Konflik Timur Tengah Ancam Stabilitas Pasokan Migas Dunia
JAKARTA – Memanasnya konflik di kawasan Timur Tengah akibat perang yang melibatkan Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran menimbulkan kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan minyak dan gas (migas) dunia. Kawasan tersebut selama ini menjadi salah satu pusat produksi energi global yang memasok kebutuhan berbagai negara besar. Jika konflik terus meluas dan berlangsung lama, sejumlah negara diperkirakan akan menghadapi risiko gangguan pasokan energi.
Situasi menjadi semakin rentan setelah serangan militer yang dilancarkan Israel dan Amerika Serikat terhadap Iran. Ketegangan tersebut dikhawatirkan berdampak pada jalur distribusi energi, terutama jika mengganggu wilayah strategis seperti Selat Hormuz yang merupakan salah satu rute utama pengiriman minyak dunia.
Beberapa negara dengan ketergantungan tinggi terhadap pasokan migas dari Timur Tengah mulai menjadi sorotan karena berpotensi mengalami dampak signifikan apabila gangguan distribusi terjadi.
Salah satu negara yang rentan adalah India. Berdasarkan laporan Reuters pada Selasa (03/03/2026), porsi minyak dari Timur Tengah dalam total impor India meningkat signifikan pada awal tahun ini. Pada Januari 2026, sekitar 55% impor minyak India berasal dari kawasan tersebut atau setara dengan sekitar 2,74 juta barel per hari. Peningkatan ini terjadi setelah India mengurangi pembelian minyak dari Rusia.
Menteri Perminyakan India, Hardeep Singh Puri, menyatakan bahwa negaranya masih memiliki cadangan yang cukup untuk menjaga stabilitas pasokan energi dalam jangka pendek.
Ia menyebutkan bahwa India memiliki kapasitas penyimpanan minyak mentah dan produk bahan bakar olahan, baik yang dikelola perusahaan energi maupun yang berada dalam cadangan strategis pemerintah, yang diperkirakan mampu memenuhi kebutuhan sekitar 74 hari.
Namun demikian, sejumlah sumber anonim dari sektor penyulingan minyak menyampaikan perkiraan berbeda. Mereka menyebut persediaan minyak yang tersedia saat ini kemungkinan hanya mampu bertahan sekitar 20 hingga 25 hari apabila terjadi gangguan pasokan yang serius.
Selain minyak, India juga sangat bergantung pada impor gas alam cair atau LNG. Negara tersebut merupakan importir LNG terbesar keempat di dunia dan sekitar dua pertiga pasokannya berasal dari negara Timur Tengah seperti Qatar, Uni Emirat Arab, dan Oman.
Ketergantungan terhadap energi Timur Tengah juga terlihat pada China. Negara ini merupakan importir minyak mentah terbesar di dunia dan menjadi pembeli utama minyak Iran. Sekitar setengah dari total impor minyak China berasal dari kawasan Timur Tengah.
Selain minyak, China juga tercatat sebagai importir LNG terbesar di dunia. Sekitar sepertiga pasokan gas alam cair yang dikonsumsi negara tersebut berasal dari negara-negara di kawasan tersebut.
Pada tahun lalu, China membeli rata-rata 1,38 juta barel minyak Iran per hari, atau sekitar 13% dari total impor minyaknya. Selain itu, sekitar 42 juta barel minyak mentah Iran tercatat tersimpan di kapal tanker di kawasan Asia hingga akhir Januari 2026.
Dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah China juga terus memperkuat cadangan energi strategisnya. Negara tersebut membangun fasilitas penyimpanan baru serta memanfaatkan kondisi pasar global untuk membeli minyak ketika harga atau pasokan sedang melimpah.
Meski data resmi mengenai cadangan tersebut jarang dipublikasikan, sejumlah analis memperkirakan China memiliki sekitar 900 juta barel cadangan minyak strategis, jumlah yang diperkirakan cukup untuk memenuhi kebutuhan impor selama kurang dari tiga bulan.
Jepang juga termasuk negara yang sangat bergantung pada pasokan energi dari Timur Tengah. Sekitar 95% kebutuhan minyak Jepang dipenuhi dari kawasan tersebut, dan sekitar 70% pengirimannya melewati Selat Hormuz.
Pada Januari lalu, Jepang mengimpor sekitar 2,8 juta barel minyak per hari. Dari jumlah tersebut, sekitar 1,6 juta barel berasal dari Arab Saudi, sementara sisanya dipasok oleh Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Qatar.
Untuk mengantisipasi gangguan pasokan, Jepang memiliki cadangan minyak darurat yang cukup besar. Persediaan tersebut diperkirakan mampu memenuhi kebutuhan konsumsi energi hingga 254 hari.
Selain itu, Jepang merupakan importir LNG terbesar kedua di dunia. Sekitar 40% pasokan LNG Jepang berasal dari Australia, sementara sekitar 11% didatangkan dari negara-negara Timur Tengah seperti Qatar, Oman, dan Uni Emirat Arab.
Korea Selatan juga menghadapi risiko serupa karena hampir seluruh kebutuhan energinya bergantung pada impor. Negara tersebut memperoleh sekitar 70% minyak dan sekitar 20% LNG dari kawasan Timur Tengah.
Pemerintah Korea Selatan sebelumnya menyatakan bahwa cadangan minyak strategis negara tersebut telah mencapai sekitar 100 juta barel. Sementara itu, sektor swasta memiliki tambahan cadangan sekitar 95 juta barel.
Dengan total cadangan tersebut, Korea Selatan diperkirakan memiliki pasokan energi yang cukup untuk memenuhi kebutuhan selama sekitar 208 hari.
Di kawasan Eropa, ketergantungan terhadap minyak mentah dari Timur Tengah relatif lebih kecil, yakni sekitar 5% dari total impor. Namun, negara-negara Eropa masih sangat bergantung pada kawasan tersebut untuk pasokan produk bahan bakar olahan, khususnya distilat menengah seperti diesel dan bahan bakar pesawat.
Sementara itu, Amerika Serikat telah mengurangi ketergantungan pada energi Timur Tengah dalam beberapa tahun terakhir. Pada tahun lalu, AS mengimpor kurang dari 0,9 juta barel minyak per hari dari negara-negara Teluk seperti Arab Saudi, Irak, dan Kuwait.
AS juga telah lama melarang pembelian minyak dari Iran sejak krisis sandera pada tahun 1979. Selain itu, sebagai eksportir LNG terbesar di dunia, Amerika Serikat hampir tidak mengimpor gas alam cair dari Timur Tengah. []
Siti Sholehah.
