Hotel Bali Optimistis Okupansi Naik 12 Persen saat Puncak Liburan 2026
Situasi meeting di salah satu hotel di kawasan ITDC Nusa Dua Bali, Senin (20/12/2021)
GIANYAR – Pelaku industri perhotelan di Bali memproyeksikan lonjakan tingkat hunian kamar atau okupansi hotel sebesar 10 persen hingga 12 persen pada puncak musim liburan Juni hingga Juli 2026, meski sektor pariwisata masih dibayangi tekanan pelemahan rupiah, kenaikan harga avtur, dan persaingan global dalam menarik wisatawan.
Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Bali, Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati atau Cok Ace, menilai periode pertengahan tahun tetap menjadi momentum penting bagi kebangkitan industri pariwisata, terutama dengan potensi dominasi wisatawan mancanegara di tengah nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) yang menguat terhadap rupiah.
“Juni-Juli peak season. Biasanya naik okupansinya. Antara 10 persen sampai 12 persen,” kata Cok Ace saat ditemui di kawasan Taman Dedari, Ubud, Gianyar, sebagaimana dilansir Detikbali, Minggu, (24/05/2026).
Menurut Cok Ace, sejumlah persoalan masih memengaruhi laju sektor pariwisata Bali, mulai dari kenaikan harga avtur yang berdampak pada tiket penerbangan hingga fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Kondisi itu diperkirakan membuat wisatawan asing lebih mendominasi kunjungan karena memiliki daya beli lebih tinggi saat menukar mata uang ke rupiah.
“Karena kurs dolar sudah di atas Rp 17.000. Sehingga, dengan nilai tukar itu, mereka akan mendapat banyak rupiah. Walapun, mereka kena tekanan pada harga tiket,” kata Cok Ace.
Di tengah tantangan tersebut, tingkat okupansi hotel di Bali masih menunjukkan tren pertumbuhan. Pada kuartal I 2026, okupansi meningkat 2,4 persen dibandingkan periode yang sama pada kuartal I 2025.
Meski demikian, pelaku usaha hotel masih menahan kenaikan tarif kamar karena mempertimbangkan daya saing dengan pasar internasional dan kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya stabil.
“Harga belum bisa kami naikkan. Kami belum bisa bergerak. Kami harus kalkulasi,” katanya.
Persaingan industri perhotelan, kata Cok Ace, tidak hanya terjadi di dalam negeri, tetapi juga dengan destinasi luar negeri yang sama-sama berupaya menarik wisatawan.
“Karena, kompetitor kami di luar negeri, mereka juga berusaha menarik wisatawan ke daerah masing-masing,” katanya.
Sementara itu, hotel yang banyak bergantung pada wisatawan domestik masih menghadapi tantangan akibat berkurangnya perjalanan dinas pemerintah yang sebelumnya menjadi salah satu sumber okupansi.
“Kami tidak pernah memilih (tamu) asing atau domestik. Tapi sejak pemerintah mengurangi anggaran untuk perjalanan dinas, yang mana kami dahulu banyak bergantung dari kementerian dan lembaga negara lainnya, mengurangi kesempatan kami mendapat tamu domestik,” katanya.
PHRI Bali berharap lonjakan kunjungan wisatawan pada pertengahan tahun dapat menjaga pertumbuhan sektor perhotelan sekaligus menopang stabilitas industri pariwisata Pulau Dewata di tengah tekanan ekonomi global. []
Penulis: Aryo Mahendro | Penyunting: Redaksi01
