IHSG Terkoreksi, Sentimen Global Masih Berat
JAKARTA – Tekanan eksternal dan aksi jual investor asing membayangi pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang ditutup melemah 0,48% pada perdagangan Selasa (28/04/2026), di tengah sentimen global yang kurang kondusif serta pelemahan saham sektor teknologi dunia.
Berdasarkan riset harian PT BNI Sekuritas, pelemahan IHSG tersebut disertai aksi jual bersih asing atau net sell sebesar Rp1,24 triliun, dengan saham-saham perbankan dan komoditas seperti BMRI, BBCA, BBRI, ANTM, dan CUAN menjadi yang paling banyak dilepas investor asing.
Tekanan pasar domestik sejalan dengan pelemahan bursa global, khususnya di Amerika Serikat (AS), di mana indeks utama Wall Street kompak ditutup di zona merah. Indeks S&P 500 turun 0,49%, Nasdaq Composite melemah 0,9%, dan Dow Jones Industrial Average terkoreksi 0,05%. Pelemahan ini dipicu kekhawatiran terhadap sektor teknologi, terutama semikonduktor, setelah laporan kinerja perusahaan teknologi menunjukkan perlambatan, termasuk terkait pertumbuhan pendapatan dan pengguna yang berada di bawah target internal.
Selain itu, ketidakpastian geopolitik turut memperburuk sentimen pasar. Penundaan perundingan damai antara AS dan Iran menambah kekhawatiran investor global terhadap stabilitas ekonomi dan politik, sehingga memicu aksi risk-off di berbagai bursa saham.
Di kawasan Asia, mayoritas indeks saham juga bergerak bervariasi dengan kecenderungan melemah. Indeks Nikkei 225 Jepang turun 1,02%, Hang Seng Hong Kong melemah 0,95%, dan CSI 300 China terkoreksi 0,27%. Sementara itu, beberapa indeks seperti Kospi Korea Selatan dan FTSE Malaysia masih mencatat penguatan terbatas. Investor regional cenderung menahan posisi sambil menunggu arah kebijakan bank sentral global serta laporan kinerja perusahaan teknologi besar.
Head of Retail Research PT BNI Sekuritas Fanny Suherman menyatakan bahwa pergerakan IHSG masih berpotensi terbatas dengan kecenderungan melemah dalam jangka pendek. “IHSG berpotensi bergerak sideways cenderung melemah hari ini. Diperkirakan Support IHSG: 6900-7000 dan Resist IHSG: 7100-7200,” ujarnya sebagaimana dilansir Pasardana, Rabu, (29/04/2026).
Dalam kondisi pasar yang fluktuatif, investor disarankan mencermati sejumlah saham yang memiliki peluang teknikal jangka pendek, antara lain BUMI, CUAN, GOTO, MEDC, BIPI, dan KIJA, dengan strategi spec buy maupun buy on weakness serta memperhatikan batas risiko melalui cut loss.
Ke depan, arah pergerakan IHSG diperkirakan masih dipengaruhi dinamika global, termasuk perkembangan geopolitik, kebijakan suku bunga bank sentral, serta kinerja emiten teknologi global. Stabilitas pasar domestik akan sangat bergantung pada sentimen eksternal dan aliran dana asing dalam beberapa waktu mendatang. []
Penulis: Ria | Penyunting: Redaksi01
