Serangan AS-Israel di Iran Tewaskan 787 Orang

TEHERAN – Jumlah korban jiwa akibat serangkaian serangan militer yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel di wilayah Iran terus meningkat. Organisasi kemanusiaan nasional Iran, Iranian Red Crescent Society, melaporkan bahwa ratusan warga tewas sejak operasi militer tersebut dimulai pada akhir Februari 2026.

Lembaga tersebut menyampaikan bahwa korban meninggal mencapai ratusan orang di berbagai wilayah negara itu. Serangan yang berlangsung beberapa hari terakhir disebut menghantam sejumlah kota serta infrastruktur penting yang tersebar di berbagai provinsi Iran.

“Menurut laporan lapangan dari tim operasional, sangat disayangkan, sedikitnya 787 warga negara ini telah martir dalam serangan-serangan ini,” kata Bulan Sabit Merah Iran dalam pernyataan terbaru via situs resminya, seperti dilansir AFP, Selasa (03/03/2026).

Namun demikian, angka korban yang disampaikan organisasi tersebut belum dapat diverifikasi secara independen oleh pihak lain. Situasi konflik yang masih berlangsung membuat akses informasi dari sejumlah wilayah terdampak menjadi terbatas.

Dalam pernyataan yang sama, Bulan Sabit Merah Iran menyebut bahwa lebih dari seribu serangan udara telah dilancarkan oleh pasukan Amerika Serikat dan Israel sejak Sabtu (28/02/2026). Operasi militer itu dilaporkan menargetkan ratusan lokasi yang tersebar di banyak kota di Iran.

Serangan-serangan tersebut disebut menghantam sedikitnya 153 kota dan lebih dari 500 titik yang terdiri dari berbagai fasilitas militer maupun lokasi strategis lainnya. Intensitas serangan yang tinggi menyebabkan kerusakan luas serta meningkatnya jumlah korban di sejumlah wilayah.

Sejumlah jurnalis dari kantor berita AFP yang berada di Iran juga melaporkan terdengarnya beberapa ledakan keras di sekitar ibu kota Teheran pada Selasa (03/03/2026). Ledakan tersebut memicu kekhawatiran warga karena menandakan konflik masih berlangsung.

Media lokal Iran turut melaporkan bahwa suara ledakan juga terdengar di wilayah Karaj, yang berada di sebelah barat Teheran, serta di Isfahan yang terletak di bagian tengah negara tersebut. Kedua wilayah itu diduga menjadi salah satu sasaran serangan terbaru.

Serangan militer ini merupakan bagian dari operasi terkoordinasi antara Amerika Serikat dan Israel yang dimulai pada Sabtu (28/02/2026). Dalam operasi tersebut, kedua negara menargetkan berbagai fasilitas militer Iran, termasuk sistem rudal, instalasi angkatan laut, serta pusat komando dan kendali militer.

Konflik tersebut juga menewaskan sejumlah pejabat penting Iran. Salah satu tokoh yang dilaporkan tewas dalam rangkaian serangan tersebut adalah pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei, bersama sejumlah pejabat militer dan politik lainnya.

Sebagai balasan atas serangan tersebut, Iran melancarkan serangan menggunakan rudal dan drone ke berbagai sasaran di Israel serta pangkalan militer Amerika Serikat yang berada di kawasan Teluk. Aksi saling serang antara kedua pihak hingga kini masih berlangsung dan meningkatkan ketegangan di kawasan Timur Tengah.

Pemerintah Iran mengklaim bahwa serangan balasan mereka telah menyebabkan korban di pihak Amerika Serikat. Teheran menyebut setidaknya 560 personel militer AS tewas atau terluka akibat serangan tersebut. Namun, pihak Amerika Serikat sejauh ini hanya mengonfirmasi empat tentaranya tewas dalam serangan balasan Iran.

Situasi ini menunjukkan eskalasi konflik yang semakin serius dan berpotensi memperluas dampaknya di kawasan Timur Tengah. Banyak pihak internasional kini menyoroti perkembangan tersebut karena dikhawatirkan dapat memicu konflik regional yang lebih luas jika tidak segera mereda. []

Siti Sholehah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *