KAEF Catat Rugi Rp334 Miliar, Penjualan Masih Tertekan

JAKARTA – PT Kimia Farma Tbk (KAEF) masih mencatatkan kinerja keuangan negatif sepanjang 2025 meski sejumlah indikator operasional menunjukkan perbaikan, menandakan proses pemulihan perusahaan farmasi pelat merah ini belum sepenuhnya berhasil.

Berdasarkan laporan keuangan per Desember 2025 yang diumumkan pada Senin, 6 April 2026, KAEF membukukan kerugian bersih sebesar Rp334,93 miliar. Meski lebih rendah 60,23 persen dibandingkan kerugian tahun sebelumnya sebesar Rp842,27 miliar, perusahaan belum mampu membalikkan kondisi menjadi laba.

Tekanan terhadap kinerja keuangan terutama disebabkan penurunan penjualan bersih sebesar 7,2 persen menjadi Rp9,22 triliun dari Rp9,93 triliun pada 2024. Penurunan paling signifikan berasal dari segmen obat ethical yang turun 16,12 persen menjadi Rp2,43 triliun dari Rp2,90 triliun.

Selain itu, pendapatan dari jasa klinik, laboratorium klinik, alat kesehatan, dan lainnya tercatat sebesar Rp1,47 triliun. Penjualan obat over the counter (OTC) atau obat bebas, khususnya generik, juga mengalami penurunan menjadi Rp1,08 triliun. Di sisi lain, segmen kosmetik menunjukkan pertumbuhan menjadi Rp1,40 triliun dari Rp1,35 triliun pada tahun sebelumnya.

Di tengah penurunan pendapatan, efisiensi mulai terlihat dari sisi biaya. Beban pokok penjualan turun 11,9 persen menjadi Rp6,15 triliun, sehingga mendorong laba kotor meningkat 3,96 persen menjadi Rp3,06 triliun dari Rp2,94 triliun pada 2024.

Perusahaan juga berhasil menekan beban usaha sebesar 12,64 persen menjadi Rp3,31 triliun. Dampaknya, rugi usaha menyusut signifikan menjadi Rp79,75 miliar dibandingkan Rp810,72 miliar pada tahun sebelumnya.

Dari sisi neraca, total aset KAEF tercatat sebesar Rp14,18 triliun per akhir 2025, turun 4,99 persen dari Rp14,92 triliun pada 2024. Sementara itu, total liabilitas mencapai Rp11,44 triliun dan ekuitas sebesar Rp2,73 triliun.

Kondisi ini menunjukkan upaya efisiensi mulai memberikan dampak terhadap perbaikan struktur biaya, namun tekanan pada sisi pendapatan masih menjadi tantangan utama bagi KAEF dalam mencapai kinerja positif, sebagaimana diberitakan Stockwatch, Senin (06/04/2026). []

Penulis: John Mbaling | Penyunting: Redaksi01

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *