BTN Ungkap Dampak Besar Perumahan, 1 Triliun Serap 8.000 Pekerja

JAKARTA – Sektor perumahan dinilai menjadi penggerak signifikan penciptaan lapangan kerja nasional, seiring meningkatnya kebutuhan hunian dan dukungan pembiayaan dari perbankan, khususnya PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN).

Direktur Utama (Dirut) BTN Nixon menyebut industri perumahan memiliki efek berganda (multiplier effect) yang besar terhadap perekonomian karena melibatkan tenaga kerja dalam jumlah masif serta penggunaan bahan baku lokal.

“Setiap tambahan capital injection sebesar Rp 1 triliun di industri ini akan menambah keterlibatan tenaga kerja sebanyak 8 ribu orang,” jelas Nixon, sebagaimana dilansir Rakyat Merdeka, Kamis (17/04/2026).

Ia merinci, sektor perumahan merupakan sektor padat modal yang menyerap tenaga kerja lokal mulai dari pengembang hingga tukang. Selain itu, sekitar 90 persen bahan baku pembangunan rumah berasal dari produk dalam negeri, serta memberikan kontribusi penerimaan negara melalui pajak dari setiap unit yang terjual.

Menurut Nixon, secara keseluruhan sektor ini mampu membuka peluang kerja hingga 12,5 juta orang di berbagai sektor terkait. Ia juga menegaskan, capaian tersebut tidak terlepas dari dukungan Danantara Indonesia serta Badan Pengatur (BP) Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang terus mendorong BTN menjalankan perannya dalam pembiayaan perumahan nasional. “Sekaligus tetap memberikan kinerja yang optimal dan berkelanjutan bagi para shareholders,” ucapnya.

Dari sisi kinerja, analis Samuel Sekuritas Indonesia Brandon Boedhiman menilai BTN masih konsisten menjaga pertumbuhan kredit. “Dengan capaian tersebut, BTN tetap menjadi bank BUMN yang memegang peran utama dalam pembiayaan perumahan,” kata Brandon.

Ia menyebut BTN menargetkan pertumbuhan kredit sebesar 10,3 persen secara tahunan (year on year/yoy) pada kuartal I-2026, dengan penyaluran Kredit Pemilikan Rumah (KPR) subsidi tumbuh 7,7 persen yoy. Sejak 1976 hingga awal April 2026, BTN juga telah menyalurkan KPR mencapai 6 juta unit dengan total nilai Rp530 triliun.

Brandon memproyeksikan penyaluran kredit BTN tetap tumbuh pada kisaran 8–10 persen sepanjang 2026, dengan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian. “Diharapkan, BTN tetap tumbuh dengan ditopang prinsip kehati-hatian dan perhitungan yang cermat atas kebutuhan di pasar, serta dinamika ekonomi baik di dalam dan luar negeri,” imbaunya.

Selain pembiayaan perumahan, BTN juga mencatat peningkatan signifikan pada layanan digital melalui aplikasi bale by BTN. Pada kuartal I-2026, jumlah pengguna meningkat 67,5 persen yoy menjadi 4 juta dari sebelumnya 2,4 juta pengguna.

Pertumbuhan tersebut diikuti peningkatan rata-rata saldo tabungan, jumlah transaksi, dan nilai transaksi masing-masing sebesar 18 persen yoy, 8,1 persen yoy, dan 48,2 persen yoy. Nixon menyebut salah satu faktor pendorong adalah penyelenggaraan BTN Jakarta International Marathon (JAKIM) 2026 yang turut meningkatkan aktivitas pengguna. “Tahun ini, kami optimis membidik jumlah pengguna bale naik menjadi 5 juta,” yakin Nixon.

Dengan kombinasi ekspansi pembiayaan perumahan dan penguatan layanan digital, BTN optimistis dapat terus memperluas akses pembiayaan sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi nasional secara berkelanjutan. []

Penulis: Dwi Ilham | Penyunting: Redaksi01

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *