Bursa Dibuka Lagi, IHSG Berisiko Gap Down di Awal Perdagangan
JAKARTA – Risiko tekanan jual membayangi pembukaan perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) pascalibur panjang Nyepi dan Lebaran 2026, seiring akumulasi sentimen global yang belum terrespons selama periode libur.
Analis pasar saham dari Korea Investment and Sekuritas Indonesia (KISI) Muhammad Wafi menilai kondisi tersebut berpotensi memicu koreksi tajam atau gap down pada Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di awal sesi perdagangan. Ia menyebut volatilitas pasar akan meningkat karena berbagai faktor eksternal langsung tercermin saat bursa kembali dibuka.
“Kemungkinan rawan koreksi (gap down) dan volatilitas tinggi di awal sesi karena pricing in akumulasi sentimen global selama BEI libur,” kata Wafi, sebagaimana dilansir Liputan6, Rabu (25/03/2026).
Menurut Wafi, sejumlah faktor global menjadi perhatian utama pelaku pasar, mulai dari kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (The Fed), eskalasi geopolitik, hingga potensi arus keluar dana asing atau capital outflow yang mengikuti tren bursa regional.
“Termasuk dinamika suku bunga The Fed, eskalasi geopolitik, dan potensi capital outflow asing yang menyesuaikan pergerakan bursa regional,” ujarnya.
Ia menjelaskan, tekanan tersebut dapat semakin besar apabila investor asing melakukan penyesuaian portofolio secara agresif, sehingga meningkatkan aksi jual di pasar domestik. Dalam jangka pendek, IHSG diperkirakan bergerak pada kisaran 7.000 hingga 7.200 dengan tingkat fluktuasi yang tinggi.
Meski demikian, Wafi mengingatkan investor untuk tidak terburu-buru mengambil keputusan di tengah gejolak pasar. Ia menyarankan pendekatan wait and see serta menghindari aksi panic selling yang berpotensi memperbesar kerugian.
“Strateginya wait and see, hindari panic selling, dan manfaatkan momentum koreksi untuk buy on weakness saham blue chip solid di area support,” pungkasnya.
Sebelumnya, menjelang libur panjang, IHSG sempat menunjukkan kinerja positif dengan ditutup menguat di zona hijau. Penguatan tersebut ditopang oleh kinerja seluruh sektor saham dan nilai transaksi harian yang tinggi. Namun, perkembangan global selama masa libur menjadi faktor penentu arah pergerakan pasar pada pembukaan perdagangan berikutnya.[]
Penulis: Tira Santia | Penyunting: Redaksi01
