Pertamina Gandeng Petani Tebu Percepat Swasembada Energi Nasional
JAKARTA – Pertamina New & Renewable Energy (Pertamina NRE) memperkuat kolaborasi dengan petani tebu untuk mempercepat pengembangan bioetanol nasional sebagai bagian dari upaya mendukung swasembada energi Indonesia. Langkah tersebut dinilai penting guna memperkuat ketahanan energi sekaligus mengurangi ketergantungan impor bahan bakar berbasis fosil.
Komitmen itu disampaikan Direktur Utama (Dirut) Pertamina NRE, John Anis, dalam Rapat Kerja Nasional Dewan Pimpinan Nasional (DPN) Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) pada Senin (25/05/2026).
Dalam pengembangan industri bioetanol, ketersediaan feedstock atau bahan baku menjadi salah satu faktor utama. Pertamina NRE menilai molases atau tetes tebu memiliki potensi besar sebagai bahan baku produksi bioetanol nasional.
“Hubungan dengan petani tebu harus terus dijaga karena dari situlah kita mengembangkan feedstock bioetanol. Tantangannya adalah bagaimana menghadirkan bahan bakar nabati yang terjangkau, tetapi tetap memberikan nilai ekonomi yang baik bagi petani,” ujar John Anis, sebagaimana dilansir Jpnn, Rabu (27/05/2026).
Menurutnya, pengembangan bioetanol di Indonesia masih menghadapi sejumlah tantangan, terutama terkait aspek keekonomian dan kepastian pasar. Karena itu, dibutuhkan dukungan lintas sektor mulai dari pemerintah, industri, hingga petani agar ekosistem bioetanol dapat berkembang secara berkelanjutan dari hulu hingga hilir.
Pemerintah melalui Kementerian Koordinator (Kemenko) Bidang Pangan juga mendorong penguatan tata kelola sektor hulu guna meningkatkan produktivitas tebu nasional. Langkah tersebut diharapkan mampu menciptakan pasokan molases yang lebih kompetitif untuk mendukung industri energi terbarukan.
Asisten Deputi Peningkatan Daya Saing Produk Perkebunan dan Hortikultura Kemenko Bidang Pangan, Radian Bagiono, mengatakan pemerintah akan memperkuat dukungan terhadap sektor pertanian tebu melalui pembenahan distribusi pupuk dan pengairan.
“Pemerintah akan membantu melalui perbaikan tata kelola pupuk hingga penguatan sektor pengairan agar produksi tebu dapat meningkat. Namun, kami juga membutuhkan dukungan dari asosiasi dan para petani agar program ini dapat berjalan dengan baik,” ujar Radian.
Sementara itu, Ketua Umum (Ketum) APTRI, Soemitro Samadikoen, menyambut positif rencana penerapan mandatory blending bioetanol yang dinilai mampu membuka peluang pasar baru bagi petani tebu nasional.
“Ini yang penting bagaimana mekanisme harga bisa diterima dan memberikan kepastian bagi petani tebu,” ujar Soemitro.
Selain memperkuat pasokan bahan baku, Pertamina NRE juga terus mendorong pembentukan mekanisme harga yang seimbang bagi petani maupun konsumen bioetanol. Upaya tersebut dilakukan melalui koordinasi bersama pemerintah untuk menciptakan industri bioetanol yang berkelanjutan dan memiliki daya saing.
“Diperlukan kolaborasi serta dukungan yang kuat antara pemerintah, industri, petani, dan seluruh pemangku kepentingan agar pengembangan bioetanol dapat berjalan optimal. Dengan dukungan yang tepat, bioetanol dapat menjadi salah satu pilar penting dalam mewujudkan kedaulatan energi nasional,” tutup John. []
Penulis: Dedi Sofian | Penyunting: Redaksi01
