Syafiq Ali Razan Ditemukan Tak Bernyawa Usai 17 Hari Hilang di Gunung Slamet
JAKARTA – Pencarian panjang dan melelahkan terhadap pendaki muda yang hilang di Gunung Slamet akhirnya berakhir dengan kabar duka. Syafiq Ridhan Ali Razan (18), pendaki asal Pemalang yang dilaporkan hilang sejak akhir Desember 2025, ditemukan dalam kondisi meninggal dunia setelah 17 hari proses pencarian intensif yang melibatkan berbagai unsur.
Kepastian tersebut disampaikan oleh Kepala Desa Clekatakan, Sutrisno, melalui rekaman video yang diterima media pada Rabu siang (14/01/2026).
“Kami sampaikan bahwa survivor atas nama Ali Syafiq telah diketemukan dalam kondisi MD (meninggal dunia),” kata Sutrisno.
Penemuan jenazah Syafiq menjadi penutup dari operasi pencarian panjang yang sempat terkendala cuaca ekstrem, medan berat, serta keterbatasan visibilitas di kawasan Gunung Slamet. Syafiq ditemukan pada pukul 10.22 WIB di jalur punggungan Gunung Malang, tepatnya di sekitar area Batu Watu Langgar, yang masih berada di kawasan Gunung Slamet.
“Survivor ditemukan sekitar pukul 10.22 WIB di jalur punggungan Gunung Malang, tepatnya di sekitar area Batu Watu Langgar. Penemuan ini merupakan hasil pencarian hari ke-17, dengan tim SAR tahap dua yang baru melakukan pencarian selama dua hari,” ungkap Sutrisno.
Menurutnya, pencarian tahap kedua baru berlangsung selama dua hari sebelum akhirnya membuahkan hasil. Proses pencarian sebelumnya sempat dihentikan sementara karena faktor cuaca dan keselamatan tim di lapangan. Medan punggungan yang curam, vegetasi lebat, serta suhu ekstrem menjadi tantangan besar bagi tim pencari.
Keberhasilan menemukan Syafiq tidak terlepas dari kolaborasi berbagai pihak. Sutrisno menyampaikan apresiasi kepada seluruh unsur SAR gabungan yang telah terlibat sejak hari pertama pencarian.
“Alhamdulillah berkat kerja sama semua pihak yang ikut bergabung dalam sur gabungan yang ada, baik dari tim Wanadri, Mayapada, UPL, MPA Unsoed, Wikupala, ABGI, Mapala Batik, Mapala Kanpas, Komunitas RAPI, alhamdulillah didampingi oleh semua pihak yang alhamdulillah hari ini hadir dari Forkopimda maupun Forkopimcam Kecamatan Pulosari,” paparnya.
Keterlibatan berbagai komunitas pecinta alam, organisasi mahasiswa, relawan, hingga unsur pemerintah daerah menunjukkan besarnya solidaritas dalam misi kemanusiaan tersebut. Meski berakhir dengan duka, upaya pencarian ini dipandang sebagai wujud tanggung jawab bersama terhadap keselamatan pendaki.
Peristiwa ini kembali menjadi pengingat akan risiko tinggi aktivitas pendakian gunung, khususnya di jalur-jalur yang memiliki karakter medan ekstrem seperti Gunung Slamet. Gunung tertinggi di Jawa Tengah itu dikenal memiliki cuaca yang cepat berubah, kabut tebal, serta jalur punggungan yang rawan tersesat.
Kasus hilangnya Syafiq juga memunculkan kembali diskusi mengenai kesiapan fisik dan mental pendaki, kelengkapan logistik, serta pentingnya kepatuhan terhadap prosedur keselamatan. Selain itu, peran pengelola jalur pendakian dan sistem pemantauan pendaki turut menjadi sorotan, agar kejadian serupa dapat diminimalkan di masa mendatang.
Jenazah Syafiq selanjutnya akan dievakuasi dan diserahkan kepada pihak keluarga untuk proses pemakaman. Kepergiannya meninggalkan duka mendalam, tidak hanya bagi keluarga, tetapi juga bagi komunitas pendaki dan relawan yang selama lebih dari dua pekan berharap akan menemukan korban dalam keadaan selamat. []
Siti Sholehah.
