Bank Sentral Rusia Jual Emas Besar-besaran, Ini Dampaknya
JAKARTA – Gelombang pergeseran strategi cadangan devisa global semakin menguat pada 2026, seiring meningkatnya tekanan fiskal dan ketidakpastian geopolitik yang mendorong bank-bank sentral mengambil langkah berlawanan dalam pengelolaan emas. Bank Sentral Rusia menjadi sorotan setelah melepas 700.000 ons troy emas atau sekitar 21,8 ton sepanjang tahun berjalan hingga Kamis, 23 April 2026, untuk menutup defisit anggaran negara.
Bank Sentral Rusia tercatat menggunakan penjualan emas sebagai salah satu sumber pembiayaan defisit anggaran yang mencapai US$61,2 miliar pada akhir Maret 2026. Berdasarkan data Mining.com, cadangan emas Rusia turun menjadi 74,1 juta ons troy pada April 2026, dari sebelumnya 74,8 juta ons troy di awal tahun. Nilai kepemilikan emasnya juga menyusut dari US$384 miliar menjadi sekitar US$334 miliar.
Aksi penjualan tersebut disebut berkaitan dengan tekanan fiskal yang dipicu tingginya belanja negara serta dampak sanksi ekonomi berkepanjangan. Dalam laporan yang dikutip Bisnis.com, Rusia mulai mengubah pendekatan pengelolaan cadangan sejak November 2025 dengan lebih aktif melakukan penyesuaian portofolio aset.
“Bank sentral menyatakan perlu melakukan diversifikasi cadangan karena kenaikan harga telah meningkatkan proporsi emas dalam cadangannya,” tulis laporan Investor.id terkait alasan teknis di balik pelepasan aset tersebut.
Di sisi lain, tren global justru menunjukkan arah yang berlawanan. Bank Sentral Tiongkok (People’s Bank of China/PBOC) menambah cadangan emas sebesar 5 ton pada Maret 2026, sementara Brasil juga tercatat konsisten melakukan akumulasi emas sepanjang tahun ini sebagai bagian dari strategi penguatan cadangan.
Laporan World Gold Council mencatat Polandia menjadi pembeli emas terbesar secara global pada 2026 dengan tambahan lebih dari 20 ton. Negara tersebut menargetkan cadangan hingga 700 ton sebagai langkah mitigasi risiko geopolitik di kawasan Eropa Timur. Selain itu, Uzbekistan dan Kazakhstan juga memperkuat cadangan masing-masing sebesar 16,48 ton dan 6,51 ton.
Fenomena penjualan dan akumulasi emas yang bergerak berlawanan ini tidak lepas dari perubahan lanskap global pascapembekuan aset bank sentral Rusia senilai sekitar US$300 miliar oleh negara-negara Barat pada 2022. Kondisi tersebut mendorong sejumlah negara meninjau ulang ketergantungan pada aset keuangan berbasis dolar dan memperkuat posisi emas sebagai aset strategis.
Turki turut tercatat dalam daftar penjual emas dengan pelepasan sekitar 8,08 ton untuk mengelola permintaan domestik serta menjaga stabilitas nilai tukar lira, sebagaimana dilaporkan CNBC Indonesia. Dinamika ini menunjukkan bahwa emas kini tidak hanya berfungsi sebagai cadangan nilai, tetapi juga instrumen kebijakan fiskal dan stabilitas ekonomi yang semakin aktif digunakan bank sentral di berbagai negara. []
Penulis: Donna Hettinger| Penyunting: Redaksi01
