Usai Konflik Iran, Trump Singgung Langkah terhadap Kuba
JAKARTA – Presiden Amerika Serikat memberi sinyal kemungkinan langkah kebijakan luar negeri baru setelah konflik dengan Iran. Negara yang disebut berpotensi menjadi fokus berikutnya adalah Kuba, yang dinilai berada dalam kondisi politik dan ekonomi yang rapuh.
Pernyataan tersebut disampaikan Presiden AS, Donald Trump saat berbicara di Gedung Putih dalam sebuah acara yang dihadiri tim sepak bola Inter Miami CF, juara Major League Soccer 2025. Dalam kesempatan itu, Trump menyinggung situasi di Kuba sekaligus memuji kinerja Menteri Luar Negeri AS.
Trump menyebut Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, telah melakukan pekerjaan yang baik terkait kebijakan Amerika Serikat terhadap Kuba. Pemerintah AS dalam beberapa waktu terakhir diketahui meningkatkan tekanan ekonomi terhadap negara tersebut melalui berbagai sanksi.
“Apa yang terjadi dengan Kuba sungguh luar biasa,” cetus Presiden AS itu.
Trump juga memberi isyarat bahwa fokus kebijakan Amerika Serikat saat ini masih tertuju pada konflik dengan Iran. Namun ia menilai langkah terkait Kuba kemungkinan akan menjadi agenda berikutnya setelah konflik di Timur Tengah tersebut selesai.
“Kami pikir kami ingin menyelesaikan yang ini (perang Iran-red) terlebih dahulu, tetapi itu hanya masalah waktu, sebelum Anda dan banyak orang luar biasa akan kembali ke Kuba,” kata Trump kepada para hadirin yang sebagian besar berasal dari komunitas keturunan Kuba di Miami.
Pernyataan tersebut memicu perhatian karena menunjukkan kemungkinan perubahan besar dalam kebijakan luar negeri Amerika Serikat di kawasan Karibia. Sejumlah pihak menilai ucapan Trump mengindikasikan potensi tekanan yang lebih besar terhadap pemerintahan komunis di Havana.
Selama beberapa tahun terakhir, Washington memang memperketat berbagai sanksi ekonomi terhadap Kuba. Kebijakan tersebut dilakukan dengan tujuan meningkatkan tekanan terhadap pemerintahan negara pulau tersebut.
Situasi ekonomi Kuba sendiri diketahui menghadapi tantangan berat, terutama setelah pasokan minyak dari Venezuela terganggu. Selama ini, Venezuela menjadi salah satu pemasok energi penting bagi Kuba.
Trump bahkan menyatakan bahwa Kuba berada di ambang perubahan besar. Ia menilai pemerintahan di Havana berpotensi runtuh dalam waktu dekat akibat tekanan ekonomi yang semakin meningkat.
Pernyataan itu muncul di tengah meningkatnya aktivitas militer Amerika Serikat di berbagai kawasan dunia. Sebelumnya, pemerintahan Trump juga melakukan operasi militer di Venezuela yang berujung pada penangkapan Presiden negara tersebut, Nicolas Maduro.
Trump sendiri menilai kekuatan militer Amerika Serikat saat ini berada pada posisi yang sangat kuat dan mampu digunakan untuk menghadapi berbagai ancaman global.
“Saya telah membangun militer dan membangun kembali pada masa jabatan pertama saya, dan kita telah menggunakannya, lebih dari yang saya inginkan, jujur saja, tetapi ketika kita menggunakannya, kita mendapati bahwa itu memang berhasil,” ujarnya.
Pernyataan Trump tersebut memicu berbagai spekulasi mengenai arah kebijakan luar negeri Amerika Serikat ke depan, terutama terkait kemungkinan meningkatnya tekanan terhadap Kuba.
Situasi ini juga menjadi perhatian sejumlah pengamat internasional yang menilai ketegangan geopolitik dapat meluas ke kawasan Amerika Latin jika kebijakan konfrontatif terhadap Kuba benar-benar dijalankan. []
Siti Sholehah.
