Israel Ungkap Rencana Bunuh Khamenei Disusun Sejak 2025
JAKARTA – Menteri Pertahanan Israel Israel Katz mengungkapkan bahwa keputusan untuk membunuh Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei sebenarnya telah ditetapkan sejak November 2025. Pernyataan tersebut disampaikan setelah Khamenei dilaporkan tewas dalam serangan udara gabungan Amerika Serikat dan Israel pada akhir Februari 2026.
Menurut laporan yang dikutip dari Reuters, Khamenei disebut tewas pada jam-jam awal operasi militer yang dilancarkan pada hari Sabtu. Serangan tersebut merupakan bagian dari operasi udara besar-besaran yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap sejumlah target penting di Iran.
Operasi militer tersebut juga disebut sebagai pertama kalinya seorang pemimpin tertinggi Iran terbunuh melalui serangan udara dalam konflik militer. Serangan pembuka dari operasi gabungan tersebut tidak hanya menargetkan fasilitas militer, tetapi juga menewaskan sejumlah pemimpin penting Iran.
Konflik yang dipicu oleh serangan itu kini telah memasuki hampir satu pekan sejak pertama kali dilancarkan. Ketegangan di kawasan Timur Tengah pun semakin meningkat dan memicu kekhawatiran akan meluasnya perang regional.
Dalam wawancaranya dengan stasiun televisi Israel N12, Menteri Pertahanan Israel Israel Katz menjelaskan bahwa rencana untuk menghabisi Khamenei telah dibahas dalam pertemuan rahasia antara dirinya dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada akhir tahun lalu.
“Pada bulan November lalu, kami telah mengadakan pertemuan dengan perdana menteri dalam forum yang sangat tertutup dan perdana menteri (Benjamin Netanyahu) menetapkan tujuan untuk melenyapkan Khamenei,” kata Katz kepada berita TV N12 Israel.
Ia mengungkapkan bahwa rencana tersebut kemudian disampaikan kepada pemerintah Amerika Serikat. Pembahasan mengenai operasi tersebut terus berkembang hingga akhirnya dipercepat pada sekitar Januari 2026.
Menurut Katz, percepatan rencana tersebut dipicu oleh situasi politik di Iran yang saat itu tengah dilanda gelombang protes. Israel menilai kondisi tersebut dapat mendorong pemerintah Iran mengambil langkah agresif terhadap Israel maupun kepentingan Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.
Pemerintah Israel mengkhawatirkan bahwa tekanan politik terhadap kepemimpinan ulama di Iran dapat memicu serangan balasan yang menyasar wilayah Israel atau pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan tersebut.
Di sisi lain, Israel selama ini menyatakan bahwa program nuklir Iran serta pengembangan rudal balistik menjadi ancaman serius bagi keamanan negaranya. Oleh karena itu, operasi militer terhadap Iran disebut sebagai bagian dari upaya untuk menghilangkan ancaman yang dianggap bersifat eksistensial.
Selain itu, Israel juga menyatakan bahwa operasi militer tersebut memiliki tujuan untuk mendorong terjadinya perubahan rezim di Iran. Namun hingga saat ini, para pemimpin Iran belum menunjukkan tanda-tanda akan melepaskan kekuasaan mereka.
Perkembangan situasi ini terus menjadi perhatian dunia internasional karena konflik antara Israel dan Iran berpotensi memicu eskalasi yang lebih luas di kawasan Timur Tengah.
Banyak pihak khawatir bahwa meningkatnya konfrontasi militer antara kedua negara dapat memperbesar risiko terjadinya perang regional yang melibatkan lebih banyak negara di kawasan tersebut. []
Siti Sholehah.
