Pertamina dan Pupuk Indonesia Kaji Teknologi CCS untuk Amonia Rendah Karbon
JAKARTA – Upaya percepatan transisi energi rendah karbon di Indonesia memasuki fase kolaborasi baru setelah PT Pertamina Hulu Energi (PHE) bersama PT Pertamina (Persero), PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN), dan PT Pupuk Indonesia (Persero) menyepakati kajian bersama pengembangan teknologi Carbon Capture and Storage (CCS) untuk mendukung produksi amonia rendah karbon melalui penandatanganan Joint Study Agreement (JSA).
Kesepakatan tersebut diteken di sela Indonesia Petroleum Association Convention and Exhibition (IPA Convex) sebagai langkah strategis lintas sektor untuk menghubungkan industri pupuk yang menghasilkan emisi karbon dioksida (CO₂) dengan infrastruktur penyimpanan karbon yang dimiliki sektor hulu minyak dan gas bumi.
Melalui skema ini, emisi CO₂ dari fasilitas produksi amonia milik Pupuk Indonesia dan entitas afiliasinya akan ditangkap, kemudian dialirkan melalui sistem transportasi karbon untuk diinjeksikan ke formasi geologi bawah permukaan yang berpotensi menjadi lokasi penyimpanan karbon permanen (carbon sink) di wilayah kerja Pertamina.
Studi bersama tersebut akan mencakup seluruh rantai nilai CCS, mulai dari teknologi penangkapan emisi di fasilitas industri, sistem transportasi karbon yang efisien, hingga proses injeksi ke reservoir bawah tanah. Kajian ini juga akan menilai potensi pengembangan fasilitas amonia rendah karbon pada aset eksisting milik Pupuk Indonesia dan afiliasinya.
Wilayah Jawa Barat dan Jawa Timur menjadi fokus awal kajian karena dinilai memiliki kedekatan dengan pusat industri serta struktur geologi yang mendukung implementasi penyimpanan karbon skala besar.
Direktur Investasi dan Pengembangan Bisnis PT Pertamina Hulu Energi (PHE), Dannif Utojo Danusaputro, menegaskan bahwa inisiatif ini menjadi langkah penting dalam membangun ekosistem CCS terintegrasi di Indonesia.
“Kerja sama lintas sektor ini menunjukkan komitmen bersama dalam menghadirkan solusi dekarbonisasi yang nyata untuk industri strategis nasional. Sinergi ini diharapkan dapat membuka peluang pengembangan CCS yang lebih luas sekaligus mendukung target net zero emission Indonesia,” ujar Dannif sebagaimana diwartakan Sumber Berita, Friday, (22/05/2026).
Penandatanganan Joint Study Agreement (JSA) melibatkan Senior Vice President Technology Innovation & Implementation Pertamina, Hana Timoti; Direktur Investasi dan Pengembangan Bisnis PHE, Dannif Utojo Danusaputro; PTH Direktur Strategi dan Pengembangan Bisnis PGN; serta Direktur Teknik dan Pengembangan Bisnis Pupuk Indonesia, Jamsaton Nababan.
Dokumen kerja sama tersebut turut disaksikan oleh Vice President Business Support Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas), Firera; Wakil Direktur Utama Pertamina, Oki Muraza; serta Direktur Utama PHE, Awang Lazuardi, yang menegaskan dukungan terhadap pengembangan ekosistem karbon nasional.
Senior Vice President Technology Innovation & Implementation Pertamina, Hana Timoti, menyebut bahwa studi ini menjadi bagian dari strategi perusahaan dalam memperluas implementasi teknologi rendah karbon di sektor industri.
“Studi bersama ini merupakan wujud sinergi antarentitas dalam Pertamina Group dan mitra strategis nasional untuk mengembangkan rantai nilai karbon yang terintegrasi. Melalui pemanfaatan teknologi CCS, kami berharap dapat mendukung pengembangan produk rendah karbon seperti amonia, sekaligus memperkuat daya saing industri nasional dalam menghadapi transisi energi global,” kata Hana.
Ke depan, kolaborasi ini diharapkan mampu mempercepat komersialisasi CCS di Indonesia serta memperkuat posisi nasional dalam rantai pasok energi rendah karbon di kawasan Asia Tenggara. PHE juga menegaskan bahwa seluruh pengembangan bisnis dijalankan dengan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) serta penerapan Sistem Manajemen Anti Penyuapan (SMAP) berbasis ISO 37001:2016 untuk memastikan tata kelola yang bersih dan berkelanjutan. []
Penulis: Arie Liliyah | Penyunting: Redaksi01
