley, termasuk Martin Rats, menilai ekspor minyak mentah masih berlangsung, tetapi ketidakpastian terhadap kelanjutannya tetap tinggi. “Ekspor minyak mentah terus berlanjut, tetapi ketidakpastian seputar hal itu tetap tinggi,” kata analis Morgan Stanley, termasuk Martin Rats dalam sebuah catatan sebagaimana dilansir Kontan, Rabu (14/10/2026).

Morgan Stanley juga menaikkan proyeksi harga patokan minyak fisik Dated Brent sebesar US$5 per barel untuk kuartal berjalan dan kuartal berikutnya. Penyesuaian tersebut menunjukkan bahwa risiko geopolitik masih menjadi faktor penting dalam perkiraan harga minyak, terutama selama keamanan jalur pelayaran dan keberlanjutan pasokan dari Timur Tengah belum sepenuhnya terjamin. []

Redaksi01

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *