Seskab: Hanya Prabowo Bertemu Bilateral dengan Trump

JAKARTA – Penandatanganan perjanjian tarif perdagangan antara Presiden RI Prabowo Subianto dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump menjadi salah satu agenda penting di sela-sela pertemuan Board of Peace (BoP) di Washington DC. Langkah bilateral tersebut disebut sebagai satu-satunya pertemuan antar kepala negara yang secara khusus membahas isu tarif dagang dalam rangkaian forum tersebut.

Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya mengungkapkan bahwa di tengah kehadiran lebih dari 15 kepala negara dan pemerintahan, hanya Presiden Prabowo yang melakukan pertemuan bilateral resmi dengan Presiden Trump.

“Jadi Bapak Presiden melakukan bilateral dengan Presiden Donald Trump, jadi kemarin ada lebih dari 15 Kepala Negara dan Pemerintah,” kata Teddy dalam jumpa pers yang disiarkan melalui YouTube Sekretaris Kabinet, Jumat (20/02/2026) malam.

Menurut Teddy, pertemuan tersebut menandai posisi strategis Indonesia dalam percaturan hubungan dagang dengan Amerika Serikat. Ia menegaskan bahwa Prabowo merupakan satu-satunya kepala negara yang menggelar pertemuan bilateral secara khusus dengan Trump di sela agenda BoP.

“Jadi kemudian satu-satunya Kepala Negara yang melakukan bilateral dengan Presiden Trump itu salah satunya, dan satu-satunya adalah Presiden Prabowo,” ungkap Teddy.

Usai penandatanganan perjanjian tarif, kedua pemimpin melanjutkan pembahasan dalam pertemuan tertutup. Pertemuan tersebut berlangsung sekitar 30 menit dan membahas sejumlah isu strategis yang belum dirinci secara terbuka kepada publik.

“Kemudian Presiden Prabowo dan Presiden Trump melaksanakan pertemuan, kurang lebih sekitar 30 menit,” lanjutnya.

Meski detail isi pembahasan belum dipaparkan secara menyeluruh, pemerintah memberi sinyal adanya pembicaraan lanjutan terkait besaran tarif yang saat ini berada pada angka 19 persen. Teddy menyampaikan harapan agar kesepakatan yang telah diteken dapat membuka peluang perbaikan kondisi tarif bagi Indonesia.

“Tentunya banyak pembicaraan di sana, dan kita tunggu, mungkin dalam waktu dekat, yang sekarang 19 persen, ya mungkin ke depan akan menjadi lebih baik lagi untuk Indonesia, kita tunggu saja,” ujarnya.

Penandatanganan perjanjian tersebut memperlihatkan intensitas komunikasi tingkat tinggi antara Jakarta dan Washington di tengah dinamika ekonomi global. Di saat banyak negara berfokus pada agenda perdamaian dalam forum BoP, Indonesia justru memanfaatkan momentum tersebut untuk memperkuat posisi tawar dalam isu perdagangan bilateral.

Langkah ini juga menunjukkan pendekatan diplomasi yang simultan, yakni menjaga komitmen pada agenda perdamaian internasional sekaligus mengamankan kepentingan ekonomi nasional. Dengan status sebagai satu-satunya pemimpin yang melakukan pertemuan bilateral khusus dengan Trump, posisi Indonesia dinilai memperoleh perhatian tersendiri dalam forum tersebut.

Ke depan, publik menanti dampak konkret dari perjanjian tarif ini terhadap hubungan dagang kedua negara. Apakah angka tarif 19 persen akan mengalami penyesuaian atau terdapat skema baru yang lebih menguntungkan, menjadi bagian dari perkembangan yang masih dinantikan hasilnya. Pemerintah pun meminta masyarakat menunggu pengumuman resmi berikutnya terkait implementasi kesepakatan tersebut. []

Siti Sholehah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *