Kredit Mikro Jadi Penyelamat Pertumbuhan UMKM Nasional
JAKARTA – Pertumbuhan kredit usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) nasional masih bergerak terbatas pada awal kuartal II 2026. Namun, segmen usaha mikro justru menjadi penopang utama penyaluran kredit perbankan di tengah tekanan ekonomi dan lemahnya pertumbuhan kredit usaha kecil serta menengah.
Data Bank Indonesia (BI) menunjukkan kredit UMKM per April 2026 tumbuh 0,2 persen secara tahunan atau year-on-year (YoY). Pertumbuhan tersebut terutama didorong kredit usaha mikro yang naik 0,7 persen YoY, sementara kredit usaha kecil terkontraksi 0,2 persen dan kredit usaha menengah turun 0,4 persen.
Kondisi tersebut membuat sejumlah bank tetap memfokuskan ekspansi bisnis pada sektor mikro karena dinilai lebih tahan terhadap gejolak ekonomi. PT Bank Sahabat Sampoerna misalnya, masih menjadikan pembiayaan UMKM sebagai portofolio utama perusahaan.
Direktur PT Bank Sahabat Sampoerna Hendra Rahardja mengatakan porsi kredit UMKM di bank tersebut mencapai 59 persen dari total portofolio kredit hingga kuartal I 2026. Angka itu meningkat dibandingkan posisi akhir 2025.
“Fokus Bank Sampoerna tidak pernah berubah. Kami berkomitmen penuh untuk menjadi mitra pertumbuhan bagi para pelaku UMKM,” kata Hendra sebagaimana dilansir Kontan, Selasa, (26/05/2026).
Menurut Hendra, Bank Sampoerna menyiapkan sejumlah strategi untuk menjaga pertumbuhan kredit UMKM hingga akhir tahun. Langkah tersebut meliputi penyederhanaan proses pengajuan kredit, penguatan kolaborasi dengan perusahaan teknologi finansial (financial technology/fintech), serta perluasan jaringan layanan fisik guna menjangkau nasabah baru.
Berdasarkan laporan keuangan per April 2026, total kredit Bank Sampoerna tercatat sebesar Rp10,77 triliun atau turun 8,42 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Sementara itu, PT Bank Amar Indonesia Tbk (AMAR) juga masih agresif mengembangkan kredit mikro melalui layanan digital. Hingga kuartal I 2026, kredit segmen mikro Amar Bank tumbuh 22,7 persen secara tahunan menjadi Rp1,9 triliun.
Direktur Retail Banking Amar Bank Abraham Lumban Batu menilai pertumbuhan tersebut mencerminkan meningkatnya kepercayaan pelaku usaha terhadap layanan perbankan digital.
“Kami optimistis, dengan memanfaatkan keunggulan teknologi digital dan memperkuat kolaborasi ekosistem, Amar Bank dapat terus mendorong pertumbuhan ini secara berkelanjutan hingga akhir tahun 2026,” ucapnya.
Secara keseluruhan, kredit Amar Bank pada kuartal I 2026 tumbuh 30,62 persen menjadi Rp4,16 triliun dengan rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) sebesar 8,41 persen. Amar Bank memastikan akan terus memprioritaskan layanan bagi pelaku UMKM, khususnya sektor usaha mikro.
Di sisi lain, Guru Besar Universitas Airlangga Rahma Gafmi menilai segmen mikro memang cenderung lebih tangguh menghadapi perlambatan ekonomi dibandingkan sektor usaha kecil dan menengah. Menurutnya, perputaran ekonomi masyarakat saat kondisi tertekan umumnya lebih banyak terjadi di sektor mikro.
Namun demikian, Rahma mengingatkan sektor mikro juga sangat bergantung pada daya beli masyarakat dan stabilitas harga pangan. Jika inflasi pangan tidak terkendali, pendapatan riil pelaku usaha mikro berpotensi menurun sehingga memengaruhi kemampuan membayar cicilan kredit.
“Selain terkait daya beli, inflasi pangan yang tidak terkendali juga bisa menggerus pendapatan riil pelaku usaha mikro. Jika itu terjadi, kapasitas membayar cicilan akan terganggu dan NPL bank bisa naik,” jelasnya.
Rahma memproyeksikan pertumbuhan kredit UMKM hingga akhir 2026 masih bergerak moderat. Ia menyebut digitalisasi layanan dan penguatan likuiditas menjadi strategi penting agar perbankan tetap mampu menjaga efisiensi pembiayaan di sektor UMKM.
“Segmen mikro kemungkinan besar akan tetap menjadi katup penyelamat pertumbuhan kredit UMKM nasional, mengingat segmen menengah cenderung defensif dan sensitif terhadap guncangan eksternal,” kata Rahma. []
Penulis: Ammar Rezqianto | Penyunting: Redaksi01
