Wall Street Merah! Oracle Anjlok 8,8 Persen, CoreWeave Terjun 15 Persen
NEW YORK – Lonjakan inflasi Amerika Serikat (AS) memperbesar tekanan terhadap saham teknologi dan perusahaan infrastruktur kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), sekaligus memicu kekhawatiran pasar terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed). Sentimen tersebut menyeret indeks Nasdaq turun 1,88 persen pada penutupan perdagangan Rabu (14/10/2026), sekaligus menjadi penurunan harian terdalam sejak 23 Juli 2026.
Tekanan juga melanda indeks utama lainnya. Indeks S&P 500 merosot 1,11 persen menjadi 7.718,94 poin, mencatat penurunan harian terbesar sejak 29 Juli 2026. Sementara itu, Dow Jones Industrial Average terkoreksi 0,09 persen ke level 51.621,48 poin, sebagaimana diberitakan Kontan, Kamis, (15/10/2026), mengutip Reuters.
Data inflasi yang melampaui perkiraan mengubah ekspektasi pelaku pasar terhadap arah kebijakan moneter AS. Kenaikan harga konsumen pada September, yang dipengaruhi melonjaknya harga bensin serta meluasnya tekanan harga ke sektor di luar energi, memperkuat spekulasi bahwa bank sentral AS masih perlu menaikkan suku bunga untuk mengendalikan inflasi.
Dampak paling besar terlihat pada saham teknologi yang sensitif terhadap perubahan biaya pinjaman. Saham Oracle merosot 8,8 persen, sedangkan perusahaan infrastruktur AI CoreWeave dan Nebius masing-masing anjlok 15 persen dan 10 persen.
Penurunan juga menimpa produsen perangkat keras yang menopang pengembangan pusat data dan komputasi AI. Saham Dell Technologies terkoreksi 11,4 persen, sementara Hewlett Packard Enterprise turun 8,2 persen setelah Barclays menurunkan peringkat kedua saham produsen server AI tersebut dari overweight menjadi equal-weight.
Tekanan di sektor teknologi tercermin dari penurunan indeks Semikonduktor Philadelphia Stock Exchange sebesar 4,3 persen. Indeks tersebut mencatat pelemahan selama enam sesi perdagangan berturut-turut, menjadi rentetan penurunan terpanjang sejak Mei 2025.
Secara sektoral, delapan dari 11 indeks sektor S&P 500 berakhir di zona merah. Sektor teknologi informasi mencatat penurunan terdalam sebesar 2,6 persen, disusul sektor layanan komunikasi yang melemah 1,78 persen.
Kekhawatiran mengenai kebijakan moneter turut tercermin dalam proyeksi pasar terhadap keputusan The Fed. Berdasarkan perangkat FedWatch milik CME Group, peluang kenaikan suku bunga pada Oktober diperkirakan mencapai 37 persen, meningkat dari 22 persen pada Selasa (13/10/2026).
“Investor tidak senang dengan laporan tersebut karena hal itu menekan The Fed untuk menaikkan suku bunga guna memerangi inflasi,” ujar Adam Sarhan, Chief Executive Officer (CEO) 50 Park Investments di New York.
“Inflasi tetap menjadi musuh utama bagi pasar dan The Fed.”
Pernyataan tersebut menggambarkan kekhawatiran investor bahwa inflasi yang bertahan tinggi dapat memperpanjang periode kebijakan moneter ketat. Suku bunga yang lebih tinggi berpotensi meningkatkan biaya pendanaan perusahaan, terutama bisnis teknologi yang membutuhkan investasi besar untuk membangun infrastruktur komputasi dan pusat data.
Sebelum data inflasi diumumkan, Wakil Ketua The Fed bidang Pengawasan Michelle Bowman menyatakan bank sentral masih memiliki waktu untuk memantau perkembangan pasar dan ekonomi setelah kenaikan suku bunga pada September. Sikap tersebut menunjukkan bahwa keputusan berikutnya akan bergantung pada perkembangan data ekonomi dan penilaian terhadap tekanan inflasi.
Tekanan pasar tidak hanya terjadi pada saham teknologi. Saham Bank of America turun 4,8 persen setelah laba perusahaan merosot pada kuartal III 2026 akibat penyisihan dana sebesar US$1,2 miliar untuk membayar denda regulasi terkait kegagalan mendeteksi potensi pencucian uang. Sementara itu, saham Morgan Stanley melemah hampir 3 persen meskipun bank investasi tersebut mencatat kenaikan laba kuartalan.
Aktivitas perdagangan di bursa AS mencapai 18 miliar saham, lebih tinggi dibandingkan rata-rata 17,6 miliar saham selama 20 hari perdagangan terakhir. Peningkatan volume tersebut berlangsung di tengah tekanan jual yang meluas dan perubahan ekspektasi terhadap kebijakan suku bunga.
Pergerakan Wall Street selanjutnya akan dipengaruhi oleh perkembangan inflasi dan sinyal kebijakan The Fed. Jika tekanan harga tetap tinggi, saham-saham dengan kebutuhan pendanaan besar dan valuasi yang sensitif terhadap suku bunga berpotensi menghadapi volatilitas lebih lanjut, terutama di sektor teknologi dan infrastruktur AI. []
Redaksi01
