Libur Iduladha Belum Dongkrak Okupansi Hotel di Bantul

BANTUL – Libur panjang Iduladha 1447 Hijriah belum mampu mendongkrak tingkat hunian hotel di Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Pelaku usaha perhotelan mencatat okupansi kamar masih bertahan di kisaran 50 persen meski arus wisatawan mulai meningkat di sejumlah destinasi wisata.

Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kabupaten Bantul Yohanes Hendra mengatakan lonjakan pemesanan kamar yang biasanya terjadi saat musim libur nasional belum terlihat pada periode Iduladha tahun ini.

“Okupansi hotel saat libur Iduladha ini masih landai-landai saja, belum menimbulkan lonjakan permintaan akomodasi,” kata Hendra sebagaimana diwartakan KabarJawa, Kamis (29/05/2026).

Menurut Hendra, kondisi tersebut dipengaruhi perubahan pola pengeluaran masyarakat yang lebih memprioritaskan kebutuhan ibadah kurban dan persiapan tahun ajaran baru dibanding agenda wisata maupun menginap di hotel.

“Pengeluaran masyarakat cenderung terserap untuk ibadah kurban atau memenuhi kebutuhan pendaftaran sekolah anak terlebih dahulu, sehingga mereka menahan diri untuk bepergian,” ujarnya.

Pria yang juga menjabat General Manager (GM) Little Tokyo itu menilai situasi ekonomi keluarga membuat masyarakat lebih selektif dalam mengatur anggaran liburan.

Meski terjadi sedikit peningkatan dibanding hari biasa, rata-rata okupansi hotel di Bantul saat ini masih berada di sekitar 50 persen dan belum mencapai target yang diharapkan pelaku industri perhotelan selama musim libur panjang.

Di sisi lain, aktivitas wisatawan di sejumlah kawasan unggulan seperti Pantai Parangtritis, wilayah selatan Bantul, hingga area penyangga Kota Yogyakarta mulai menunjukkan peningkatan. Namun, pergerakan wisatawan tersebut belum berdampak signifikan terhadap tingkat pemesanan hotel.

Sebagian wisatawan disebut lebih memilih perjalanan singkat tanpa menginap atau menggunakan penginapan alternatif dengan tarif yang lebih terjangkau.

Selain minimnya lonjakan wisatawan menginap, industri hotel di Bantul juga menghadapi penurunan pendapatan akibat berkurangnya kegiatan instansi pemerintah di hotel.

Selama ini, agenda rapat, pelatihan, seminar, dan kegiatan kedinasan menjadi salah satu sumber utama okupansi hotel, terutama pada hari kerja. Ketika kegiatan tersebut berkurang, pemasukan hotel ikut terdampak.

“Ditiadakannya kegiatan-kegiatan pemerintah di hotel cukup berpengaruh bagi kami. Alhasil, saat ini kami hanya bisa mengandalkan kunjungan murni dari wisatawan luar daerah saat momen libur seperti ini,” ungkap Hendra.

Menghadapi kondisi tersebut, sejumlah hotel mulai menawarkan promo keluarga, paket liburan hemat, hingga potongan harga menginap guna menarik minat wisatawan domestik.

Pelaku usaha hotel di Bantul kini berharap momentum libur sekolah pertengahan tahun dapat menjadi pendorong kebangkitan sektor perhotelan dan meningkatkan okupansi secara lebih signifikan dalam beberapa bulan ke depan. []

Penulis: Redaksi | Penyunting: Redaksi01

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *