IHSG Dibayangi Tekanan Global, Investor Diminta Waspada Usai Lebaran

JAKARTA – Ketidakpastian global masih menjadi faktor dominan yang membayangi pembukaan kembali perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 25 Maret 2026, meskipun peluang penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tetap terbuka pascalibur panjang Lebaran. Pelaku pasar diperkirakan cenderung berhati-hati dalam mengambil posisi di tengah dinamika eksternal yang belum sepenuhnya stabil.

Pengamat Pasar Modal Hendra Wardana menilai, arah pergerakan IHSG dalam jangka menengah sangat bergantung pada meredanya tekanan global, termasuk kebijakan suku bunga Amerika Serikat (AS) serta kondisi geopolitik dan harga energi dunia.

“IHSG berpotensi kembali bergerak menuju area 7.200 hingga 7.300 dalam jangka menengah,” ujar Hendra kepada Liputan6, Selasa (24/03/2026), sebagaimana dilansir Liputan6, Selasa (24/03/2026).

Ia menjelaskan, meskipun secara historis IHSG kerap mengalami technical rebound setelah libur panjang, kondisi tahun ini dinilai berbeda karena investor masih menunggu kepastian arah kebijakan moneter global. Ketidakpastian tersebut membuat pelaku pasar cenderung menahan aksi beli secara agresif.

“Setelah periode libur panjang Lebaran, peluang terjadinya rebound tetap terbuka,” kata Hendra.

Menurutnya, tekanan yang terjadi sebelum libur lebih banyak dipicu faktor teknikal, terutama kebutuhan likuiditas investor. Namun, volatilitas masih berpotensi terjadi pada awal perdagangan karena pelaku pasar melakukan penyesuaian portofolio.

“Pasar saham Indonesia saat ini memang sedang berada dalam fase yang cukup sensitif. Tekanan global dari konflik geopolitik di Timur Tengah, kenaikan harga energi, serta ketidakpastian arah kebijakan suku bunga oleh Jerome Powell di Federal Reserve menjadi faktor eksternal yang membebani pasar,” ujarnya.

Ia menambahkan, sikap hati-hati investor asing terhadap pasar emerging market turut memperlambat arus masuk dana ke pasar domestik. Kondisi ini membuat penguatan IHSG diperkirakan berlangsung terbatas dalam jangka pendek.

Meski demikian, peluang penguatan tetap terbuka apabila sejumlah indikator eksternal menunjukkan perbaikan, seperti stabilnya harga minyak, nilai tukar rupiah, serta kembalinya aliran dana asing ke dalam negeri.

“Jika harga minyak kembali stabil, nilai tukar rupiah mampu menjaga stabilitasnya, serta arus dana asing kembali masuk ke pasar domestik, maka IHSG berpotensi kembali bergerak,” pungkasnya.

Dalam situasi tersebut, investor disarankan tetap selektif dan disiplin dalam menerapkan manajemen risiko. Strategi akumulasi bertahap pada saham berfundamental kuat dinilai lebih tepat dibandingkan pembelian agresif, serta menghindari aksi panic selling saat pasar bergejolak. []

Penulis: … | Penyunting: Redaksi01

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *