Rupiah Tertekan Konflik AS-Iran, Dolar Tembus Rp17.489
JAKARTA – Tekanan eksternal akibat meningkatnya tensi geopolitik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali membayangi pergerakan rupiah. Di tengah optimisme konsumen terhadap ekonomi nasional yang masih terjaga, nilai tukar rupiah justru diperkirakan bergerak fluktuatif dan ditutup melemah pada perdagangan Selasa (12/05/2026).
Berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia (BI), kurs rupiah berada di level Rp17.415 per dolar AS pada Senin (11/05/2026). Posisi tersebut melemah 40 poin dibandingkan perdagangan Jumat (08/05/2026) yang berada di level Rp17.375 per dolar AS.
Sementara itu, pada perdagangan pasar spot hingga pukul 09.04 WIB, rupiah kembali tertekan ke posisi Rp17.489 per dolar AS atau melemah 75 poin setara 0,43 persen dibandingkan posisi sebelumnya di level Rp17.414 per dolar AS.
Pelemahan rupiah terjadi di tengah meningkatnya risiko global setelah Presiden AS Donald Trump menolak proposal perdamaian terbaru Iran. Penolakan tersebut memicu kekhawatiran pasar terhadap stabilitas kawasan Teluk dan distribusi energi global.
Pengamat ekonomi dan pasar uang Ibrahim Assuaibi menilai pergerakan rupiah masih akan bergerak tidak stabil sepanjang perdagangan hari ini.
“Mata uang rupiah fluktuatif, namun ditutup melemah di rentang Rp17.410—Rp17.460,” ujarnya sebagaimana dilansir Tvonenews, Selasa (12/05/2026).
Di sisi domestik, sentimen ekonomi Indonesia sebenarnya masih menunjukkan tren positif. Survei konsumen BI pada April 2026 mencatat tingkat keyakinan masyarakat terhadap kondisi ekonomi nasional tetap berada di zona optimistis.
Hal itu tercermin dari Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) April 2026 yang mencapai 123,0 atau sedikit meningkat dibandingkan Maret 2026 sebesar 122,9. Angka di atas 100 menandakan tingkat optimisme konsumen masih kuat terhadap kondisi ekonomi nasional.
BI menyebut peningkatan optimisme konsumen didorong oleh naiknya Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) dari 115,4 pada Maret menjadi 116,5 pada April 2026. Kenaikan tersebut menunjukkan persepsi masyarakat terhadap lapangan kerja, penghasilan, dan daya beli mengalami perbaikan.
Selain itu, Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) juga tetap berada di level optimistis sebesar 129,6 meskipun sedikit turun dibandingkan Maret 2026 yang mencapai 130,4.
Namun, tekanan eksternal dinilai masih menjadi faktor dominan yang memengaruhi pasar keuangan domestik. Trump sebelumnya menyebut respons Iran terhadap proposal perdamaian AS “sama sekali tidak dapat diterima” sehingga memicu kembali kekhawatiran geopolitik di kawasan Timur Tengah.
Proposal AS dilaporkan mencakup penghentian pengayaan uranium Iran selama 20 tahun, penghapusan cadangan uranium berkadar tinggi, dan pembongkaran fasilitas nuklir utama sebagai imbalan pencabutan sanksi serta penghentian aksi militer.
Sebaliknya, Iran meminta pencabutan sanksi ekonomi, penghentian kehadiran militer laut AS di sekitar Selat Hormuz, jaminan keamanan, dan pengakuan hak Teheran untuk melanjutkan sebagian aktivitas nuklirnya melalui proposal balasan yang disampaikan lewat mediator Pakistan.
Kondisi tersebut membuat pelaku pasar global cenderung mengalihkan aset ke instrumen aman berbasis dolar AS sehingga menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah. []
Penulis: Redaksi | Penyunting: Redaksi01
