Unik! Pasar Gede Solo Sediakan Los Khusus Daging Babi, Diminati Pemburu Kuliner
SOLO – Keberadaan los khusus daging babi di Pasar Gede Hardjonagoro memperkuat posisi pasar tradisional tersebut sebagai pusat perdagangan multikultur sekaligus destinasi wisata kuliner unggulan di Kota Surakarta, Jawa Tengah, di tengah meningkatnya minat masyarakat terhadap ragam kuliner berbasis daging babi.
Pasar Gede Hardjonagoro menjadi satu-satunya pasar tradisional di Kota Surakarta yang menyediakan los khusus pedagang daging babi. Fasilitas ini tidak hanya mendukung kebutuhan komunitas tertentu, tetapi juga menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung yang mencari kelengkapan komoditas pangan dalam satu lokasi.
Koordinator Komunitas Paguyuban Pasar Gede sekaligus Sekretaris Pasamuan Pasar Tradisional Kota Surakarta (Papatsuta), Wiharto, menjelaskan bahwa keberadaan los tersebut tidak terlepas dari karakter kawasan sekitar pasar yang dikenal sebagai wilayah Pecinan. “Di sini kan wilayah Pecinan. Kalau jualan daging babi di pasar lain mungkin tidak laku atau bahkan bisa diprotes,” kata Wiharto saat ditemui, sebagaimana diwartakan Espos, Senin, (23/03/2026).
Ia menyebutkan, saat ini terdapat sekitar 40 pedagang daging yang beraktivitas di Pasar Gede, termasuk pedagang daging babi yang menempati area khusus di sisi timur pasar, berdampingan dengan los daging sapi, ikan laut, dan daging ayam. Penataan zonasi tersebut dilengkapi papan informasi untuk memudahkan pengunjung dalam berbelanja.
Menurut Wiharto, tingginya permintaan turut mendorong harga daging babi berada di atas harga daging sapi. Permintaan tersebut tidak hanya berasal dari Solo, tetapi juga dari wilayah Jawa Timur dan Semarang yang memiliki tradisi kuliner berbahan dasar daging babi. “Banyak yang berburu kuliner seperti babi kuah, babi kecap, siobak, hingga lapchiong,” ujarnya.
Secara historis, aktivitas perdagangan daging babi di kawasan ini telah berlangsung sejak awal berdirinya Pasar Gede, bahkan diduga telah ada sebelum bangunan pasar dibangun. Kawasan sekitar, seperti Kampung Mbaben, juga dikenal sebagai lokasi peternakan dan penyembelihan babi pada masa lalu.
Seiring perkembangan waktu, Pasar Gede mengalami transformasi dari sekadar pusat distribusi bahan pangan menjadi kawasan wisata kuliner yang menawarkan berbagai jenis makanan, mulai dari kuliner lokal hingga western food. Perubahan ini didorong oleh tren gaya hidup serta meningkatnya minat generasi muda terhadap aktivitas kuliner dan kedai kopi.
Di sisi lain, komunitas Solo Societeit menilai Pasar Gede sebagai simbol harmoni etnis di Kota Surakarta. Sejak masa kolonial, pasar ini menjadi ruang interaksi antara masyarakat Belanda, Tionghoa, dan pribumi dalam aktivitas ekonomi. Arsitektur bangunan yang besar serta sejarah panjangnya juga menjadikan Pasar Gede sebagai salah satu ikon kota.
Dengan kombinasi nilai historis, keberagaman komoditas, dan daya tarik kuliner, Pasar Gede diproyeksikan terus berkembang sebagai pusat ekonomi sekaligus destinasi wisata yang merepresentasikan keberagaman budaya di Solo. []
Penulis: Mariyana Ricky P.D | Penyunting: Redaksi01
