BNI Bidik Ekspansi Lebih Agresif Lewat Penerbitan AT1 Global

JAKARTA – PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) memperkuat struktur permodalan melalui penerbitan instrumen global senilai US$700 juta atau setara Rp11,99 triliun guna menjaga daya saing di tengah tekanan industri perbankan yang semakin ketat.

Aksi korporasi tersebut dilakukan melalui penerbitan Additional Tier-1 (AT1) Perpetual Non-Cumulative Capital Securities yang ditujukan untuk meningkatkan rasio permodalan sekaligus menopang ekspansi bisnis perseroan ke depan.

Berdasarkan keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI), proses pembentukan harga (bookbuilding) instrumen tersebut telah rampung pada 15 April 2026 dengan tingkat imbal hasil (distribution rate) sebesar 7,15% per tahun.

Sekretaris Perusahaan (Sekper) BNI Okki Rushartomo mengatakan dana yang dihimpun akan difokuskan untuk memperkuat fundamental keuangan perusahaan. โ€œDana yang diperoleh dari penerbitan AT1 Baru ini akan digunakan untuk memperkuat struktur dan rasio permodalan Perseroan, serta mendukung ekspansi kegiatan usaha Perseroan,โ€ ujarnya, sebagaimana dilansir Kontan, Kamis (16/04/2026).

Instrumen ini memiliki karakter subordinasi, tanpa jatuh tempo (perpetual), serta menggunakan skema pembayaran imbal hasil yang tidak bersifat akumulatif. Rencananya, surat utang tersebut akan dicatatkan di Singapore Exchange (SGX) dengan target penyelesaian transaksi (settlement) pada 22 April 2026.

Manajemen BNI menegaskan penerbitan instrumen ini telah sesuai dengan ketentuan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terkait kewajiban penyediaan modal minimum bank umum. Selain itu, aksi korporasi ini juga tidak termasuk transaksi material karena nilainya masih berada di bawah ambang batas 20% dari total ekuitas perseroan per 31 Desember 2025, sehingga tidak memerlukan persetujuan pemegang saham sebagaimana diatur dalam Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK).

Menariknya, instrumen ini diterbitkan di pasar internasional dan tidak ditawarkan kepada investor domestik, baik individu maupun institusi. Dalam prosesnya, BNI juga telah menandatangani subscription agreement dengan para manajer investasi pada 15 April 2026.

Dengan tambahan modal tersebut, BNI berharap dapat memperkuat rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio atau CAR) serta meningkatkan fleksibilitas dalam mengembangkan bisnis di tengah dinamika ekonomi global. []

Penulis: Lydia Tesaloni | Penyunting: Redaksi01

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *