Rupiah Tembus Rp17.000, BI Siap Intervensi Pasar Global
JAKARTA – Kebijakan intervensi Bank Indonesia (BI) diperkirakan akan kembali diuji saat pasar keuangan domestik dibuka pascalibur Lebaran, menyusul tekanan nilai tukar rupiah yang telah menembus level psikologis Rp17.000 per dolar Amerika Serikat (AS) di pasar luar negeri pada Senin, 23 Maret 2026.
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah tercatat melemah ke posisi Rp17.006 per dolar AS atau terdepresiasi 0,46 persen dibandingkan penutupan terakhir sebelum libur. Secara tahun kalender berjalan, pelemahan rupiah mencapai 1,88 persen, seiring menguatnya indeks dolar AS (US Dollar Index/DXY) ke level 99,81.
Tekanan terhadap rupiah terjadi di tengah eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah yang mendorong peralihan modal global ke aset safe haven. Kondisi ini juga dialami mata uang utama dunia seperti euro, yen Jepang, dan pound sterling Inggris yang ikut tertekan.
”Pasar cenderung beranggapan bahwa negara dan ekonomi yang menikmati lonjakan pasokan dari sektor energi kemungkinan akan berkinerja lebih baik daripada negara dan ekonomi yang terdampak negatif,” kata Ahli Strategi Mata Uang di National Australia Bank Rodrigo Catril, dikutip dari Reuters, sebagaimana diberitakan Kompas, Selasa (24/03/2026).
Seiring tekanan eksternal tersebut, ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga global turut berubah. Jika sebelumnya pasar memperkirakan pemangkasan suku bunga acuan oleh bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed), sebanyak dua kali, kini peluang tersebut menyusut menjadi satu kali atau bahkan tertunda.
”Jika pasar memperkirakan siklus pengetatan kebijakan moneter AS, menurut pandangan kami, kurs dolar AS akan menguat tajam terhadap semua mata uang,” ujar Kepala Ekonom Internasional di Commonwealth Bank of Australia Joseph Capurso, dikutip dari Reuters.
Di sisi domestik, kerentanan nilai tukar dinilai masih tinggi karena ketergantungan pada aliran dana asing. Managing Director Political Economy and Policy Studies (PEPS) Anthony Budiawan menilai stabilitas rupiah dalam satu dekade terakhir lebih banyak ditopang oleh masuknya modal eksternal dibandingkan kekuatan fundamental.
”Cadangan devisa Indonesia besar dalam angka, tetapi terisi gelembung akumulasi utang luar negeri, terutama oleh pemerintah dan Bank Indonesia,” katanya dalam keterangan tertulis.
Ia menambahkan, tren jangka panjang menunjukkan kontradiksi antara peningkatan cadangan devisa dan pelemahan rupiah.
”Tetapi, pada saat yang sama, rupiah justru melemah dari sekitar Rp 12.000 menjadi Rp 17.000 per dolar AS. Fakta ini mencerminkan kontradiksi yang perlu diwaspadai, yakni cadangan naik, tetapi rupiah melemah,” ujarnya.
Dalam menghadapi tekanan tersebut, BI menegaskan kesiapan melakukan intervensi di pasar Non-Deliverable Forward (NDF) global guna meredam volatilitas.
”Kami terus memantau dan seandainya dibutuhkan, kami akan masuk ke market untuk melakukan intervensi di pasar NDF global,” ujar Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti pada konferensi pers, Selasa (17/03/2026).
Selama periode libur Idulfitri 1447 Hijriah pada 18-24 Maret 2026, BI menghentikan sementara seluruh operasi moneter rupiah dan valuta asing (valas). Aktivitas tersebut akan kembali normal saat pasar dibuka pada Rabu, 25 Maret 2026.
Pengamat ekonomi Ibrahim Assuaibi memperkirakan tekanan terhadap rupiah masih berlanjut pada awal perdagangan.
”Dalam waktu seminggu ke depan, rupiah kemungkinan masih akan melemah. Saya memprediksi, dalam pembukaan pasar pada Rabu, kemungkinan rupiah di level Rp 17.050. Ini bisa terjadi karena kondisi geopolitik di Timur Tengah terus memanas,” kata Ibrahim.
Ia juga mengingatkan potensi tekanan tambahan akibat aksi pembelian dolar AS secara front loading oleh pelaku usaha menjelang penerapan kebijakan baru BI pada April 2026.
Dengan kombinasi tekanan global dan domestik, pergerakan rupiah dalam jangka pendek diperkirakan masih fluktuatif. Stabilitas nilai tukar ke depan sangat bergantung pada efektivitas intervensi BI serta perkembangan konflik geopolitik yang memengaruhi arus modal global. []
Penulis: Agustinus Yoga Primantoro | Penyunting: Redaksi01
