Garuda Stop Rute Jakarta–Bengkulu, Load Factor Rendah Jadi Penyebab

JAKARTA – Penghentian rute penerbangan Jakarta–Bengkulu oleh PT Garuda Indonesia (Persero) menjadi sinyal tekanan bisnis di sektor penerbangan, setelah maskapai menilai tingkat keterisian penumpang atau load factor yang rendah tidak lagi menopang keberlanjutan operasional rute tersebut.

Keputusan penutupan rute ini mulai berlaku setelah penerbangan terakhir dilaksanakan pada 28 Maret 2026, sebagaimana dikonfirmasi oleh PT Angkasa Pura II (Persero) melalui Bandara Fatmawati Soekarno Bengkulu.

General Manager (GM) Bandara Fatmawati Soekarno Bengkulu Muhammad Haekal menyatakan penghentian layanan telah resmi dilakukan pada akhir Maret.

“Memang benar penerbangan (Garuda Indonesia) berhenti beroperasi dan kemarin tanggal 28 Maret 2026 adalah ‘last flight‘-nya,” kata Muhammad Haekal, sebagaimana dilansir Antara, Selasa (31/03/2026).

Namun demikian, pihak pengelola bandara tidak merinci lebih lanjut alasan resmi dari penghentian rute tersebut dan meminta konfirmasi langsung kepada maskapai.

“Untuk resminya silakan tanyakan langsung ke pihak maskapai nya,” ujar dia.

Di sisi lain, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bengkulu sebelumnya telah berupaya menjaga keberlanjutan rute tersebut. Gubernur Bengkulu Helmi Hasan bahkan mendatangi kantor pusat Garuda Indonesia di Tangerang, Banten, untuk membahas kelanjutan layanan penerbangan.

Dari pihak maskapai, Direktur Teknik Garuda Indonesia Mukhtaris mengungkapkan bahwa pertimbangan utama berasal dari aspek bisnis, terutama rendahnya tingkat keterisian penumpang.

“Salah satu alasannya adalah tingkat keterisian penumpang pada rute Bengkulu yang masih rendah sehingga berpotensi menimbulkan kerugian berkelanjutan bagi perusahaan,” sebutnya.

Dalam industri penerbangan, load factor yang rendah menjadi indikator krusial karena berpengaruh langsung terhadap efisiensi biaya operasional dan tingkat profitabilitas. Kondisi tersebut mendorong maskapai melakukan evaluasi berkala, termasuk menutup rute yang dinilai tidak lagi layak secara ekonomi.

Penghentian rute ini diperkirakan berdampak pada konektivitas udara Bengkulu, sekaligus menjadi tantangan bagi pemangku kepentingan daerah untuk meningkatkan permintaan penumpang atau membuka peluang kerja sama baru dengan maskapai lain. []

Penulis: Annisa ayu artanti | Penyunting: Redaksi01

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *