Minyak Dunia Turun, Gagalnya Diplomasi AS-Iran Picu Ketidakpastian
JAKARTA – Harga minyak mentah global melemah pada akhir pekan lalu di tengah ketidakpastian diplomasi antara Amerika Serikat dan Iran, meski kegagalan perundingan lanjutan berpotensi kembali memicu tekanan naik pada harga energi dunia.
Pada penutupan perdagangan Jumat, harga minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat tercatat turun 1,51 persen menjadi 94,40 dolar AS per barel. Sementara itu, minyak mentah berjangka Brent juga terkoreksi 0,22 persen ke level 99,13 dolar AS per barel.
Pelemahan harga ini dipicu ekspektasi pasar terhadap rencana pertemuan lanjutan antara Amerika Serikat dan Iran yang sebelumnya diharapkan dapat meredakan ketegangan geopolitik. Laporan menyebutkan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, berencana mengirim utusan ke Pakistan untuk membuka peluang dialog dengan Iran.
Namun, rencana tersebut batal direalisasikan. Trump membatalkan pengiriman utusan Steve Witkoff dan Jared Kushner ke Islamabad, Pakistan. Ia menyatakan keputusan tersebut diambil karena berbagai kendala internal di pihak Iran. “terlalu banyak waktu terbuang untuk bepergian, selain itu, ada perselisihan dan kebingungan yang luar biasa di dalam ‘kepemimpinan’ Iran.” sebagaimana dilansir Vibiznews, Jumat (25/04/2026).
Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, tetap melakukan kunjungan ke Pakistan, tetapi hanya bertemu dengan pejabat setempat tanpa melanjutkan agenda pembicaraan dengan pihak Amerika Serikat. Kondisi ini mempertegas ketidakpastian arah hubungan kedua negara.
Situasi geopolitik tersebut turut diperparah oleh kondisi Selat Hormuz yang dilaporkan berada dalam tekanan, sehingga berpotensi mengganggu distribusi energi global. Jalur strategis ini selama ini menjadi salah satu titik vital pengiriman minyak dunia.
Analis menilai, kegagalan pertemuan lanjutan antara Amerika Serikat dan Iran justru dapat memicu kenaikan harga minyak pada perdagangan berikutnya karena meningkatnya risiko gangguan pasokan. Ketegangan di kawasan Timur Tengah diperkirakan tetap menjadi faktor dominan yang memengaruhi pergerakan harga energi global.
Untuk jangka pendek, harga minyak mentah WTI diproyeksikan bergerak dalam kisaran resistance 97,27 hingga 100,15 dolar AS per barel, sedangkan area support berada pada rentang 92,10 hingga 89,81 dolar AS per barel. Dinamika ini menunjukkan pasar masih sensitif terhadap perkembangan geopolitik serta kebijakan energi global. []
Penulis: Asido Situmorang | Penyunting: Redaksi01
