IHSG Menguat, Peluang Cuan Terbuka di Tengah Redanya Konflik Dagang

JAKARTA – Penguatan signifikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada Jumat (11/04/2026) dinilai membuka peluang arus masuk modal asing ke pasar domestik, seiring meredanya ketidakpastian global pasca-kesepakatan awal dagang antara Amerika Serikat dan China.

IHSG ditutup melonjak 147,08 poin atau 2,15 persen ke level 6.979. Kenaikan ini menjadi indikator awal meningkatnya kepercayaan investor terhadap prospek pasar negara berkembang, termasuk Indonesia, di tengah meredanya tensi perang dagang global.

Sentimen positif tersebut dipicu kesepakatan awal antara Amerika Serikat dan China yang dicapai dalam perundingan di Jenewa, Swiss. Dalam kesepakatan itu, Amerika Serikat memangkas tarif impor produk China dari 145 persen menjadi 30 persen, sementara China menurunkan tarif produk asal Amerika Serikat dari 125 persen menjadi 10 persen.

Menteri Keuangan Amerika Serikat Scott Bessent mengatakan, “Ini adalah jeda untuk mencegah dampak kerusakan jangka panjang akibat trade war, karena kesepakatan penuh mungkin akan memakan waktu 2–3 tahun sebagaimana yang terjadi dalam pengalaman Perang Dagang AS-China sebelumnya.”

Meredanya konflik dagang ini memberikan ruang bagi pemulihan perdagangan global dan meningkatkan minat investor terhadap aset berisiko, termasuk saham di pasar negara berkembang. Kondisi ini turut mendorong penguatan IHSG dalam perdagangan hari ini.

Chief Investment Officer (CIO) BNI Asset Management Farash Farich menyebut penguatan pasar saham domestik dipimpin sektor-sektor berbasis ekonomi riil. “Pasar saham Indonesia terpantau menguat pagi ini, tercermin dari penguatan IHSG ke level 6.948,9 dipimpin oleh sektor infrastruktur, sektor energi dan transportasi dan untuk sektor negatif ada di sektor teknologi,” jelasnya sebagaimana diberitakan Zona Bisnis, Jumat (11/04/2026).

Ia menilai rotasi sektor terjadi seiring perubahan preferensi investor terhadap sektor yang diuntungkan dari peningkatan aktivitas perdagangan global. Sektor infrastruktur, energi, dan transportasi dinilai lebih sensitif terhadap pertumbuhan ekonomi sehingga menjadi pilihan utama pasar.

Dari sisi valuasi, Farich menambahkan IHSG masih berada pada level menarik karena rasio price-to-earning (P/E) masih di bawah rata-rata historisnya. Selain itu, porsi kepemilikan asing yang berada pada titik terendah dalam satu dekade membuka peluang masuknya kembali dana global jika sentimen positif berlanjut.

Sementara itu, Analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana memproyeksikan tren penguatan masih berpotensi berlanjut dalam jangka pendek. “Kami perkirakan, IHSG masih berpeluang menguat dengan support 6.970 dan resistance 7.029, melihat dari MACD yang melandai di area positif dan Stochastic yang masih berada di area overbought,” ungkapnya.

Secara teknikal, indikator moving average convergence divergence (MACD) dan stochastic oscillator menunjukkan momentum positif, meskipun pasar mulai memasuki area jenuh beli (overbought).

Meski demikian, pelaku pasar diingatkan tetap mencermati risiko global seperti inflasi, kebijakan suku bunga, serta dinamika geopolitik yang dapat memengaruhi arah pergerakan IHSG ke depan. Optimisme yang terbentuk saat ini dinilai sebagai momentum awal, bukan jaminan tren jangka panjang.

Dengan kondisi tersebut, IHSG diperkirakan masih memiliki ruang penguatan terbatas dalam waktu dekat, namun tetap bergantung pada konsistensi sentimen global dan arus modal asing ke pasar domestik. []

Penulis: Yoga Pratama | Penyunting: Redaksi01

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *