Tertangkap Warga, Terduga Pencuri Besi Jakbar Jadi Korban Amuk
KEMBANGAN – Sebuah video yang memperlihatkan seorang pria diduga pelaku pencurian ditangkap dan dikeroyok warga di wilayah Kembangan, Jakarta Barat, viral di media sosial. Peristiwa tersebut kembali menyoroti persoalan keamanan lingkungan sekaligus praktik main hakim sendiri yang masih kerap terjadi di tengah masyarakat.
Dalam rekaman video yang beredar luas dan dilihat pada Rabu (14/01/2026), pria tersebut disebut-sebut tertangkap tangan saat diduga mencuri besi dari sebuah gudang kosong. Setelah aksinya diketahui warga, pelaku sempat berusaha melarikan diri sebelum akhirnya bersembunyi di dalam sebuah truk yang terparkir di sekitar lokasi kejadian.
Video tersebut memperlihatkan suasana mencekam ketika sejumlah warga mengepung truk tempat pelaku bersembunyi. Beberapa warga tampak naik ke atas truk untuk mencari dan menangkap pria tersebut. Setelah ditemukan, pelaku kemudian diturunkan dan menjadi sasaran amuk massa. Aksi pemukulan dilakukan sebelum aparat kepolisian tiba di lokasi untuk mengamankan situasi.
Kejadian ini dengan cepat menyita perhatian publik dan memicu beragam reaksi di media sosial. Sebagian warganet menyatakan kemarahan terhadap dugaan tindak pencurian yang dilakukan pelaku, sementara yang lain menyoroti tindakan warga yang dinilai berlebihan dan berpotensi melanggar hukum.
Kapolsek Kembangan, Kompol Moch Taufik, membenarkan adanya peristiwa tersebut. Ia memastikan bahwa pria yang diduga sebagai pelaku pencurian telah diamankan oleh pihak kepolisian untuk menjalani proses hukum lebih lanjut.
“Inisial JD (pelaku), usia 40 tahun,” kata Taufik.
Meski demikian, Taufik belum memberikan penjelasan secara rinci mengenai kronologi lengkap maupun barang bukti yang diamankan dalam kasus tersebut. Ia menyebut bahwa saat ini pihak kepolisian masih melakukan pemeriksaan terhadap pelaku guna mendalami dugaan tindak pidana yang dilakukan.
“Masih dalam pemeriksaan,” ujar dia.
Pihak kepolisian menegaskan bahwa setiap dugaan tindak kriminal harus diserahkan penanganannya kepada aparat penegak hukum. Aksi kekerasan oleh warga, meskipun dipicu oleh emosi dan rasa kesal, tetap berpotensi menimbulkan persoalan hukum baru. Selain membahayakan keselamatan pelaku, tindakan main hakim sendiri juga dapat membahayakan warga lain serta mengganggu ketertiban umum.
Kasus ini menambah daftar panjang peristiwa serupa yang terjadi di wilayah perkotaan, di mana pelaku kejahatan ditangkap warga dan langsung dihukum secara fisik tanpa melalui proses hukum yang semestinya. Aparat keamanan berulang kali mengingatkan masyarakat agar tetap menahan diri dan segera menghubungi pihak kepolisian apabila menemukan dugaan tindak kriminal di lingkungan sekitar.
Selain itu, fenomena pencurian besi dan barang-barang material lainnya kerap terjadi di kawasan permukiman maupun area pergudangan, terutama di lokasi yang minim pengawasan. Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri bagi aparat dan pengelola lingkungan untuk meningkatkan sistem keamanan, termasuk pemasangan kamera pengawas dan patroli rutin.
Dengan diamankannya pelaku, kepolisian diharapkan dapat mengusut tuntas kasus tersebut secara objektif dan transparan. Proses hukum yang adil dinilai penting tidak hanya untuk memberikan efek jera kepada pelaku, tetapi juga untuk mencegah terulangnya aksi kekerasan massal di masyarakat.
Peristiwa di Kembangan ini menjadi pengingat bahwa penegakan hukum seharusnya dilakukan melalui mekanisme yang berlaku, bukan melalui kekerasan kolektif yang justru berpotensi menimbulkan korban baru dan persoalan hukum lanjutan. []
Siti Sholehah.
