Penjualan Kurma di Tanah Abang Tembus 4 Ton per Hari

JAKARTA – Aktivitas perdagangan di Pasar Tanah Abang kembali menggeliat pada Ramadan tahun ini. Riuh suara pedagang yang menawarkan barang dagangan, deru kendaraan yang saling bersahutan, hingga alunan lagu pengamen di depan pertokoan menjadi latar kesibukan pusat grosir terbesar di Asia Tenggara tersebut. Di tengah keramaian itu, komoditas kurma menjadi salah satu produk yang paling diburu masyarakat.

Sejak lama, Pasar Tanah Abang dikenal bukan hanya sebagai pusat penjualan pakaian, tetapi juga sebagai sentra oleh-oleh haji dan kebutuhan khas Ramadan. Momentum bulan puasa selalu mendorong peningkatan permintaan kurma, baik untuk konsumsi pribadi maupun untuk kebutuhan dalam jumlah besar.

Lonjakan permintaan tahun ini dirasakan langsung oleh Andi, pemilik jaringan toko Mekkah Group yang berlokasi di Blok F. Ia mengungkapkan bahwa peningkatan penjualan kurma dipengaruhi sejumlah faktor, termasuk adanya program makan bergizi gratis (MBG) yang turut menyerap pasokan dalam jumlah signifikan.

“Kalau kenaikan itu kan terbagi banyak faktor. Pertama memang dari daya beli, dan ada juga tahun ini kan kurma buat MBG. Jadi daya serap itu banyaknya buat MBG,” kata Andi kepada detikcom, Rabu (25/02/2026).

Menurut Andi, tren kenaikan pembelian sebenarnya sudah terlihat beberapa pekan sebelum Ramadan dimulai. Banyak pembeli datang untuk berbelanja dalam jumlah besar atau borongan. Namun, setelah memasuki minggu pertama puasa, ritme pembelian cenderung menurun sebagaimana pola tahunan yang biasa terjadi.

“Kalau masyarakat di awal kemarin, kalau ini sudah seminggu puasa memang biasanya ada penurunan. Cuma di awal kemarin memang antusiasme masyarakat masih bagus, disebabkan memang puasa kan orang beli kurma,” tuturnya.

Dalam kondisi normal selama Ramadan, tanpa menghitung pesanan untuk MBG, total distribusi kurma dari 14 cabang tokonya mencapai 3 hingga 4 ton per hari. Angka tersebut mencerminkan tingginya perputaran barang di tingkat grosir.

“Kita hitung non-MBG ya. Kita kan toko ada 14 cabang dan saya kan bagian pembelanjaan. Sehari bisa keluar 3-4 ton sih untuk 14 toko,” ucapnya.

Adapun pesanan dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang menjadi bagian dari program MBG bersifat fluktuatif. Permintaan bergantung pada mekanisme pencairan dana serta kebutuhan masing-masing yayasan pengelola.

“Tergantung. Untuk MBG kan kita nggak cuma satu yang beli. Mereka ada yang berani ambil setelah instruksi, ada yang duit cair baru ambil, ada juga kalau dia habis baru ambil, kan nggak menentu. Kayak hari ini misalnya dapat orderan 100 karton, berarti 1 ton, itu kan dadakan,” papar Andi.

“Biasanya kan kalau SPPG punya yayasan. Yayasan itu bagi-bagi SPPG mereka. Kalau setahu saya, 1 SPPG dengan kapasitas 2.000, itu sebulan perlunya 500 kilogram-an sih,” jelasnya lagi.

Meski volume penjualan meningkat signifikan, Andi mengakui margin keuntungan justru mengalami penurunan, khususnya untuk pesanan MBG. Jika pada penjualan reguler ia dapat mengambil keuntungan sekitar Rp 5.000 per kilogram, maka untuk MBG margin yang ditetapkan hanya sekitar Rp 2.000 per kilogram.

“Kenaikan omzet tapi pengurangan keuntungan. Soalnya kalau ke MBG kan kita sama pemerintah nggak boleh ambil untung besar. Soalnya SPPG pengambilan banyak, 100 karton. Untungnya Rp 20.000 per karton, kali saja itu, paling Rp 2 juta. Padahal kita modal besar, modal Rp 30 juta untung Rp 2 juta ya sudah lah,” terangnya.

Secara keseluruhan, omzet penjualan kurma selama Ramadan tahun ini tercatat sekitar 1,5 kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Namun, menurut Andi, peningkatan tersebut lebih terasa pada volume barang yang keluar dibandingkan pada besaran keuntungan bersih yang diperoleh.

“Kenaikan omzet ya cuma 1,5 kali lipat dari Ramadan tahun lalu, nggak yang mencolok banget. Cuma memang kelihatannya secara kuantitas banyak, barang keluar. Namanya untung tipis,” pungkas Andi. []

Siti Sholehah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *