DPR Desak Jalur KRL dan KA Dipisah Usai Kecelakaan Bekasi
JAKARTA – Wakil Ketua Komisi V Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Andi Iwan Darmawan Aras mendesak percepatan pemisahan jalur operasional Kereta Rel Listrik (KRL) dan kereta api antarkota pascakecelakaan kereta di kawasan Bekasi Timur, Jawa Barat (Jabar). Langkah tersebut dinilai penting untuk meningkatkan keselamatan perjalanan kereta api di jalur padat perkotaan.
Menurut Andi, penyelesaian proyek Double-Double Track (DDT) Jakarta-Cikarang harus menjadi prioritas karena tidak hanya menambah kapasitas lintasan, tetapi juga mengurangi risiko kecelakaan akibat padatnya operasional kereta.
“Pemisahan jalur operasional harus menjadi prioritas. Penyelesaian proyek Double- Double Track (DDT) Jakarta– Cikarang tidak hanya meningkatkan kapasitas, tetapi juga keselamatan,” kata Andi sebagaimana diberitakan Koran Jakarta, Senin (12/05/2026).
Ia menilai insiden di Bekasi Timur menjadi sinyal adanya tekanan sistemik pada jalur rel di wilayah perkotaan. Karena itu, evaluasi menyeluruh terhadap sistem keselamatan perkeretaapian dinilai mendesak dilakukan.
Menurutnya, evaluasi tidak hanya menyasar operasional harian, tetapi juga sistem pemantauan, perencanaan, hingga penanganan gangguan berantai di lintasan kereta.
Andi menegaskan keselamatan perjalanan kereta harus dibangun melalui sistem yang mampu mendeteksi serta memutus potensi gangguan sejak awal sebelum berkembang menjadi kecelakaan.
Selain proyek DDT, Andi juga menyoroti persoalan perlintasan sebidang yang hingga kini masih menjadi titik rawan kecelakaan di sejumlah daerah.
“Perlintasan sebidang harus segera dibenahi. Persoalan seperti ini masih sering terjadi dan berpotensi menimbulkan kecelakaan,” ucapnya.
Sementara itu, pengamat transportasi Darmaningtyas menilai keberadaan DDT sangat penting untuk memisahkan jalur kereta lokal dan kereta jarak jauh sehingga operasional perjalanan menjadi lebih aman dan minim hambatan.
“Diharapkan kalau proyek Double- Double track itu selesai tidak ada gangguan lagi,” ucapnya.
Darmaningtyas juga mendorong penerapan teknologi berbasis Global Positioning System (GPS) untuk meningkatkan keselamatan perjalanan kereta api. Teknologi tersebut dinilai mampu membantu masinis mendeteksi kondisi lintasan di depan secara lebih cepat.
“Gunakan teknologi Intelligent Transportation System (ITS ) berbasis GPS untuk meningkatkan keselamatan operasional kereta,” katanya.
Ia menjelaskan sistem GPS dapat membantu mendeteksi keberadaan kereta lain maupun gangguan lintasan dalam radius tertentu sehingga risiko kecelakaan dapat ditekan.
“Kalau semua sarana PT Kereta Api Indonesia (KAI) itu dilengkapi dengan GPS yang bisa mendeteksi satu atau dua kilo ke depan itu ada gangguan apa, itu bisa meminimalisir kecelakaan,” ujarnya. []
Penulis: Eko S | Penyunting: Redaksi01
