Strategi Baru Bank Digital: Tahan Kredit, Perkuat Stabilitas

JAKARTA – Industri bank digital di Indonesia memasuki fase konsolidasi pada 2026, ditandai dengan perubahan strategi dari ekspansi agresif menuju penguatan kepercayaan dan manajemen risiko, sebagaimana tercermin dari kinerja PT Bank Neo Commerce Tbk pada kuartal I 2026.

Perubahan arah ini terlihat dari keputusan perseroan menahan penyaluran kredit meskipun tetap mencatat laba. Hingga akhir Maret 2026, Bank Neo Commerce membukukan laba sebesar Rp136,98 miliar, namun menurunkan penyaluran kredit sebesar 17,24 persen secara tahunan menjadi Rp7,03 triliun.

Langkah tersebut dilakukan untuk menjaga kualitas aset di tengah ketidakpastian ekonomi global. Hasilnya, rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) tetap rendah di level 0,43 persen.

Direktur Utama (Dirut) PT Bank Neo Commerce Tbk Eri Budiono menyatakan bahwa kehati-hatian menjadi kunci dalam menghadapi dinamika global saat ini.

”Di tengah ketidakpastian dan dinamika global, kami menjalankan bisnis secara hati-hati dengan tetap menjaga tata kelola,” ujarnya sebagaimana dilansir Jawa Pos, Rabu, (29/04/2026).

Dari sisi pendanaan, Dana Pihak Ketiga (DPK) tercatat sebesar Rp13,42 triliun, sedikit menurun dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Meski demikian, terjadi pergeseran komposisi dana, di mana tabungan meningkat 8,62 persen menjadi Rp3,50 triliun, sementara deposito mengalami penurunan.

Perubahan ini mendorong rasio dana murah atau current account savings account (CASA) meningkat menjadi 30,34 persen, mencerminkan peningkatan penggunaan layanan transaksi harian oleh nasabah.

Di tengah kebijakan pengetatan kredit, kondisi permodalan perseroan justru menguat. Rasio kecukupan modal atau capital adequacy ratio (CAR) tercatat sebesar 50,60 persen, memberikan ruang ekspansi yang cukup besar meskipun belum dimanfaatkan secara agresif.

Efisiensi operasional juga tetap terjaga dengan rasio biaya operasional terhadap pendapatan operasional (BOPO) sebesar 83,68 persen dan cost to income ratio (CIR) di level 32,93 persen.

Fenomena ini mencerminkan pergeseran pola bisnis bank digital yang kini lebih menekankan stabilitas dibandingkan pertumbuhan cepat. Fokus utama industri tidak lagi pada akuisisi nasabah semata, melainkan menjaga kualitas pembiayaan dan membangun kepercayaan jangka panjang.

Ke depan, rencana pengembangan layanan seperti buy now pay later (BNPL) akan menjadi ujian berikutnya bagi bank digital dalam menyeimbangkan inovasi dengan pengelolaan risiko yang ketat.

Dengan kondisi tersebut, industri bank digital diperkirakan akan semakin selektif dalam menyalurkan kredit, sekaligus memperkuat fondasi bisnis guna menghadapi tantangan ekonomi global yang masih berfluktuasi. []

Penulis: Rian Alfianto | Penyunting: Redaksi01

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *