Harga Minyak Anjlok Lebih 2 Persen, Investor Pantau Diplomasi
JAKARTA – Pelemahan harga minyak dunia pada penutupan perdagangan Kamis menjadi sinyal meredanya kekhawatiran pasar terhadap potensi eskalasi konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, setelah muncul optimisme bahwa jalur diplomasi masih terbuka untuk mencegah perang baru di kawasan Timur Tengah.
Harga minyak mentah AS turun hampir 2 persen dan ditutup pada level 96,35 dolar AS per barel. Sementara itu, minyak Brent sebagai acuan internasional melemah lebih dari 2 persen ke posisi 102,58 dolar AS per barel pada perdagangan Kamis, sebagaimana dilansir Cnbc International, Jumat (22/05/2026).
Penurunan harga ini dipicu meningkatnya harapan investor terhadap peluang tercapainya kesepakatan antara AS dan Iran. Sentimen pasar berubah setelah pemerintah AS dinilai masih mengedepankan jalur diplomasi ketimbang langkah militer.
Sebelumnya, harga minyak sempat melonjak lebih dari 3 persen usai laporan mengenai sikap Iran yang mempertahankan uranium hasil pengayaan tetap berada di dalam negeri. Kebijakan itu dinilai dapat memperumit proses negosiasi terkait program nuklir Iran.
Presiden AS Donald Trump mengatakan pemerintahannya masih memberikan waktu bagi upaya diplomasi sebelum mengambil langkah militer terhadap Iran. Trump juga menyebut rencana serangan udara sempat dibatalkan demi menjaga ruang negosiasi.
“Kami harus mendapatkan jawaban yang benar-benar memuaskan,” kata Trump kepada wartawan.
Trump menegaskan AS tetap membuka kemungkinan mengambil tindakan militer jika hasil perundingan dengan Iran tidak sesuai harapan. Pernyataan tersebut memperkuat persepsi pasar bahwa peluang penyelesaian damai masih terbuka, meski ketegangan geopolitik belum sepenuhnya reda.
Di sisi lain, pasar energi global tetap dibayangi risiko gangguan pasokan. Jalur pelayaran Selat Hormuz yang menjadi lintasan penting distribusi minyak dunia masih terdampak blokade Iran.
Badan Energi Internasional (International Energy Agency/IEA) memperingatkan pasar minyak dapat memasuki “zona merah” pada musim panas jika Selat Hormuz tidak segera kembali dibuka. Kondisi ini membuat arah harga minyak masih sangat bergantung pada perkembangan diplomasi dan stabilitas kawasan Timur Tengah ke depan. []
Penulis: Reni Erina | Penyunting: Redaksi01
