Sinergi PIS-PGN, Indonesia Bidik Dominasi Infrastruktur Energi

JAKARTA – PT Pertamina International Shipping (PIS) dan PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk (PGN) memperkuat integrasi bisnis energi nasional melalui penandatanganan nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) untuk pengembangan infrastruktur dan transportasi energi rendah karbon, sebagai langkah strategis menghadapi transisi energi global.

Kerja sama ini mencakup pembangunan dan pemanfaatan infrastruktur, serta pengembangan moda angkutan maritim untuk komoditas seperti liquefied natural gas (LNG), amonia (ammonia), hidrogen (hydrogen), dan produk energi rendah emisi lainnya. Sinergi tersebut diharapkan memperkuat ketahanan energi sekaligus mendorong efisiensi rantai pasok energi nasional.

Direktur Utama (Dirut) PIS Surya Tri Harto menegaskan bahwa kolaborasi ini dirancang untuk menciptakan nilai optimal bagi seluruh entitas dalam Pertamina Group, khususnya dalam menghadapi fluktuasi pasar energi global. “Pada kerjasama ini kita bicara tentang optimal value untuk Pertamina Group, bukan hanya untuk PIS atau PGN. Dengan rencana memiliki infrastruktur transportasi gas, termasuk untuk floating (terapung). Kita coba kaji opsi investasi, supaya dalam jangka panjang tidak terlalu terekspos risiko fluktuasi harga pasar. Sekali lagi untuk sama-sama ciptakan value yang optimal bagi Pertamina,” ujar Surya dalam keterangan tertulis, sebagaimana dilansir Infosekitar, Jumat, (17/04/2026).

Kesepakatan tersebut ditandatangani pada 10 April 2026 oleh Dirut PIS dan Dirut PGN Arief Kurnia Risdianto, serta disaksikan jajaran direksi kedua perusahaan. Kerja sama ini merupakan pengembangan dari kolaborasi yang telah berjalan sebelumnya, khususnya dalam pengangkutan LNG.

Dirut PGN Arief Kurnia Risdianto menyampaikan bahwa kerja sama ini akan diperluas hingga mencakup sektor hulu hingga hilir (midstream hingga downstream) guna memperkuat ekosistem gas nasional. “Kerjasama yang terjalin kita eskalasi, kembangkan yang pada prinsipnya mencakup pengembangan kepemilikan, pembangunan, pengelolaan sektor midstream hingga downstream gas. Sehingga Pertamina Group memiliki infrastuktur yang matang dan menyiapkan Indonesia di era LNG. Dimana semakin ke depan, porsi LNG akan semakin besar, sehingga perlu infrastruktur tambahan. Kita coba kembangkan, sehingga nanti kita tidak hanya jadi penonton, tapi juga ada kepemilikan di infrastruktur ini,” terangnya.

Sebelumnya, sejak 2024, PIS telah melayani 17 kali pengangkutan LNG untuk PGN ke sejumlah fasilitas seperti floating storage regasification unit (FSRU) Lampung dan Jawa Barat, serta Terminal Arun dengan skema spot charter. Pengalaman tersebut menjadi dasar penguatan kerja sama yang kini diarahkan pada investasi jangka panjang.

Ke depan, kedua perusahaan akan membentuk tim kerja guna mengkaji peluang proyek konkret, termasuk penguatan armada dan pengembangan infrastruktur energi rendah karbon. Langkah ini diharapkan mampu meningkatkan daya saing Pertamina Group sekaligus mendukung agenda transisi energi nasional yang lebih berkelanjutan. []

Penulis: Redaksi | Penyunting: Redaksi01

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *