UMKM Terjepit, Harga Plastik Naik Akibat Gejolak Global
JAKARTA – Lonjakan harga plastik pasca-Lebaran 2026 memicu tekanan serius terhadap pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di berbagai daerah, seiring meningkatnya biaya kemasan yang berdampak langsung pada margin keuntungan dan strategi penjualan.
Kenaikan harga tersebut terjadi sejak usai Hari Raya Idulfitri 2026 dan dilaporkan di sejumlah wilayah, termasuk DKI Jakarta dan Kalimantan Timur (Kaltim). Kondisi ini mendorong pelaku usaha untuk menyesuaikan harga jual maupun mengurangi penggunaan kemasan plastik guna menekan biaya operasional.
Di Pasar Senen, Jakarta Pusat, harga plastik per kilogram dilaporkan naik dari Rp35.000 menjadi Rp55.000. Sementara di Pasar Gondangdia, harga plastik jenis thinwall meningkat dari kisaran Rp20.000–Rp25.000 menjadi sekitar Rp40.000, sedangkan kantong plastik putih atau kresek naik dari Rp14.000 menjadi Rp20.000.
Kondisi serupa juga terjadi di Kaltim. Di Pasar Segiri, harga satu karung plastik kini mencapai Rp1.300.000 hingga Rp1.400.000. Plastik bening naik dari Rp11.000 per kilogram menjadi Rp19.000, sedangkan plastik berwarna meningkat dari Rp21.000 menjadi Rp28.000 per kilogram. Bahkan, sedotan plastik mengalami kenaikan dari Rp50.000 menjadi Rp65.000 per unit.
Dampak kenaikan ini dirasakan langsung oleh pelaku UMKM, terutama yang bergerak di sektor kuliner. Biaya tambahan untuk kemasan memaksa pelaku usaha melakukan penyesuaian operasional, mulai dari menaikkan harga hingga mengurangi penggunaan plastik.
Sejumlah pedagang mengaku harus menanggung kenaikan biaya hingga ribuan rupiah per produk akibat mahalnya kemasan. Kondisi ini juga memengaruhi daya beli masyarakat, karena pelaku usaha tidak sepenuhnya dapat membebankan kenaikan biaya kepada konsumen.
Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) menilai lonjakan harga dipicu oleh faktor global, khususnya kenaikan harga minyak dunia akibat dinamika geopolitik di Timur Tengah. Minyak menjadi bahan baku utama plastik, sehingga kenaikannya berdampak langsung pada biaya produksi.
Menanggapi kondisi tersebut, pemerintah mulai mengambil langkah untuk menjaga stabilitas harga bahan baku plastik. Salah satu upaya yang dilakukan adalah mengamankan pasokan nafta dari berbagai negara.
Menteri Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), Maman Abdurrahman, menyatakan bahwa pemerintah tengah menjalin kerja sama pasokan nafta dengan sejumlah negara, termasuk India, kawasan Afrika, dan Amerika Serikat.
Selain itu, pemerintah juga mendorong diversifikasi bahan baku melalui pengembangan biomaterial seperti rumput laut dan singkong sebagai alternatif plastik ramah lingkungan. Upaya ini diharapkan tidak hanya menekan ketergantungan impor, tetapi juga membuka peluang inovasi industri dalam negeri.
Langkah tersebut menjadi bagian dari strategi jangka panjang untuk memperkuat ketahanan industri plastik nasional sekaligus menjaga keberlangsungan usaha UMKM di tengah fluktuasi harga global, sebagaimana dilansir Sekolapedia, Jumat, (10/04/2026).
Dengan berbagai intervensi tersebut, pemerintah berharap tekanan harga plastik dapat segera mereda, sehingga pelaku usaha dapat kembali beroperasi secara optimal tanpa terbebani lonjakan biaya produksi. []
Penulis: Redaksi | Penyunting: Redaksi01
