Longsor Bertahap Sejak 2011, Lubang Besar Muncul di Aceh Tengah

ACEH TENGAH – Munculnya lubang besar akibat pergerakan tanah di Kampung Bah, Kecamatan Ketol, Kabupaten Aceh Tengah, menjadi peringatan serius akan potensi bencana geologi yang mengancam keselamatan warga dan infrastruktur vital. Lubang menganga yang terbentuk akibat longsoran tanah itu kini berada sangat dekat dengan badan jalan penghubung Simpang Balik–Blang Mancung, jalur yang kerap dilalui masyarakat untuk aktivitas sehari-hari.

Berdasarkan pantauan di lapangan, jarak lubang tersebut dengan badan jalan hanya sekitar lima meter. Kedalamannya diperkirakan mencapai 100 meter, sehingga menimbulkan kekhawatiran akan terjadinya longsor susulan yang dapat memutus akses transportasi maupun membahayakan pengguna jalan.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh Tengah, Andalika, menjelaskan bahwa fenomena tersebut bukan merupakan sinkhole klasik yang terbentuk akibat runtuhnya rongga bawah tanah secara tiba-tiba. Menurutnya, lubang besar tersebut merupakan hasil dari proses longsoran tanah yang berlangsung secara perlahan dan berkelanjutan selama bertahun-tahun.

“Berdasarkan data dari ESDM Aceh, pergerakan tanah terus meningkat secara bertahap setiap tahun. Sejak tahun 2011 sudah dimulai pengukuran pertambahan luasan skala longsoran tanah oleh ESDM Aceh,” kata Andalika saat dimintai konfirmasi detikSumut, dilansir detikSumut, Kamis (15/01/2026).

Data dari Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Aceh menunjukkan bahwa pada tahun 2025, luasan area longsoran di Kampung Bah telah mencapai lebih dari 27.000 meter persegi. Pergerakan tersebut semakin mendekati jalan lintas Blang Mancung–Simpang Balik, yang berpotensi terdampak apabila tidak segera dilakukan penanganan teknis.

Andalika menambahkan, kajian geologi dan survei geofisika telah dilakukan sejak beberapa tahun lalu. Pada 2022, BPBD Aceh Tengah bekerja sama dengan tim ESDM Aceh melakukan penelitian menyeluruh terhadap karakteristik tanah di lokasi tersebut. Hasil kajian menyimpulkan bahwa longsoran terjadi pada lapisan tanah permukaan yang memiliki zona jenuh air tinggi.

Kondisi geologis di Kampung Bah didominasi material vulkanik yang bersifat porous dan mudah menghantarkan air. Saat curah hujan meningkat, air akan terserap ke dalam tanah dan mempercepat pergerakan massa tanah. Hal inilah yang menyebabkan aktivitas longsoran di kawasan tersebut tergolong sangat aktif dan bersifat terus-menerus.

Situasi ini memunculkan urgensi penanganan terpadu antara pemerintah daerah, instansi teknis, dan masyarakat. Selain pengawasan rutin terhadap pergerakan tanah, diperlukan pula langkah mitigasi seperti pembatasan aktivitas di sekitar zona rawan, pemasangan rambu peringatan, serta kajian lanjutan untuk menentukan opsi rekayasa teknis guna menahan laju longsoran.

BPBD Aceh Tengah ju []

Siti Sholehah.ga mengimbau masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan, terutama saat melintasi jalur tersebut, khususnya pada musim hujan. Apabila ditemukan retakan baru atau tanda-tanda pergerakan tanah, warga diminta segera melapor kepada aparat desa atau pihak berwenang.

Fenomena longsoran tanah di Kampung Bah menjadi contoh nyata bahwa ancaman bencana geologi dapat berkembang secara perlahan namun berdampak besar. Tanpa penanganan yang tepat, kondisi ini berpotensi mengganggu konektivitas wilayah sekaligus membahayakan keselamatan masyarakat di Aceh Tengah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *