Serunya Irau Malinau

Penampilan Bupati Malinau Yansen TP saat pembukaan Irau ke-9. Foto: Istimewa

MALINAU – Tak ada seruan yang paling pantas diucapkan saat menghadiri dan menyaksikan berbagai penampilan pesta adat Irau ke-9 selain kata meriah. Pesta adat yang sekaligus menjadi momen peringatan hari jadi Kabupaten Malinau ke-19 ini dilaksanakan selama dua pekan, dari Senin (15/10/2018) hingga Sabtu (27/10/2018). Saban hari selama perayaan, pengunjung datang dengan jumlah tak terkira, mungkin belasan ribu.

Yang datang, baik dari wisatawan lokal maupul luar daerah, disuguhkan berbagai atraksi budaya dengan penampilan memukau. Mulai dari tari-tarian, prosesi adat, dan keseharian masyarakat Malinau disuguhkan kepada masyarkat. Seperti tari-tarian masal yang disuguhkan dari para muda-mudi Dayak Lundayeh pada perayaan Irau di penampilan awal.

Tarian masal dengan tema Lawe Ayu’ Idi Raben Ulun Fufu Lundayeh ini menceritakan sejarah asal usul dan dinamika kehidupan suku Dayak Lundayeh. Mulai dari kuatnya adat istiadat kepercayaan lama para leluhur suku Dayak Lundayeh di kampung asalnya di pedalaman, sampai pada masuknya agama yang dibawa oleh para Missionaris.

Sampai pada perubahan pola pikir dan sikap hidup yang sangat mementingkan persaudaraan, persatuan di kalangan warga Dayak Lundayeh dan pendidikan bagi putra putri Lundayeh. Persekutuan masyarakat Dayak Lundayeh begitu kuat dari manapun, hadir dan diceritakan dalam tarian masal yang dilakukan.

Tarian masal ini dibagi menjadi 7 segmen tarian, dan setiap segmen bercerita tentang kehidupan masyarakat Dayak Lundayeh dari zaman dahulu kala hingga perkembangan masyarakat Lundayeh saat ini. Persiapan yang dilakukan untuk tarian ini hanya mencapai satu bulan saja, tetapi karena telah menjadi tradisi sehingga dilakukan dengan mudah dan baik. Karena sesuai dengan kehidupan dari masyarakat dahulu hingga saat ini, jadi mengatur tarian per segmennya menjadi lebih mudah.

“Komitmen anak muda yang menarikannya juga sungguh luar biasa mencintai budayanya dengan baik. Sehingga mereka menarikannya dengan sangat baik,” tutur Dolvina Damus, Koreografer Tari.

Sekitar 150 putra putri Dayak Lundayeh yang menarikan tarian ini termasuk pemusik yang mengiringi tarian. Untuk penari dilakukan siswa SMP dan SMA, dan termasuk SD. Bahkan cukup banyak putra putri yang ingin ikut berpartisipasi dalam tarian, hal ini menandakan animo untuk mencintai dan melestarikan budaya sendiri sangat besar dan luar biasa. Dari kecil telah menanamkan dalam diri untuk mencintai budaya.

Penampilan peserta kirab pada pembukaan Irau ke-9 yang dimeriahkan berbagai etnis se-antero negeri. Foto: Istimewa

Tarian ini dikisahkan dalam berbagai segmen yang saling sambung menyambung antara kehidupan dahulu hingga saat ini. Dimulai dari segmen yang pertama yakni Arang Fun Terunan. Dalam sastra lisan Dayak Lundayeh, yang dituturkan turun temurun oleh nenek moyang Dayak Lundayeh melalui tradisi lisan “Nginan” yaitu garis silsilah asal usul keturunan keluarga Lundayeh, bahwa seluruh silsilah Keluarga Dayak Lundayeh berawal dan berpunca pada Fun Terunan, Fun Buri Bulan, Fun Rang Dungo,  Fun Terur Aco. 

Dikisahkan, pada mulanya ada 2 (dua) langit yang terpisah.  Adalah Rang Dungo yang berasal dari Matahari yang tercipta oleh suatu tangan gaib Sang Pencipta.  Rang Dungo  yang sendirian ufun eme’ iring langit selifaa, idi Eme’ iring langit Selifaa” , dari langit yang satu ke langit lainnya, mencari ciptaan Sang Pencipta lainnya. Perjalanan  demi  perjalanan  dilakukan, sampai ke  Gunung  Batu  Afui  (Gunung  Batu  Api), namun  panasnya  Gunung  Batu  Afui  membuat  Rang  Dungo  gagal  menuju  puncak.

Hingga akhirnya petuah  pun  didapatkan  melalui  mimpi, bahwa  untuk  mendaki  puncak Gunung  Batu  Afui Rang  Dungo  harusmenggunakan  baju  dan  alas  kaki  dari  Batang  Pisang  atau SibakPerjalanan  Rang  Dungo  ke  puncak  Gunung  Batu  Afui pun  dilanjutkan.

Setelah itu dilanjutkan dengan segmen kedua yakni Tarian Sisit atau Siredu adalah tari tradisional Dayak Lundayeh yang menjadi  ciri khas gerak tari Dayak Lundayeh melambangkan sukacita Ferisanang, menyambut para tamu kehormatan atau Sakai dan sebagai ungkapan kegembiraan Anak Adi’ Lundayeh untuk memperkenalkan seni budaya Dayak Lundayeh kepada seluruh Sakai yang hadir pada Irau  Raye  Ulung  Buaye ini.

Arang sisit yang ditarikan oleh Anak Adi Lundayeh ini juga sebagai upaya generasi muda Lundayeh untuk mencintai, menghargai dan  memahami makna dan nilai luhur yang diwariskan oleh para leluhur dimasa lampau dalam bentuk seni budaya tradisional Dayak  Lundayeh sehingga generasi  muda  Lundayeh  memiliki kecintaan, dapat menghargai serta terpacu gairah dan kepeduliannya untuk ikut melindungi, melestarikan dan memelihara budaya leluhur.

Setelah itu dilanjutkan dengan tarian Arang Ngerani, di mana keseharian suku Dayak Lundayeh sejak awalnya hidup harmonis dengan alam, yang bermukim nun di dekat Danau Riberuh Bulan menurut Tutur Lisan Legenda Mumuh. Masyarakat suku Dayak Lundayehsenantiasa hidup selaras ditengah alam, memenuhi kebutuhan hidup sehari hari dari keterampilan para lelaki Lundayeh berburu, mencari ikan dan bercocok tanam.

Dayak Lundayeh sejak lama telah mengenal cara bercocok tanam dan diceritakan dalam tutur Lisan  LegendaYasai Ngabang Abpa’, Tin Berine Mifi’ Tana’, i Buek Ngisu’ Arur, I Buek daat ngisu’ fegkung dan dalam Legenda Yufai Semaring mengalahkan Ada’ Fiak , pula disebutkan dalam tutur lisan tradisi Nginan. Konon Yasai berasal dari Cina dan menikah dengan seorang anak gadis keturunan Dayak Lundayeh di Danau Riberuh Bulan, Wanita itu ialah Tin Berine.

Lalu dilanjutkan dengan segmen Arang Baweh yang menceriakan pada awalnya masyarakat Dayak Lundayeh hidup dalam Ruma’ Kadang dengan tetek tetek ruma’ yang hidup mengelompok dan terpisah pada masing-masing bawang atau kampung berdasarkan satu rumpun keluarga  yang disebut wa’. Nenek moyang Dayak Lundayeh percaya akan benda-benda dan kekuatan gaib yang astral dan sebagaimana kehidupan dan kepercayaan lama.

Hari hari yang tenang di kampung kerap diisi dengan Baweh atau serangan antar Bawang (kampung) , antar Ruma’ Kadang, bahkan antar Wa’ dengan Ngeleb atau Febunu’ yang  dipicu kadang-kadang hanya oleh alasan kecil, sehingga kehidupan keseharian nenek moyang Dayak Lundayeh diwarnai dengan permusuhan antar bawang, keselarasan dan keharmonisan hidup terancam dan selalu dibayangi oleh serangan Baweh.

Sebelum menuju Baweh, beberapa upacara adat untuk mengantarkan para ksatria Baweh maju ke medan pertempuran didahului dengan Tengadan untuk mengobarkan semangat  pasukanBaweh. Tengadan menyimbolkan bahwa Suku  Dayak Lundayeh memiliki sikap yang optimis, gagah berani dalam menghadapi musuh, sekali melangkah maju akan terus maju menghadang musuh dengan semangat yang digelorakan melalui teriakan Ngudup, yang menandakan kesiapan pasukan Baweh maju febunu’ menggunakan senjata Felefet (parang panjang/samurai), busu (tombak) dan Ufit  (sumpit), dilengkapi dengan Utap atau perisai, dan bayang atau baju jirah.

Kemudian masuk ada segmen tari Arang Techung. Ada yang merayakan kemenangannya atas Baweh dengan Fekuab, Kukuy dan Siga’ , namun ada lebih banyak kesedihan panjang yang dahulu melalui budaya adat lama, upacara adat kematian, yaitu ritual mengantarkan roh leluhur ke alam baka, proses penguburan jasad yang panjang, melalui tahapan  memasukkan tulang ke dalam Bebatan  atau Rubi Moon (tempayan atau guci), yaitu tahapan upacara kematian sebelum pemakaman biasa maupun pemakaman dengan  upacara adat Ferupun.

Luapan kesedihan yang disimbolkan dengan  keharusan mengikuti  Budaya  Nedcung’, yaitu kewajiban bagi para wanita yang ditinggalkan para pahlawan dan ksatria yang gugur di medan Baweh  untuk  menutup kepala dan wajah, bahkan harus mengasingkan diri dan mengubur diri dalam kesedihan.

Kesedihan karena kepedihan ditinggalkan orang yang dikasihi, yang adalah pahlawan bagi Wa’ atau keluarga dari bawang yang satu, ataupun  kemenangan yang dirayakan para ksatria bang bawang lainnya, silih berganti mengisi hari-hari nenek moyang Dayak Lundayeh dalam adat kepercayaan lama.

Di satu sisi, para pahlawan Baweh menarikan arakan-arakan Kukuy mengelilingi Ulung Buaye dengan melangkah bersama, beriringan, saling memegang bahu, yang mengandung makna kebersamaan, menggambarkan kuat dan eratnya persatuan dengan Ferurum, Fekimet Fekuyut, yang akhirnya berbuahkan kemenangan.

Di sisi lainnya, bagi perempuan yang ditinggalkan orang terkasihnya, menjalani masa duka yang lama dengan keharusan mengasingkan diri bahkan harus menjauh dari anak- anaknya selama menggunakan Techung atau kain penutup kepala meratapi kesedihannya.

Masa kesedihan yang gelap dan panjang itu, barulah berakhir apabila sanak keluarga berkenan membuka tudung kesedihan “Nedcung” di kepala para wanita yang ditinggalkan tersebut.

Kemudian dilanjutkan kembali pada segmen Arang Ngubur Ngadan Tuhan. Yang dikisahkan  tentang kedatangan Missionaris Kristen yang menyebarkan kabar baik, kebenaran dan cinta kasih pada sesama. Kedatangan misionaris ini merubah hampir seluruh aspek kehidupan masyarakat Dayak Lundayeh.

Misi kabar baik yang dibawa oleh para missionaris yang mengajarkan cinta kasih dan anugerah Tuhan pencipta yang Esa, perlahan menyingkirkan rasa permusuhan, perselisihan berkepanjangan dan dendam antar sesama dan akhirnya menghapuskan budaya dan adat Febunu atau Baweh dan adat kepercayaan lama lainnya, yang dianut oleh para leluhur.

Lalu masuk pada segmen terakhir yakni Arang Busak Baku dan Ferisanang yang meluapkan Rasa  syukur  dan  sukacita  atas terselenggranya “Irau Raye Ulung Buaye yang diekspresikan melalui Tari Busak Baku yang diawali dengan gerak tari bersama Feritubang, Ferisanang, Feritubung, Ferisayung bersama.  Melalui gerak Ferisanang bersama ini, Anak Adi Lundayeh menggelolarakan semangat dan sukacita bersatu. Arang Ferisanang yang dilakukan Feruyud  (oleh orang banyak) ini melambangkan tekad generasi Lundayeh untuk terus menjaga persatuan, karena sejak dulu warga Dayak Lundayeh telah mengenal prinsip Berbeda tetapi Tetap Satu, Bhinneka Tunggal Ika.

Semangat Bhinneka Tunggal Ika tercermin pada syair  lagu tradisional Lundayeh Tudeh Tudeh. Berbeda beda namun tetap harus bersatu, Nalan fatad na mefatad,  Mefatad teu Mefusag. Terpisah dimana mana tempat sampai keujung negeri, namun selalu bersatu, itulah hakikat keberadaan Fufu Rayeh Lundayeh atau segenap warga keluarga besar Dayak Lundayeh.

“Semangat persatuan suku  Dayak  Lundayeh yang terus dijaga, dijunjung dan kini diteladani oleh Anak Adi Lundayeh yang dilambangkan dengan Kuntum Bunga Baku atau Busak Baku, yang terdiri ratusan  kelopak yang kemudian mekar menjadi bunga atau Busak Baku yang indah dan memiliki berbagai manfaat. Itulah harapan Anak Adi Lundayeh, bermanfaat bagi masyarakat  Dayak  Lundayeh, bersatu  membangun  Bangsa  dan  Negara  Kesatuan  Republik  Indonesia  tercinta,” papar Dolvina Damus.

REKOR MURI

Rabu (17/10/2018), hari ketiga perayaan Irau, etnis Tidung berkesempatan menampilkan atraksi adat dan budaya. Warga Tidung melalui Lembaga Adat Besar Tidung (LABT) mencatatkan dua rekor Musium Rekor Dunia Indonesia (MURI). “Semuanya menunjukkan sesuatu yang sangat membanggakan kita semua. Menunjukkan sesuatu yang sangat prestisius sebagai sebuah masyarakat bangsa yang hidup di Malinau,” ujar Bupati Malinau Yansen TP saat menyampaikan aspirasi di hadapan masyarakat Tidung dan tamu undangan di panggung utama Irau, Arena Prosehat Pelangi Intimung.

Bupati mengapresiasi LABT dan masyarakat Tidung secara keseluruhan, karena sudah menampilkan prosesi adat dan mencapai berbagai prestasi. Menurutnya, hal tersebut sangat penting dicernai dan dipahami bersama-sama sebagai satu kesatuan masyarakat. Karena, sebuah masyarakat itu bernilai bagi satu kesatuan masyarakat apabila mampu menunjukkan jati diri budayanya.

“Kenapa saya katakan pernyataan demikian, empat pilar kebangsaan kita, satu diantaranya Bhinneka Tunggal Ika. Saya ingin kita cernai dan pahami dengan baik apa makna Bhineka Tunggal Ika, bukan diucap kata saja, atau dilengket di dinding saja, tapi itu persentasi cermin kehidupan bangsa kita,” katanya.

Dikatakannya, atraksi adat budaya yang ditampilkan Suku Tidung merupakan satu budaya yang menunjukkan kekayaan ragam etnis suku bangsa dan budaya yang tentu tidak ada di tempat lain, tapi ada di tempat Malinau dan walaupun ada di tempat lain, itu pun hanya sedikit persamaan. Tapi esensinya pasti berbeda.

Karena, jelasnya, lingkup keberadaan masyarakat Malinau dalam suasana yang berbeda. Oleh sebab itulah, ia meminta agar terus menghidupkan budaya yang merupakan kekayaan yang ada sebagai konsep dan jati diri masyarakat Tidung serta sebagai kekayaan bangsa.

“Saya kira, tidak berbangga hati kita, tidak meyombongkan diri kita, kalaulah masyarakat Tidung bisa menunjukkan seperti ini, mudah-mudahan ini bisa dicernai dengan baik oleh masyarakat Tidung seluruhnya, menjadi kebanggaan masyarakat Tidung seluruhnya. Jadi bukan berbangga dan bersombong diri kita, tapi kita mengungkapkan bahwa kita hidup punya konsep dan jati diri,” ujarnya.

Hari sebelumnya, Dayak Lundayeh, dan kemudian dilanjutkan dengan Suku Tidung, semua sudah mencatatkan rekor MURI bagi masyarakat Malinau. Untuk itu, dirinya selaku pimpinan daerah mengucapkan selamat dan terima kasih.

“Saya ucapkan selamat kepada Lembaga Adat Besar Tidung, selamat kepada seluruh masyarakat Tidung yang telah mendapatkan penghargaan MURI yang. Dua muri yang sangat esensi dalam konsep hidup masyarakat Tidung, semoga ini terus melembaga dan kita tingkatkan lagi,” ucapnya.

Untuk diketahui, LABT dan masyarakat Tidung Malinau mencatatkan rekor MURI dengan kategori membuat kelatung (kentongan) dari kayu sebanyak 2018 buah dan bepupur bersama sebanyak 200 orang.

Sementara Senior Manajer Muri, Yusuf Ngadri mengatakan, pencapaian rekor MURI pada Irau ke-9 tentu penting karena dalam satu hari Malinau mampu mencatat tiga rekor muri yang dilakukan secara bersamaan. “Tradisi yang dilakukan ini mengajarkan bagaimana masyarakat Lundayeh memisahkan bulir-bulir padi kemudian proses menjadi nasi,” ungkapnya.

Rekor yang dicatat yakni ketika menumbuk padi dengan menyediakan lesung sebanyak 178 dengan lubang sebanyak 584. Lubang-lubang lesung itu memang dibuat tidak sama satu dengan lainnya sesuai dengan fungsinya.

Selain itu, dalam proses memasak juga menggunakan tungku dan dicatat sebagai rekor Muri sebagai tungku terpanjang. Dibuat tanpa putus sepanjang 350 meter kemudian dibuat memasak hasil olahan dari hasil tumbukan padi. “Jadi rekor yang dicatat yakni lesung terbanyak, alung terbanyak sebanyak 1.752 dan tungku terpanjang,” jelasnya.

Sementara itu, Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Malinau, sekaligus Ketua DPC Persekutuan Dayak Lundayeh Kabupaten Malinau, Wempi W Mawa mengatakan persiapan mengikuti Irau dari masyarakat Lundayeh dilakukan sekitar 3 bulan.

Untuk penampilan pada kegiatan Irau ini, masyarakat Lundayeh yang berada di setiap desa, RT dan kecamatan mengambil bagian turut serta mempersiapkan baik tari-tarian maupun untuk rangkaian pemecahan 3 prosesi rekor dengan partisipasi seluruh masyarakat.

Dalam pencatatan rekor ini, bukan hanya pemecahan rekornya saja yang dilihat tetapi persatuan, kerja sama masyarakat dari semua tingkatan sampai akhirnya mampu menghasilkan yang baik. “Ini swadaya dari setiap kegiatan yang ada dilakukan masyarakat Lundayeh di Kabupaten Malinau ini, persatuan tetap terjaga dan menjadi persatuan modal kekuatan bagi Malinau,” ungkapnya.

Sebagai masyarakat mayoritas di Malinau benar-benar mampu hadir memberikan motivasi kepada suku lainnya yang ada di Malinau. Karena apa yang telah dilakukan untuk melestarikan tradisi yakni menumbuk padi menjadi aktivitas sehari-hari. “Ini masih dilestarikan sampai saat ini, dan tidak bisa ditinggalkan sekalipun hidup di tengah kota,” tuturnya.

[] Penulis: Muhammad Noor Amat
[] Editor: Nursiah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *