Harga Plastik Melonjak, UMKM Pilih Tahan Harga Jual

JAKARTA – Pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) memilih menahan kenaikan harga produk di tengah lonjakan biaya kemasan plastik yang mencapai 40–60 persen, sehingga berdampak pada penyusutan margin keuntungan hingga penurunan omzet.

Menteri Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Maman Abdurrahman mengungkapkan, dalam sepekan terakhir pihaknya menerima banyak keluhan dari pelaku UMKM terkait kenaikan harga plastik yang dipicu gangguan pasokan global.

“UMKM berusaha menjaga harga barang di mata masyarakat dan pembeli. Mereka tidak menaikkan harga jual, tetapi konsekuensinya keuntungan menjadi menipis karena biaya produksi naik,” ujar Maman dalam temu media di Jakarta, sebagaimana dilansir Antara, Jumat, (10/04/2026).

Kementerian UMKM mencatat kenaikan harga plastik tersebut terjadi akibat terganggunya distribusi nafta—bahan turunan minyak bumi—yang dipengaruhi lonjakan harga minyak global dan konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah. Kondisi ini memicu tekanan berlapis pada rantai pasok industri kemasan.

Berdasarkan data Gabungan Produsen Makanan Minuman Indonesia (GAPMMI), kelangkaan nafta telah menurunkan kapasitas produksi plastik nasional, bahkan menyebabkan sejumlah lini produksi terhenti. Situasi ini berdampak signifikan karena mayoritas pelaku UMKM, khususnya sektor makanan dan minuman, masih sangat bergantung pada kemasan plastik.

Pada 2025, industri kemasan plastik dalam negeri menguasai 67,61 persen pasar, dengan sektor makanan sebagai pengguna terbesar. Di sisi lain, ketergantungan terhadap impor bahan baku plastik masih tinggi, yakni mencapai 55 persen, dengan sekitar 70 persen distribusi melalui jalur Selat Hormuz yang terdampak konflik.

Menghadapi kondisi tersebut, Kementerian UMKM menyiapkan sejumlah langkah mitigasi. Untuk jangka pendek, pemerintah mengamankan pasokan nafta dari wilayah yang relatif stabil seperti Afrika, India, dan Amerika guna menjaga keberlanjutan produksi.

Sementara dalam jangka panjang, pemerintah mendorong diversifikasi bahan baku serta pengembangan bioplastik berbasis sumber daya lokal seperti rumput laut dan singkong. Selain itu, kebijakan pendukung seperti subsidi penggunaan bioplastik, penguatan rumah kemasan bersama, serta penerapan prinsip pengurangan plastik juga tengah dikaji untuk memperkuat ketahanan sektor UMKM.

Upaya tersebut diharapkan mampu menjaga keberlangsungan usaha pelaku UMKM di tengah tekanan biaya produksi sekaligus mendorong transformasi menuju penggunaan bahan baku yang lebih berkelanjutan. []

Penulis: Husen Miftahudin | Penyunting: Redaksi01

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *